The Another Soul

The Another Soul
Ch. 75 [Lengah]



We’ve spent our lives in shadows


Good people


Off the radar


I see you now


As the pressure builds


The doubts I had, looking back~


I didn’t understand your reason


You always asked me every season


When all the madness is all over


What is…~


"Bisa ganti lagunya? Orga."


Yang disebut namanya itu pun menoleh ke arah kiri. Kemudian ia tersenyum kecil "Selera lagumu memang berbeda, Rakka."


Rakka yang sebelumnya menegur Orga hanya karena sebuah lagu yang diputar di dalam mobil. "Lihat kebelakang" ucapnya sembari menoleh kebelakang.


Orga mengikuti Rakka. Ia ikut menoleh sedikit ke belakang. Kemudian ia tertawa kecil dan kembali fokus ke depan "Mereka tertidur."


Tangan kanan Rakka bergerak untuk mematikan musik "Mereka kelelahan."


Orga melirik Rakka "Bahkan Fahrez yang seorang Demi-human bisa kelelahan juga, huh?"


"Terus, kau sebagai Vampire tidak pernah merasakan kelelahan, hm?" balas Rakka.


Orga terlihat berpikir sebentar, kemudian menjawab "Hmm... Sepertinya pernah."


"Baguslah" ucap Rakka.


Setelahnya ia bersender ke belakang-- membuat dirinya senyaman mungkin. Walaupun jalan yang mereka tempuh tidaklah mulus alias berbatu dan tanah basah yang sulit untuk dilalui.


Tapi tenang saja. Mobil yang dipilih oleh Orga adalah mobil  fortuner yang bisa dipakai pada keadaan seperti ini.


Dan Orga sedikit takjub dengan Sergio yang tidur dengan lelap. Seakan-akan tidak memperdulikan jalan yang rusak itu.


"Hei Rakka" panggil Orga.


"Hm?" Rakka menjawab dengan gumaman.ia saat ini tengah berada di posisi ternyamannya. Dengan kedua tangan bersedekap dada, serta kepala yang bersender di kaca.


"Kau yakin kita akan pergi ke hutan Silvam?"


Rakka terdiam. Ia terlihat melamun sesaat. Tapi detik selanjutnya ia menghela nafas dengan kasar. "Kau mendengar permintaannya. Untuk apa kau bertanya lagi?"


Orga terkekeh "Aku hanya memastikan. Kau tahu bukan? Hutan itu selalu saja membuat banyak masalah untuk anggotaku."


Rakka mengangguk mengerti "Hal yang bagus, sekarang. Bukan anak buahmu lagi yang mengurusi mereka, tapi pemimpinnya langsung."


Orga merasa ingin tertawa sekarang "Kau benar."


Netra merah ruby itu menatap ke depan. Sekeliling mereka sangatlah gelap karena sudah memasuki malam hari. Belum lagi langit tidak menunjukkan bulan dan hanya ada bintang-bintang yang bersinar redup.


"Umm... Kau tidur?" Tanya Orga.


Hening.


Kemudian Orga melirik ke arah Rakka. Dan benar saja.


Orga terkekeh pelan "Baiklah. Aku sendirian saat ini. Tidak ada yang menemani, jahat sekali."


Rakka sudah tertidur dengan kedua tangan yang bersedekap dada. Belum lagi Sergio dan Fahrez yang juga tidur di belakang.


Kasihan, ditinggal seorang diri.


Netra merah ruby itu memperhatikan kiri dan kanan dari jalan yang terlihat tak berbentuk ini lagi.


Sebenarnya Orga merasakan beberapa gerakan yang terjadi di hutan Silvam.


Ada sedikit cerita tentang hutan ini.


Hutan Silvam, sebuah hutan dengan beribu kisah yang semuanya bisa di katakan adalah kisah yang mengerikan.


Katanya. Jika ada seseorang yang memasuki hutan ini, tidak ada yang bisa keluar dengan hidup.


Orga yang awalnya mendengar kisah ini waktu itu tertawa, tapi setelah dirinya meminta beberapa anak buahnya tak kunjung kembali setelah mengunjungi hutan Silvam. Orga mulai mempercayainya.


Dan baru kali ini ia memasuki hutan Silvam. Tentu saja yang diceritakan barusan adalah kisah dari ratusan tahun yang lalu. Untuk sekarang, Orga telah mengetahui alasannya.


Yang pertama adalah-- monster. Keberadaan mosnter di hutan Silvam bisa disebut dengan satu kata 'Mengerikan'.


Tingkat paling rendah dari monster-monster yang ada di hutan Silvam adalah B dan sisanya adalah Tingkat A, S, SS, SSS, dan Mysterious.


