
"Siapa.... Aku?"
Sergio merasa dia tidak mengenal dirinya. Dia tidak tahu siapa namanya, umur, bahkan orang terdekatnya.
Semuanya menghilang begitu saja.
Yang ada di dalam pikirannya sekarang adalah.
'Bunuh, bunuh, bunuh, BUNUH DIRIMU SERGIO!!'
'Ahh... Begitu yah...'
Membunuh diri sendiri adalah cara mudah untuk keluar dari lingkaran keputusasaan dikarenakan melupakan dirinya sendiri.
Aku apa?
Siapa diriku?
Mengapa aku berada disini?
Dan setiap kali Sergio bertanya tidak ada yang menjawabnya. Yang terjadi selanjutnya Sergio adalah...
'Kau adalah Iblis.'
'Dirimu adalah anak gagal yang tak pantas hidup.'
'Alasan kau berada disini adalah...'
'...Mati.'
Ahh... Begitu yahh... Pikir Sergio.
Dia tersenyum. Akhirnya dia tahu siapa dirinya.
Oh begitu. Tujuannya adalah mati. Mati adalah kebebasan, dan dia sedang menuju kebebasan yang ia nantikan.
'Ya, seperti itu. Bagus... Bunuh, bunuh, bunuh dirimu.'
Suara itu masih kekeuh mengatakan kata-kata yang semakin membuat Sergio kehilangan kesadarannya.
Kesadaran bahwa dia adalah manusia biasa yang lemah yang masih membutuhkan pertolongan dari ketiga penjaganya.
Dia bukanlah iblis, bukanlah malaikat, dan juga bukanlah tuhan.
Dia hanyalah manusia biasa yang selalu membutuhkan pertolongan manusia lainnya.
Itulah yang dikatakan oleh hati kecilnya.
'Sekarang, bunuhlah dirimu Sergio. Buatlah penderitaan untukmu sendiri, kekekeke~~'
Sergio terdiam. Dan tiba-tiba saja Sergio menatap tajam sesosok berambut coklat.
Mata Sergio yang sebelumnya bewarna hitam berubah menjadi biru terang, dan walau terasa tipis, tapi tubuh Sergio menguarkan sedikit hasrat membunuh.
"Yo... Ilka, apa kau akan terus membiarkan dia mengatakan kata-kata seperti itu?"
Tubuh itu tersentak kaget. Terdengar suara gemerincing rantai ketika ia bergerak.
Sergio berjalan mendekati sesosok rambut coklat itu.
Namun baru beberapa langkah, puluhan anak panah mengarah pada diri Sergio.
Sergio yang tak siap hanya melindungi kepalanya menggunakan kedua lengannya.
Tapi anehnya, tubuhnya tidak merasakan rasa sakit. Ketika dia menyingkirakan kedua lengannya, dia melihat anak panah itu hanya menghalangi jalannya.
"Jadi ini jawabanmu, Ilka?"
Sesosok yang disebut Ilka itu mengkangkat wajahnya, dan dia menatap wajah Sergio dengan senyuman miring.
Betapa terkejutnya Sergio ketika ia melihat wajah Ilka. Wajah mereka sangatlah mirip. Yang berbeda hanyalah warna rambut dan warna mata.
Mereka seperti anak kembar yang terpisah.
'Jangan mendekat.'
"Kenapa? Kenapa aku tak boleh mendekatimu?"
'Itu karena....'
'.... Aku adalah *bzztt, jadi jangan mendekati ku. Kumohon.'
"Apa? Apa yang kau ucapkan? Aku tak mengerti sama sekali?!"
Ilka tersenyum lembut kali ini. 'Sergio, terimakasih karena telah menjaga ketiga keluargaku.'
"Ilka, apa maksudmu! Tunggu, jelaskan dulu padaku!"
Ilka menggelengkan kepalanya pelan. 'Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kau akan mengerti ketika waktunya tiba.'
Sergio menggertakkan giginya, marah. "KALIAN SEMUA SAMA SAJA! KALIAN SELALU MERAHASIAKAN SESUATU DARIKU! MEMANGNYA KALIAN ANGGAP DIRIKU INI APA!"
Keluarlah emosi Sergio yang selama ini ia tahan. Ya, selama ini Sergio memang merasa ketiga penjaganya seperti menyembunyikan suatu hal.
Sergio menyadari ketika Orga, Fahrez dan Rakka membohongi dirinya.
Ini merupakan bakat alami dirinya sejak kecil. Sergio bisa mendeteksi kebohongan.
Setiap kali orang-orang berkata bohong, Sergio selalu menyadarinya.
Tapi sepertinya ketiga penjaganya sangatlah bodoh karena tidak menyadari bakat alami dari seorang manusia lemah yang bernama Sergio Vandelhein.
"...Kalian, kalian menganggap diriku apa? Sebuah boneka yang akan kalian buang ketika sudah rusak, HAH?!" Ucap Sergio dengan nada kemarahan.
'Sergio, tidak sekalipun aku ataupun mereka-- Orga, Rakka, dan Fahrez, menganggap dirimu adalah boneka kami. Tidak pernah sekalipun Sergio.'
Ilka terdengar serius kali ini.
"Jadi... Jadi kalian menganggap diriku apa?!"
'Sergio' panggil Ilka lembut. 'Apa kau mengetahui alasan kenapa aku dan mereka merahasiakan banyak hal darimu?'
