
Setelah pertemuanku dengan Ankaa, aku masih melanjutkan lari pagiku di sekitaran stadion.
Tapi aku tak menyangka ada dua orang yang ku kenal di tempat ini.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Aku bertanya pada dua orang yang sedang makan bubur ayam dan gado-gado.
"Makan."
"Itu juga aku tau, Fahrez."
Ya, yang berada dihadapanku sekarang adalah Fahrez dan Rakka. Mereka duduk di kursi merah yang biasanya ditemukan di warung kaki lima pinggir jalan.
Gaya mereka berdua berubah. Fahrez yang sebelumnya menggunakan jaket hitam kulit, sekarang hanya menggunakan kaos V-neck warna abu, dan celana jeans hitam. Rambutnya dia ikat sebagian, dan dia sedang makan bubur ayam.
Sedangkan Rakka, dia memakai kemeja warna merah marun dan celana putih, rambut putihnya dia ikat ekor kuda. Rakka makan gado-gado dengan matanya yang menatapku.
Tolong ingatkan aku kalau Rakka adalah laki-laki.
"Sergio...kraukk... Mau ikut makan?"
Rakka bertanya sambil makan kerupuk.
"Kalian yang bayar?"
Mereka berdua serempak mengangguk.
"oke, Bang! Gado-gado satu sama teh hangat!"
"Siap!"
Abang yang jual gado-gado menjawabku. Kemudian aku berjalan ke arah mereka berdua. Dengan sigap Rakka menarik kursi dan dia menaruhnya di tengah.
"Terima kasih."
Rakka mengangguk.
Aku duduk, kemudian hanya memandangi ke arah jalan. Jalan raya masih lumayan sepi karena masih jam setengah tujuh. Masih belum banyak yang memulai aktifitasnya.
"Kau terlihat memikirkan sesuatu. Ada apa?"
Aku menoleh ke arah Fahrez. Dia masih makan bubur ayam yang tinggal setengah lagi.
"Kau tau, aku baru saja bertemu bintang."
"Bintang?"
Aku menoleh kearah Rakka.
"Ya, bintang. Namanya Ankaa, dari rasi bintang Phoenix."
Aku kembali memandang jalan raya.
"Oh bintang, mereka memang ada. Tapi, sekarang jarang terlihat."
Fahrez berkata sambil makan bubur ayam.
"Kamu hebat bisa bertemu bintang yang sedang turun."
Rakka melanjutkan. "Di dunia kami, bertemu bintang yang sedang turun merupakan keberuntungan besar. Bahkan ada berbagai macam cerita tentang bintang."
"Jadi aku akan mendapatkan keberuntungan?"
"Bisa iya dan bisa juga tidak" kata Fahrez.
"Maksudmu?"
"Ya, rasi bintang memiliki legenda mereka sendiri. Tadi kamu bilang baru saja bertemu bintang bernama Ankaa. Dan dia berasal dari rasi bintang Phoenix." Fahrez memakan sesuap bubur ayam sebelum melanjutkan kembali.
Dengan mulut penuh, Fahrez bertanya.
"Ngomong-ngomong, kamu tau Phoenix?"
"Phoenix? Aku hanya tau sedik- oh, makasih bang."
Jawabanku terpotong ketika Gado-gado ku datang bersama dengan teh hangat.
"Jelaskan apa yang kamu tau" kata Rakka.
Aku memakan sesuap ketupat yang berlumur saus kacang sebelum menjawab. "Hmm... Phoenix adalah burung yang diselimuti oleh api, bulunya bewarna merah keemasan. Dari yang kudengar, Phoenix tak bisa mati. Dia abadi."
Rakka mengangguk. "Kamu benar, tapi ada yang salah."
"Maksudnya."
"Dia memang abadi, tapi di saat yang sama Phoenix bisa mati juga."
Aku mengerutkan dahiku, bingung.
"Aku pernah melawan Phoenix, ketika melawannya aku merasa akan mati saat itu juga" kata Fahrez.
"Sehebat itu?"
Fahrez mengangguk. "Tapi pada akhirnya aku menang. Kelemahan Phoenix ada pada apinya."
"Fahrez benar. Api Phoenix adalah api kehidupan. Api kehidupan itu diberikan oleh dewa matahari. Dewa Ra."
"Tapi kurasa, api ini tidak mudah untuk dipadamkan."
Fahrez mengagguk, membenarkan kata-kataku.
"Memang benar, tapi aku memiliki caraku sendiri."
"Oh."
"Yahh.... Kalau kamu ingin tau lebih banyak, tinggal bertanya dari sumbernya saja."