Itu yang pertama. Kemudian yang kedua adalah Pasar Gelap yang selalu ada semenjak hutan ini ada.


Tidak diketahui bagaimana bisa ada pasar gelap di dalam hutan yang di mana banyak monster berkeliaran dengan bebasnya. Tapi yang pasti, pasar gelap yang ada di dalam hutan Silvam selalu ramai.


Itulah informasi yang diketahui oleh Orga.


Kemudian pasar gelap ini dibagi menjadi empat. Yaitu pasar gelap Utara, Barat, Timur, dan Selatan. Dan di setiap pasar, berbeda-beda pula.


Contohnya Pasar gelap bagian Utara. Disana menjual berbagai macam alat sihir illegal dan ramuan-ramuan yang terlihat aneh tapi kuat. Di katakan pada pasar utara dapat ditemukan seorang Wizard yang sudah berumur lebih dari 1.000 tahun.


Kemudian Pasar gelap bagian Barat. Disini adalah tempatnya para Dwarf bekerja. Tempat dimana senjata dibuat dengan para Dwarf yang ahli dan juga beberapa material yang bisa di jadikan bahan untuk senjata atau alat sihir.


Selanjutnya Pasar gelap Bagian Timur. Sebuah pasar yang menjual bangkai monster dan lainnya. Dan tentu saja semuanya berhubungan dengan monster yang sudah mati, maupun yang masih hidup.


Tentu saja yang sudah mati bisa diambil bagian taring hal lainnya yang berguna. Kemudian yang hidup bisa di jadikan peliharaan (jika jinak) dan yang berbahaya akan di jadikan bahan latihan.


Contohnya adalah Griffin milik Rakka dan monster yang ada di akademi untuk pelatihan di setiap Class.


Dan terakhir adalah Pasar gelap bagian Selatan. Pasar paling ramai dari ketiga pasar yang ada. Dan juga pasar paling besar dari ketiganya.


Disini mereka menjual yang namanya Budak.


Seorang Budak Manusia, Demi-human, Elf, Orc, Half-beast, Dwarf, dan berbagai ras lainnya.


Itulah mengapa Pasar gelap bagian selatan adalah pasar paling besar dari ketiga pasar lainnya.


Budak merupakan sebuah kebutuhan bagi para bangsawan yang tinggal di dunia Egolas ini.


Tentu saja banyak peminatnya.


Tak terhitung berapa banyak seseorang yang berakhir menjadi budak di hutan silvam ini. Dan juga berapa banyak orang yang mati di dalam hutan Silvam ini.


Bagaimana? Kisah yang menarik?


Oh, dan ada sedikit rumor di dalam hutan Silvam.


Katanya, setiap kali ada yang memasuki hutan Silvam. Seseorang itu akan merasa ada yang memperhatikan setiap gerak-gerik yang ada.


Dan hal ini sudah menjadi cerita turun-temurun bahwa-- ada seseorang yang menjaga hutan Silvam.


Entah itu benar atau apa, tapi....


"Kau merasakannya?"


"Huwaaa....!!"


Orga tersentak kaget ketika mendengar suara serak yang ketahuan habis bangung tidur. Orga melirik kebelakang "Bisa jangan mengagetkanku di tengah malam ini! Kau membuatku jantungan!" setelahnya Orga mengelus dada dengan sabar.


Si pelaku-- Sergio yang baru saja bangun tidur itu memutar bola nata jengah "Kau itu Vampire. Bagaimana bisa kau terkejut karena aku bertanya?"


"Jangan bawa-bawa ras! Itu menyebalkan."


"Ck! Apalagi yang kalian debatkan kali ini?! Aku mau tidur!"


"Oh, kau sudah bangun, putri tidur?" cibir Orga.


Fahrez yang bangun karena mendengar suara keributan berdecak kesal. "Ada apa?" Tanya Fahrez sembari menguap.


"Aku merasakan-"


"Kau merasakan ada yang memperhatikanmu bukan?"


Sergio menatap ke arah depannya-- tempat dimana Rakka duduk. Kemudian Sergio sedikit bergeser untuk menatap Rakka langsung. "Ya. Apa kau juga merasakannya?"


Rakka-- ia masih bersender ke kaca mobil dengan kedua tangan yang bersedekap dada, kedua matanya masihlah tertutup. "Aku sudah merasakannya sedari awal kita masuk."


"Hoaammm.... Aku juga sudah merasakannya" ucap Fahrez yang masih menguap karena waktu tidurnya terganggu.


"Aku pun" ucap Orga yang sudah kembali fokus ke depan.


