The Another Soul

The Another Soul
Ch. 4



Author POV


''Ilka! Ayo cepat, kau sangat lambat!''


"Vira, kamu terlalu cepat berjalan. Seharusnya kamu tahu kondisi tubuhku sekarang."


Vira, gadis itu hanya mengembungkan pipinya. Dia semakin imut dan manis.


"Kau lama sekali pulangnya. Lagipula kita hanya piknik di bukit bukan?"


Ilka hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Oke, aku tak bisa melawan."


Vira tersenyum senang.


"Lagipula ini kencan pertama kita. Seharusnya hari ini menjadi hari spesial bagi kita."


Vira tersenyum lagi. Kali ini senyumannya sangat indah, angin berhembus pelan membuat rambut Vira berantakan.


Tapi yang dilihat oleh Ilka adalah pemandangan indah yang jarang diperlihatkan.


Ilka tertegun melihatnya.


"Ahh... Anginnya menganggu. Hm? Ada apa denganmu?" Tanya Vira.


Tersadar dari lamunan nya, Ilka salah tingkah sekarang.


".....Hmmm... Oh.... Hahahah... Ayo kita ke bawah pohon. Kamu tak ingin berlama-lama disini bukan?"


Vira menatap curiga Ilka, tapi dengan cepat rasa curiga itu berubah menjadi rasa senang.


"Selama ada kau disini. Aku betah berlama-lama."


Ilka berjalan menghampiri Vira. Kemudian dia mengelus kepala Vira. Vira terlihat menikmati setiap elusan yang dia terima.


"Jangan bercanda. Kamu ingin kita ketahuan."


Vira menatap Ilka dengan serius.


"Aku tak ingin membahasnya."


Seakan paham dengan masalah apa yang terjadi. Ilka mengelus kembali kepala Vira.


"Ok, ayo kita berkencan hari ini. Aku akan menuruti semua perkataanmu hari ini."


Setelah Ilka mengatakan hal itu, mata Vira berbinar-binar senang.


"Jangan tarik kata-katamu!"


"Tak akan."


Vira tertawa kecil. Dia berjalan duluan, meninggalkan  Ilka di belakang sendirian. Vira tidak mengetahui bahwa sekarang Ilka memasang raut wajah sedih.


"Vira. Maafkan aku."


Author POV End


°°°°°°°°


'Bagaimana keadaanya?'


'Dia? Oh... dia baik. Hanya kelelahan saja.'


'Jika dia baik kenapa dia belum bangun juga?'


Hm? Siapa yang berbicara.


'Kamu lupa. Dia baru saja bangkit dan menggunakan tiga kekuatannya. Pasti kekuatan itu memberikan beban berat pada tubuhnya. Sesekali gunakan otak kecilmu itu.'


'Kau!'


Uhh... Suara siapa itu. Ribut sekali.


Perlahan aku membuka mataku. Pemandang pertama kali yang kulihat adalah, dua orang berbeda warna kulit sedang adu mulut.


"Apa! Kamu itu orang *****! Padahal sudah kukatakan untuk mengetesnya sedikit, tapi yang kamu lakukan berlebihan. Dan sekarang tau akibatnya!"


"HAH?! Aku hanya mengikuti kata-kata dari seorang DOKTER. Sekali lagi, DOKTER!"


"Ribut sekali" ucapku pelan.


Mereka berdua yang sebelumnya bertengkar dengan cepat mengalihkan perhatiannya padaku.


Mereka berdua terdiam sekarang.


Aku juga terdiam, karena sedang mengumpulkan tenaga untuk bangkit. Entah kenapa rasanya tubuhku berat sekali.


Aku berusaha bangkit, tapi tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing. Sekelilingku seperti berputar 360°.


Aku mengerang kesakitan.


"Jangan bangun dulu. Efek obatnya masih ada."


Aku tak tau siapa yang berbicara, tapi aku menuruti perkataannya.


Aku menutup mataku. Mencoba menahan rasa sakit yang muncul secara tiba-tiba. Namun ada seseorang yang menyentuh bahuku pelan.


"Kamu baik-baik saja?"


Aku membuka mataku, dan melihat Fahrez menatapku khawatir.


Manusia pucat ini ternyata bisa khawatir juga.


Aku tak menjawabnya. Hanya mengalihkan perhatian ke arah lain.


Dan yang kulihat adalah satu orang aneh lainnya.


"Hahahaha...." dia tertawa mengejek. "Tau rasa akibatnya" lanjutnya.


Setelah kulihat baik-baik dia namanya Rakka kalau tak salah.


Rakka memiliki kulit gelap eksotis dan mata kuning keemasan. Rambutnya bewarna putih panjang hingga punggung. Dia pria normal. Ini kedua kalinya aku mengira dua orang dihadapanku ini adalah perempuan.


Maksudku, adakah seorang lelaki memiliki wajah cantik?


Dan penampilannya mendukung bahwa dia itu sebenarnya adalah wanita. Bukan laki-laki.


Ada apa dengan mereka berdua.


"Rakka... Kalau aku tak salah?"


Rakka menatapku. "Ya, aku Rakka."


Aku tertawa kecil. "Aku merasa kau yang paling normal disini."