Sergio menatap kosong ke arah Ilka. Dia tidak mengetahui alasan kenapa mereka terus merahasiankan banyak hal dari dirinya.
'Musuhmu, adalah kekuatanmu sendiri. Dirimu pasti akan diincar dari berbagai pihak. Entah oleh para Dewa Dewi, malaikat, iblis, dan bahkan para manusia sekalipun.'
'....Kau, masih belum cukup kuat untuk melindungi dirimu sendiri ataupun orang lain.'
"Intinya aku adalah 'Lemah' begitu?"
Dan tanpa ragu Ilka mengangguk, mengiyakan ucapan Sergio.
'Ya, kau lemah. Sangatlah lemah sampai kau bisa menghancurkan dirimu sendiri.'
Sergio terdiam. Begitukah? Jadi karena dirinya lemah dia selalu di bohongi?
'Jadilah kuat. Dan kau akan mengetahui setiap jawaban dari pertanyaan-mu.'
"Apa aku memang akan mendapatkan jawaban jika aku kuat?"
Tanpa ragu Ilka mengangguk setuju. 'Ya, satu-satunya cara adalah. Jadilah kuat. Melebihi diriku di masa lalu. Lampaui batasmu, dan lindungilah orang yang berharga bagimu. Itulah yang harus kau lakukan, Sergio Vandelhein.'
Sergio mengepalkan kedua tangannya. Haruskah dia menjadi kuat?
Tapi ketika dia menjadi kuat, dia mendapati semua jawaban yang menganggu pikirannya hingga sekarang.
"Baiklah, akan ku ikuti ucapanmu Ilka."
'Baguslah, sepertinya ini saatnya kau untuk pergi.'
Perlahan tubuh Sergio memudar begitu saja. Dia sudah pernah merasakan seperti ini. Jadi dia tenang-tenang saja.
Tapi berbeda dengan Ilka.
Masih dengan senyuman lembut, perlahan di tubuh Ilka menjalar garis-garis abstrak bewarna hitam kelam.
Perlahan senyuman lembut itu tergantikan dengan raut wajah kesakitan.
Dan ketika Sergio hampir menghilang, dia memanggil nama Ilka dengan penuh rasa kekhawatiran.
"ILKA!"
\=\=\=\=\=\=\=
"SERGIO!!"
Sergio membuka kedua matanya. Dia merasa napasnya sesak, dan dengan cepat Sergio membalik tubuhnya dan mengeluarkan air dari mulut serta hidungnya.
Sebuah tangan mengelus pelan punggung Sergio yang tengah terbatuk-batuk.
Sergio kembali ke posisinya semula. Dia membalikkan tubuhnya menjadi terlentang, dan dia mengatur napasnya yang terputus-putus.
Dan dia baru menyadari bahwa dia berada di luar tabung yang berarti penguatan tubuh yang dia lakukan sudah selesai.
"Kau baik? Apa kau merasa ada yang aneh dengan tubuhmu?"
Sergio akhirnya menyadari tiga raut wajah khawatir.
"A-aku baik" jawab Sergio singkat.
Rakka yang mendengarnya menghela nafas lega. "Syukurlah, kupikir kau akan-"
"Rakka, aku ingin kuat secepatnya."
"Hah?" Fahrez merespon pertama kali.
"Tunggu, ada apa denganmu Sergio" Tanya Orga dengan serius.
Sergio menutup wajahnya menggunakan lengan, kemudian dia menangis dalam diam.
Dan ketiga orang itu menyadarinya.
Mereka tidak mengetahui kenapa Sergio menangis, tapi satu hal yang harus mereka bertiga pahami adalah...
Permintaan tuan-nya adalah mutlak.
"""Yes, My Lord!"""
Padahal Sergio tidak memberikan perintah, tapi mereka bertiga menganggap bahwa Permintaan Sergio adalah perintah bagi mereka.
Sergio menghapus air matanya yang berjatuhan. Dia memasang ekspresi wajah serius, dia mencoba berdiri walau dengan kaki gemetar, tapi dia tetap mencobanya.
Dia tidak boleh terlihat lemah.
Dia harus mencari jawaban dari segala pertanyaan.
Dan dia harus membebaskan Ilka dari penderitaan.
Kenapa Sergio harus repot membebaskan Ilka?
Entahlah, mungkin mereka berdua merasa bertanggung jawab pada diri masing-masing.
"Zoe, Leviathan, Orga. Ku perintahkan mulai hari ini juga..."
".... Latihlah diriku menjadi monster sesunggunya."
Dan ini adalah perintah sesungguhnya.
"""Yes, My Lord!"""
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
END [ARC 1: Who I Am and Who Are You?]
Author Note:
HAPPY NEW YEAR KAWAN-KAWAN🙌🙌🎆🎆🎆🎉🎉🎉
Wahh sudah tahun 2021 nihh...
Dan karena kebetulan tahun baru author up dua chapter dalam sehari.
Wkwkwkw...
Sebenarnya sih seharusnya cuman satu chapter, tapi entah kenapa author merasa kurang jadi author tambah part 2 nya.
Ilustrasion mungkin hari ini juga sekalian up
Soalnya masih ada beberap tokoh yang masih author cari pict nya.
Mohon bersabar
Author nulis nih cerita dari jam 9 malam sampai jam 2 malam loh.
Lelah hayati nihh...
Wkwkwkwk
Kalau begitu sampai jumpa di author note selanjutnya
Salam manis
Raiyu
Tgl 01-01-2021