Sergio mengeryitkan keningnya "Tunggu. Aku juga merasakannya, tapi bukan yang itu."


"""Hah?"""


"Jangan bilang kalian.... Tidak merasakannya?"


Mereka bertiga saling pandang sejenak. Selanjutnya mereka bertiga menggeleng pelan, tanda mereka pun juga tidak merasakannya.


"Tunggu. Kau juga mengetahui sedari awal kita diperhatikan?" Tanya Fahrez.


Sergio mengangguk "Ya. Aku merasakannya, tapi yang ini berbeda."


"Berbeda? Maksudmu?" Tanya Orga yang butuh penjelasan lebih.


Netra hitam Sergio menatap Rakka yang mulai menatapnya dengan serius. "Aku juga tak tahu. Apa kalian bisa menggunakan sihir yang bisa mendeteksi keberadaan seseorang yang baru saja ikut memperhatikan kita kali ini?"


"Biar aku-"


"Tunggu!"


CITTT...


Sergio terbentur kursi depan ketika Orga tiba-tiba saja memberhentikan mobil secara mendadak.


"Oh shit! Apa yang-"


"Ssttt....!"


Orga menyuruh Fahrez untuk diam. Orga pun juga mematikan mesin mobil dan menatap lurus kedepan.


Fahrez yang merasa aneh dengan tingkah laku Orga pun ikut menatap lurus kedepan. Setelah mengetahui apa yang ada di depan sana, Fahrez tersenyum miring.


"Kenapa dia bisa ada di sini?" Gumam Fahrez pelan. Seakan-akan takut terdengar dari makhluk yang berdi- bukan, melayang di udara itu.


Rakka kemudian berbisik "Dia tidak akan membuat masalah dengan kita bukan?"


Orga yang mendengarnya kemudian membalas "Sudah pasti dia akan membuat masalah untuk kita."


"Kalau begitu kita bersiap, Fahrez kau lindungi Sergio dan-"


"Rakka! Lihat Sergio?!" Ucap Fahrez yang terdengar panik.


Rakka yang sebelumnya ingin memberikan intruksi tiba-tiba saja dipotong dengan nada kepanikan dari Fahrez. Dengan cepat, Rakka dan Fahrez ikut menoleh kebelakang.


"Ah sial!" ucap Orga.


Saat ini Sergio terlihat seperti patung. Ia menatap nanar sebuah makhluk yang melayang dengan tenang di udara. Sebenarnya bukan karena terkejut, tapi saat ini Sergio sedang mengingat suatu hal.


Sebuah ingatan yang bagaikan kaset rusak itu memenuhi pikirannya.


'Kenapa kau menahanku! ILKAVIUS!!'


Seorang pria berambut coklat tua yang menahan seseorang yang memiliki warna rambut yang senada tapi panjang itu menggigit bibirnya hingga berdarah.


Matanya menatap sendu seseorang yang dirinya tahan untuk tidak mendatangi seseorang yang sedia untuk berkorban.


'Jangan... Jangan sia-siakan pengorbanan Gerna.'


'Kau pikir jika Gerna pergi kita akan menang! Jangan naif Ilka! Sekarang. Lepaskan aku dan biarkan aku pergi mengikut-'


'MATUA!'


Mendengar suara bentakan dari seseorang yang biasanya bersikap lembut itu. Mampu membuat seseorang itu terdiam membeku.


Matanya kembali menyendu 'Kumohon. Biarkan Gerna pergi.'


Seseorang yang disebut Matua itu menatap kosong tempat kepergian Gerna-- sahabat terdekatnya.


'Kenapa?' suara itu terdengar pelan. Setelahnya ia menatap penuh amarah ke arah belakangnya dan mengatakan suatu hal sambir berteriak kencang, seperti melampiaskan amarahnya.


'Kenapa harus Gerna yang menanggungnya?! BUKANKAH KAU YANG MEMBUAT MASALAH! HEROIA!!'


Bzzztt...


PLAK....!


"Sergio!!"


Tersentak, Sergio seperti kembali ke dunia nyata ketika ia merasakan sebuah tamparan di bagian pipi kanan-nya. Tamparan itu terasa panas dan juga ia merasa ada darah yang mengalir dari pelipisnya dan juga lengan atas kanan.


Ia terluka.


"Sudah sadar?"


"Orga?" Tanya Sergio yang terlihat linglung.


Orga segera menarik pergelangan tangan Sergio. "Ayo cepat berdiri. Kita harus pergi dari sini sebelum-"


BRUKK....!


"Fahrez!"


Sergio terkejut ketika dirinya melihat Fahrez yang terlempar entah darimana yang kemudian berakhir di sebuah pohon.