Rakka terdiam. Kemudian dia tertawa kecil juga. "Tak kusangka itu kata pertamamu setelah siuman."


Aku tersenyum. "Tentu, dan aku sepertinya masih ingin menghempaskan kalian ke dinding lagi."


Eh?


"......"


"......."


Hening seketika.


Aku bahkan bingung dengan perkataanku sendiri.


"...... Aku hanya bercanda, jangan dibawa serius."


Ada jeda diawal. Aku sendiri ragu tadi hanya sebuah candaan.


Yang pertama kali merespon adalah Fahrez.


Responya hanya tertawa kering.


"Kamu lapar? Aku akan memasak sesuatu."


Rakka, dia pergi ke arah dapur dengan cepat.


Ada apa dengan dirinya?


Dia semakin mirip wanita!


Tiba-tiba saja aku merasa takut dan waspada pada Rakka.


"Sergio."


Aku menatap Fahrez dengan seksama.


Dia merogoh kantong jaketnya. Dan selanjutnya yang keluar adalah sebuah bingkai foto.


"Ini, kukembalikan" katanya sambil memberikannya padaku.


Aku menatap bingkai foto itu.


Seingatku foto itu hangus terbakar. Bagaimana bisa kembali seperti semula?


"Maafkan aku."


Dia menatap lantai. Sekarang aku merasa di posisi kakak yang adiknya sedang minta maaf.


Aku menghela nafas. Aku mengambil bingkai foto itu, kemudian melihatnya.


Tidak ada cacat, mulus.


'Mira.'


"Kalau boleh tahu siapa wanita itu."


Aku menatap Fahrez. Dia duduk di kursi meja belajarku. Dia menatapku penasaran.


"Dia.... Segalanya bagiku."


Hening seketika.


Tak lama Fahrez menjawab.


"Oh... Begitu."


Tak ada lagi pertanyaan. Yang ada hanya ada suara jarum jam yang berdetik.


Tapi suasana ini tak bertahan lama. Rakka masuk ke dalam kamarku sambil membawa nampan yang diatasnya ada 3 piring.


Aku mencium aroma makanan enak.


Perutku berbunyi keras.


Mereka melihatku. Dan aku merasa malu sekarang.


"Apa?"


""Tidak.""


Ucap mereka kompak.


"Aku hanya bisa memasak dengan bahan seadanya. Kuharap masakanku tidak mengecewakan."


"Masakanmu tidak pernah mengecewakan Zoe."


Eh? Siapa Zoe?


Rakka terdiam. Dia berjalan kearah meja belajar, menaruh nampan diatas meja belajar. Setelah itu dia berjalan kearahku.


"Kubantu bersender."


Aku menurut dengan Rakka. Entah kenapa aku merasa percaya dengannya walau baru bertemu.


Dengan lembut dia membantuku bangun. Rasa pusing ku juga lumayan berkurang. Setelah Rakka merasa posisiku sudah nyaman, dia berjalan ke arah meja belajar. Mengambil nampan berisi makanan yang sudah kunantikan.


Fahrez? Dia menatap makanan itu dengan mata berbinar-binar. Sungguh tak sesuai dengan wajahnya yang dingin itu.


Rakka tersenyum kecil melihat kelakuan Fahrez.


Dan aku juga tersenyum melihatnya.


Rakka memberikanku piring, dan aku mengambilnya. Tapi tanpa sengaja aku menyentuh kulitnya. Rasanya aku seperti tersengat listrik.


Untungnya aku masih bisa menahannya, dan makanan itu tak tumpah sia-sia di lantai.


Sebelum aku merasa lega, aku merasa kepalaku pening. Dan selanjutmya yang kulihat adalah pemandangan hutan gelap.


"Kau sendirian?"


Aku melihat seorang bocah berambut putih membenamkan wajahnya di lutut. Pakaiannya lusuh dan kotor, dan ada rantai yang mengikat lehernya.


Bocah itu masih setia membenamkan wajahnya di lutut. Tidak memperdulikan perkataanku.


Tes.... Tes... Tes...


Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Bocah berambut putih itu masih tetap di posisi yang sama. Tidak memperdulikan hujan yang mulai membuat bajunya basah.


Aku menghela nafas. Aku membuka jubah yang kupakai selama perjalanan. Aku duduk di sebelah bocah itu, kemudian aku menutupi tubuh kami berdua dengan jubahku.


Ya, kami berteduh dengan jubah yang kupakai.


Sunyi. Hanya terdengar suara hujan yang membasahi hutan.


Mungkin karena merasa aneh denganku yang tiba-tiba saja duduk di sebelahnya, akhirnya dia bertanya padaku.


"Siapa namamu?"


Aku menatap bocah berambut putih itu. Ohh... Apa dia mau membuka diri?


Aku tersenyum. "Sebelum bertanya seperti itu, siapa namamu?"


Bocah itu terdiam.


Ketika aku ingin menyebut namaku dia sudah menjawabnya.


"Namaku Zoe."


Aku tersenyum. Aku memberikan tanganku, tanda perkenalan.


Dia melihatku bingung, dan aku membantunya untuk menyalami tanganku.


"Hai Zoe, namaku Ilka. Salam kenal."


.


.


.


.


.


.


.


|||°°°°°|||