The Another Soul

The Another Soul
Ch. 6



"....Gio..."


Hm? Siapa yang memanggilku.


"Sergio!"


Aku merasa ada tangan yang menyentuh bahuku dengan keras. Tangannya meremas bahuku.


Dan itu sakit.


Aku membuka mataku secara perlahan. Dan yang pertama kali kulihat adalah wajah Rakka yang menatapku khawatir.


"Hahh... Syukurlah."


Rakka menghela nafas lega. Aku menatapnya bingung.


"Gara-gara kamu terlalu cepat membangkitkannya semua jadi seperti ini."


"Seperti.... Ini?"


Aku tak paham dengan maksud Rakka.


Tenggorokan ku terasa kering, dan tubuhku rasanya seperti... Entahlah. Aku merasa sakit dibagian tertentu.


"Rakka.... Air."


Suaraku bahkan terdengar parau dan pelan. Berapa hari aku tak minum air.


"Huh? Tunggu sebentar. Akan aku ambilkan."


Dengan cepat Rakka pergi ke dapur. Dia bahkan berlari.


Aku tak melihat Fahrez disini. Dimana dia. Aku menatap sekeliling kamarku. Tidak ada perubahan berarti, tapi aku melihat jendela yang terbuka lebar.


Dan aku tahu mengapa Fahrez tidak berada disini.


Apa yang kulihat sekarang terlalu... Entahlah. Aku bingung menjelaskan apa yang kulihat. Tapi intinya ada dua orang yang bergerak cepat. Aku bahkan hanya bisa melihat sekelebat bayangan lewat saja, tapi aku tahu yang mana Fahrez. Jaket kulit hitamnya terlalu mencolok.


Ketika aku ingin bangun dari tempat tidur, aku tak bisa bergerak. Aku mengangkat tanganku, tetap tak bisa. Karena rasa penasaran aku mengangkat kepalaku pelan. Aku melihat rantai putih yang mengikat tanganku. Kemudian aku beralih ke kaki, aku melihat hal yang sama.


"Ada apa ini?"


"Jangan bangun dulu."


Rakka datang dengan segelas air di tangannya. Dia dengan cepat berada disebelahku. Kemudian dia duduk, di kursi meja belajarku.


Aku menatapnya. Lagipula aku tak bisa bangun kalau tangan dan kakiku terikat seperti ini.


"Bisa kau lepaskan?"


Rakka terdiam.


"Kau tahu, aku mulai kesal dengan kalian berdua. Kalian dengan seenaknya masuk ke dalam kamarku. Dan yang kulihat kalian berdua disini hanyalah membuat masalah. Kalian tidak memberikan penjelasan apapun padaku, apa yang terjadi ketika kalian membakar foto dan apa yang kulihat di dalam mimpi."


Rakka terkejut. Dia memasang ekpresi terkejut sekaligus takut. Aku tak tahu dia takut kenapa.


"Jadi bisakah kau lepaskan rantai ini? Aku ingin penjelasan baik-baik."


Rakka menatapku. Arti tatapannya tak jelas. Tapi yang kulihat adalah dia ragu kepadaku.


"Sebelum itu" Rakka bicara. "Siapa namamu."


Hah? Dia tidak bercanda bukan?


"Kata Fahrez dia sudah tau siapa aku. Untuk apa memberitahu namaku."


"Hanya memastikan."


Aku menatapnya. Rakka juga balik menatapku. Ada apa ini? Ini semakin membingungkan.


Karena tak ingin memperpanjang masalah, aku mulai mengenalkan diriku.


"Namaku Sergio Vandelhein. Seorang siswa SMA penyendiri, tak memiliki orang tua, dan hanya orang tak menarik. Puas."


Rakka mengangguk puas. "Oke, kamu bersih."


Rantai yang sebelumnya mengikatku menghilang. Dengan cepat aku bangun dan meregangkan tubuhku. Rasanya badanku remuk semua.


Entah kenapa terasa de javu.


"Hahh..... Leganya. Sekarang, bisa jelaskan apa yang terjadi. Fahrez dan Rakka."


Rakka melihat ke arah jendela. Di sana, Fahrez sedang duduk sambil memandang langit. Sesekali dia bersiul, dan aku rasa dia sedang merasa senang.


"Hm? Kamu ingin penjelasan. Aku bukan orang yang tepat, tanyakan saja pada Rakka. Dia tau lebih banyak daripada aku."


"Tidak. Aku ingin penjelasan dari kalian berdua. Kalian sudah banyak membuat masalah, sekarang tanggung jawab."


Fahrez menatapku. Kemudian dia menatap Rakka. Rakka yang melihatnya hanya mengangguk kecil.


"Oke" Fahrez melompat masuk ke kamar. "Penjelasan macam apa yang kamu inginkan."


"Penjelasan dari awal. Dari hutan gelap, dan kau yang mengejarku di belakang hari itu."


"Oh, kejadian 3 hari yang lalu."


"Ya, kejadian 3 har-"


Tunggu. Aku mendengar suatu hal yang janggal.


"TIGA HARI!!"


Aku berteriak. Rakka yang berada di sebelah kiriku menutup telinganya.