'Tunggu. Ada apa ini?' pikir Sergio.


Ia merasa bahwa dirinya sudah melewatkan suatu hal yang penting. Dirinya masih merasa pusing dengan ingatan yang tiba-tiba saja datang. Kemudian, setelah dirinya sadar, ada kejadian yang membuatnya bingung.


Bukankah sebelumnya ia berada di dalam mobil dan Orga memberhentikan mobil karena ada sebuah makhluk yang menghad-


Makhluk?


Kedua mata Sergio membelalak.


GROAAAW....!


Suara raungan yang memekakkan telinga itu terdengar. Hal itu terjadi karena ada sebuah rantai yang dilapisi oleh api melilit tubuh panjangnya, dan juga ada rune sihir di atas kepala si makhluk.


Selanjutnya yang terjadi adalah ribuan anak panah bewarna perak keluar dari rune sihir dan menyerang secara beruntun ke arah kepala sang makhluk.


"Kau sudah melihatnya? Sekarang ayo kita lari dan-"


"Ini salah."


Orga yang sebelumnya ingin menarik tangan Sergio berhenti "Apa?"


Sergio dengan cepat menatap Orga tepat di matanya "Ini salah Orga! Dia..." Sergio menunjuk Makhluk itu dengan tangan sedikit bergetar. "Dia tidak akan melakukan apapun padaku!"


"Apa maksudmu?" Tanya Orga dengan bingung.


Jujur saja. Sergio pun juga ikut bingung. Dirinya tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. Tapi yang pasti, makhluk yang ada di penglihatannya ini tidaklah jahat.


Jika kalian penasaran makhluk apa yang menyerang mereka. Jawabannya adalah sebuah makhluk legenda yang sudah punah dan makhluk paling agung dan terkuat yang pernah ada.


Ini kali keduanya Sergio melihatnya.


Pertama, ketika berduel dengan Dewi Bishamon.


Kedua, saat ini. Di depan matanya sendiri, ia melihat sebuah makhluk agung yang menggeliat untuk membebaskan diri dari rantai api yang mengikat dirinya.


"Naga itu." Sergio menelan air liurnya dengan gugup "Mencariku."


KRANGG...!


SYUHH....!


Terlalu cepat.


Bahkan Fahrez dan Orga yang berada paling dekat dengan Sergio tak bisa mengalahkan kecepatan dari sang Naga.


Sergio berhasil di ambil oleh sang naga menggunakan mulutnya. Dengan tubuh penuh luka, naga itu pergi menjauhi ketiga pelayan yang masih terdiam karena terkejut dengan kepergian naga yang begitu cepat.


Fahrez yang menyadarinya pertama kali "Apa?! TUNGGU! SERGIO!"


Ketika Fahrez ingin mengejarnya, ada sebuah tangan yang menghentikan dirinya.


"Tunggu Fahrez. Kita tak bisa pergi."


Fahrez berhenti. Ia kemudian menatap si pelaku "Apa maksudmu Rakka?"


Rakka yang baru saja berlari untuk mendatangi mereka berdua mengambil nafas dalam kemudian mengeluarkannya. "Kita tak bisa keluar. Kita terkepung."


"Hah?"


"Ck! Apa ada yang sudah merencanakannya?" cibir Orga yang tiba-tiba saja kedua mata itu bersinar redup dalam kegelapan malam. Kuku milik Orga memanjang dan berubah warna hitam.


"Aku tak tahu" Rakka mengambil ikat rambut miliknya di dalam saku. Kemudian mengikat rambutnya menjadi ponytail. "Tapi yang pasti. Orang itu sengaja memisahkan kita dari Sergio."


BUK...!


Fahrez menyatukan tinju miliknya satu sama lain, terlihat bersemangat dengan senyuman miring andalannya. "Hah! Entah kenapa aku merasa bersemangat!"


GROAARR...!


GRRHH....!


Di hadapan mereka saat ini. Ada begitu banyak monster dari berbagai macam bentuk, warna, dan kekuatan.


Jika dihitung bisa mencapai ribuan dalam radius 1 kilometer.


Entah apa yang terjadi, tapi yang pasti 3 orang vs ribuan monster yang menjadi ganas.


Mari kita membuktikan kekuatan dari ketiga pelayan ini.


.


.


.


.


.


.


.


SYUHHH....


Untuk Sergio. Saat ini dirinya merasa mual dan pusing.


Bayangkan saja dieinya dibawa dengan mulut sang naga yang mengapit tubuh kecilnya ini. Belum lagi kecepatan sang naga yang tidak main-main.