"Sumbernya? Apa kau memintaku untuk bertanya pada Dewa Ra?"
"Kenapa tidak?"
"Hahahaha..... Rakka, kau bercanda."
Aku tertawa mendengar perkataannya.
Rakka yang melihat responku hanya mengangkat bahunya keatas. "Kalau tak percaya, ya sudah. Padahal Fahrez juga berasal dari legenda juga."
"Aku hanya setengah saja. Jangan membandingkan diriku dengan Phoenix yang memiliki darah murni."
"....."
"Kembali ke bintang" Kataku.
"Oh, karena kamu baru saja bertemu Ankaa, mungkin keberuntungan mu adalah keabadian."
"Keabadian? Memangnya ada di dunia ini?"
Fahrez yang mendengarku menggeleng-gelengkan kepalanya. "Di dunia sini memang tidak ada, tapi di dunia sana tentu saja ada. Bahkan ada yang hidup hingga ribuan tahun."
"....."
"Oh, bukankah kamu sudah berumur ribuan tahun" kata Rakka.
"Diam."
"Hahahah.... Kamu selalu sensitif kalau bahas umur. Jadi Sergio, apa kamu sudah mengerti."
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. "Yahh... Kurasa."
Rakka menghela nafas. Dia meminum air putih di dalam botol sebelum dia berdiri.
"Aku sudah selesai, aku yang akan bayar."
Fahrez mengangguk.
Setelah itu Rakka pergi membayar makanan kami semua.
"Tapi ada yang membuatku bingung."
"Apa yang membuatmu bingung?"
Aku menatap Fahrez. "Tidak. Tidak apa-apa. Mungkin aku hanya pusing memikirkan apa yang terjadi selama ini."
Aku menatap gado-gadoku yang tinggal setengah itu. Tiba-tiba saja nafsu makanku hilang.
"Huh. Kamu hanya terlalu banyak berpikir" Fahrez tiba-tiba saja mengelus kepalaku. "Yang harus kamu lakukan sekarang adalah. Menerima keadaan."
Aku menatap Fahrez. "Jadi aku harus terima keadaanku?"
Fahrez mengangguk. "Kamu tau. Ketika aku pertama kali melihatmu. Aku merasa kalau kamu akan sama seperti yang lainnya."
Aku melihat ekspresi sedih di wajah Fahrez.
"Tapi tidak. Kamu berbeda dari yang lain, dan aku senang kamu hidup, dan kamu terlihat menerima keadaanmu. Walaupun terlihat sulit. Dan aku tau, kamu marah. Walaupun tak terlihat, tapi di dalam hatimu. Kamu marah."
"....."
"Sergio, maafkan kami berdua yang telah memaksamu berada dalam situasi seperti ini."
Fahrez berkata seperti itu sambil menundukkan kepalanya.
Aku yang melihatnya menghela nafas kasar.
"Bukan kalian berdua. Tapi jiwa lain yang berada di dalam diriku."
Fahrez mengangkat kepalanya dan melihatku dengan ekspresi terkejut.
"Jika jiwa ini tidak ada, maka kehidupanku akan normal. Jika jiwa ini tidak ada aku tak akan bertemu kalian berdua."
"Sergi-"
"TAPI! Jika jiwa ini tidak ada di dalam diriku. Aku akan sendirian di dunia ini. Aku bersyukur bertemu dengan kalian berdua. Aku senang, akhirnya ada yang membawaku pergi dari dunia ini. Dunia dimana aku hanya.... Sendiri."
Aku menatap kosong wajah Fahrez. Apa yang kukatakan merupakan kebenaran. Jika mereka berdua tidak datang, entah apa yang akan terjadi.
'Jangan percaya mereka berdua.'
Tiba-tiba saja perkataan Ankaa tergiang di dalam kepalaku.
Tidak. Sergio, percayalah pada dirimu sendiri.
"Sergio."
Aku menoleh kearah Rakka, dia sudah selesai membayar sepertinya. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Terima kasih. Terima kasih karena telah mempercayai kami."
Aku tak tau harus berkata apa. Tapi-
"Sama-sama."
Ya. Aku harus menjawabnya. Ini pertama kalinya aku mengutarakan isi pikiranku selama ini. Kata Ankaa aku jangan pernah mempercayai mereka berdua. Tapi aku yang menjalani hidup ini, aku bebas untuk mempercayai siapapun itu.
Tapi, perkataan Ankaa terus tergiang-giang di dalam kepalaku.
Sudahlah. Aku hanya bisa bergantung pada diriku di masa depan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°||