Fahrez dengan wajah tenang hanya mengangguk. "Ya, tiga hari kamu tak sadarkan diri. Tenang saja, kita berdua sudah buat izin di sekolahmu."


"Entah kenapa aku merasakan suatu hal yang buruk. Tapi, tak apalah terima kasih."


"Sama-sama, jadi kamu ingin mendengar penjelasan dari siapa dulu. Aku atau Rakka?"


"Kalian berdua. Perlukah aku mengatakannya sekali lagi."


"Tidak, tak perlu. Aku hanya bingung menjelaskan."


Fahrez menatap Rakka sekarang. Rakka hanya diam melamun selama lembicaraan ku dengan Fahrez.


"Rakka, ada apa?"


"Kau kenapa? Jangan melamun di tengah pembicaraan."


Rakka menggeleng. "Aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Sergio, kalau tak salah kamu tadi ada mengatakan mimpi? Apa yang kamu lihat di dalam mimpi itu?"


"Mimpi?"


Aku berusaha mengingatnya, tapi yang kuingat samar-samar. Aku melihat sekelebat laki-laki berambut coklat berbicara dengan seorang gadis muda dengan rambut hitam. Mereka berbicara, tapi aku tak bisa mendengar.


Ya itu ingatan samarku. Sebelumnya aku merasa mengingat semuanya, tapi sekarang tidak.


"Aku tak mengerti dengan semua ini. Entahlah, aku lupa dengan mimpi itu. Rasanya di kepalaku seperti kaset rusak."


Rakka menatap Fahrez kali ini. Rakka memberikan tatapan penuh arti dan Fahrez mengangguk pelan.


Ada apa lagi ini. Rasaku mereka hanya bermain kode yang tak kupahami.


"Katakan, apa yang kalian rahasiakan. Kalian terlalu misterius."


"Tak ada. Jadi mari kita mulai dari perkenalan kami berdua. Yang kamu tau pasti hanya nama saja, bukan yang lain." 


Ucapan Fahrez ada benarnya. Tapi aku masih penasaran.


"Baiklah, aku mengerti jika kalian tidak ingin membicarakan hal yang sensitif itu."


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Aku menjawab Rakka. Dia terlihat pendiam sekarang.


"Aku pertama, namaku Fahrez Alluva, aku seorang Demi-human. Campuran antar manusia dan iblis. Yaa.. Sebenarnya sih aku lebih dominan iblis sih, tapi sisi manusia ku masih ada. Jadi tenang saja."


"Selanjutnya aku, namaku Rakka Hartez. Seorang manusia, tapi bisa beberapa sihir. Tenang saja aku lelaki, bukan seorang wanita."


"Hm? Jadi ada apa seorang Demi-human, dan Seorang penyihir di rumahku? Sepertinya selama aku tidak sadarkan diri ada terjadi sesuatu. Bisa kalian jelaskan."


"Ahh.... Itu karena ada... Rakka kau saja yang jelaskan. Aku tak terlalu mengerti."


Fahrez, ternyata dia itu bodoh.


Rakka mengangguk. "Jadi sebenarnya, kami berada disini karena jiwa lain yang berada di tubuhmu."


Aku mengangguk tanda mengerti.


"Jadi kalian ingin mengambil jiwa ini?"


Rakka menggelengkan kepalanya. "Jika kami ingin mengambil jiwa itu. Sama saja membunuhmu, dan membunuh sisi baik jiwa itu."


"Membunuhku?"


Aku tak mengerti.


"Singkatnya, jiwa mu dan jiwa lain itu sudah menyatu. Aku melihat matamu, dan hal itu cukup untuk menjadi bukti."


Mata biru, kah? Tak kusangka mata ini yang menjadi buktinya.


"Dan bukan hanya matamu saja, kekuatan yang kamu tunjukkan ketika kamu marah waktu itu juga sebagai bukti."


Oh aku mengerti.


"Jadi kalian datang kemari karena ingin melindungiku dan jiwa yang berada di dalam tubuhku? Kenapa kalian tidak mengambil jiwa ini sebelum jiwa ini menyatu dengan diriku?"


"Untuk pertanyaan pertamamu, ya. Kami disini untuk melindungimu, dan untuk pertanyaan kedua. Kami tak bisa mengambil jiwa ini di dalam tubuhmu. Seperti yang ku katakan sebelumnya, jika kami memaksa mengambilnya sisi baik jiwa itu akan menghilang, dan jiwa itu akan berubah menjadi iblis."


"Dan sepertinya bukan itu saja. Diriku akan mati? Benar bukan."


Rakka mengangguk pelan.


"Kalau kita memaksa dirimu kemungkinan besar akan mati. Sebabnya adalah, ketika jiwa yang lain ditarik, maka jiwamu pun juga akan ikut tertarik. Dirimu kemungkinan besar masih hidup hanya sekitar 1%."


"Cukup berbahaya. Dan pertanyaanku, siapa yang akan menyerangku. Sepertinya ini terhubung dengan masa laluku."


Mereka berdua saling tatap kembali. Kali ini ada tatapan ragu dari Rakka.


"Biar aku yang jelaskan" Fahrez mengambil alih. "Musuhmu sebenarnya adalah kekuatanmu sendiri."


"Huh?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°°°||