Rasanya jiwa Sergio terbang terbawa angin.


Saat ini dirinya masih dibawa terbang oleh sang Naga. Dan tidak dilupakan bahwa Sergio merasa sesak nafas karena kekurangan oksigen.


Dirinya merasa.... Bodoh.


Kenapa dirinya diam saja saat Naga ini menerkam dirinya. Padahal ia bisa melihat pergerakan naga yang memang ingin menerkamnya!


Entah apa yang di pikirkan Sergio, tapi Sergio memang suka sekali mencari masalah.


Dirinya kemudian menatap kebawah. Ia melihat sebuah bebatuan yang di tengahnya terdapat aliran air yang sangat deras. Ia melihat bayangan dirinya, walau dari kejauhan.


Tiba-tiba saja.


"....!!"


Mulut sang Naga membuka. Tentu saja hal ini membuat tubuh Sergio turun dan terlihat ingin terjun bebas dari ketinggian.


"Tu-tunggu! Ap- WAAAAAAHHH!!!"


Dia terjatuh. Terjatuh begitu saja tanpa alat yang bisa membantunya melayang di udara.


Ia kemudian menatap kebawah, tempat mendaratnya.


Setelah ia tahu tempat jatuhnya. Jantung Sergio berasa berdetak dua kali lebih cepat. Wajah Sergio pun ikut pucat.


Ia melihat air di bawahnya.


Dan Sergio takut akan hal itu.


Kenapa?


Jawabannya mudah.


Sergio tak bisa berenang.


BYURR....!


Sergio akhirnya sampai di dalam air dengan punggung yang mendarat duluan. Seketika rasa nyeri menyerang dari punggung serta kepalanya.


Setelah merasa cukup, Sergio mencoba untuk Berenang ke darat.


Tapi tak bisa.


Sudah kukatakan.


Sergio tak bisa berenang.


Sebuah kesialan yang tidak Sergio duga.


Sergio mulai bergerak tak beraturan. Dirinya masihlah mencoba untuk berenang ke permukaan tapi hasilnya dirinya malah tambah tenggelam.


'Sial! Sial, sial, sial, sial!'


Blupp...blupp...


Gelembung-gelembung udara mulai keluar dari mulut dan hidungnya. Dengan cepat Sergio menutup mulut dan hidungnya.


Tapi terlambat.


Ia mulai merasa sesak. Ia tak bisa bernafas di dalam air ini. Ia merasa paru-paru miliknya dipenuhi dengan air dan ada sebuah tekanan di seluruh tubuhnya.


Rasanya sangatlah menyiksa.


Pada akhirnya tubuh Sergio melemah dengan sendirinya.


Blup...blup....blup...


Gelembung-gelembung udara itu semakin banyak. Kening Sergio semakin mengerut karena rasa sesak nafas ini sungguh sangat menyiksa baginya.


Sampai pada akhirnya Sergio memilih menyerah dalam kegelapan.


Dan tiba-tiba saja sebuah ingatan masa kecil mulai memasuki pikirannya.


'Lihat? Siapa yang terlihat dewasa sekarang? Aku bukan?'


Dalam sisa kesadarannya. Sergio tersenyum kecil.


'Mira.'


KRAKK....KRAK....


Sebuah membran tipis bewarna biru pucat melingkupi tubuh Sergio dan tak lama kemudian berbentuk bulat, seperti melindungi tubuh Sergio dari air.


Dan tiba-tiba saja sebuah pedang bewarna hitam keluar dari gelang yang ada di tangan kanan-nya.


Alat sihir milik Rakka yang dipinjamkan untuk Sergio.


Sebuah pedang bewarna hitam gelap itu bersinar keperakan dalam redup.


Kemudian meledaklah aura gelap yang terasa berbahaya menguar dalam radius 200 meter.


Karena hal ini, seluruh monster yang berada dalam radius itu pergi melarikan diri dikarenakan aura yang sangatlah menakutkan.


Dengan keadaan tidak sadar, Sergio hanya bisa menunggu seseorang untuk menyelamatkan dirinya.


Dan tentu saja harapan Sergio terkabul di pagi harinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author Note:


Yo?


Kalau ada yang protes "Kenapa cuman 1 chapter aja kak up nya?"


Chapter ini adalah chapter paling panjang kedua yang Rai tulis.


2000 kata lebih.


Jadi dalam 1 chapter ini sama seperti 2 chapter.


Oke.


Oh ya, yang Rai tulis di bagian lagu itu judulnya The Answer-Sawano Hiroyuki ft Laco. Salah satu ost dari anime 86 (Eighty-Six).


Oke, segini dulu.


Adios!


2. 645 kata