
"Slurpp....lengkap sudah semua. Sekarang kita tinggal ke rumah Fahrez" ucap Rakka.
Saat ini kami berada di restoran keluarga. Mereka berlima sedang makan malam dan beristirahat. Rakka berbicara sambil menyedot jus apel dari gelasnya.
"Rasaku ada yang kurang, Rakka bisa pinjam kartu kreditnya?"
"Kenapa harus memakai punyaku!"
"Oh, ini ambil."
"Kalian tidak mendengarkanku, yah!"
Aku dan Rakka tidak mendengarkannya. Aku segera mengambil kartu di tangan Rakka, kemudian berdiri.
"Reina, bisa minta tolong temani Sergio."
"Ehh... Tak perlu. Biar aku sendiri saja."
Aku menolak permintaan Rakka pada Reina.
"Kau lupa yah, apa yang terjadi sama pintu mobilku" ucap Orga.
"Yaa..."
"Kau tak ingin menarik perhatian bukan, jadi biarlah nona Reina menemanimu" ucap Rakka.
"Uhh.... Baiklah."
Aku merasa seperti tahanan.
Reina berdiri, kemudian dia berjalan duluan dariku. Aku mengikuti dari belakang.
Sebenarnya aku ingin ke supermarket yang berada di sebrang jalan. Aku ingin membeli cemilan dan makanan.
"Umm.... Reina?"
"Ya, tuan."
"Panggil aku Sergio saja."
"Baik, tuan Sergio ada apa."
"Kau tidak mendengarkanku, yah."
"Tidak. Saya mendengarkan, tapi saya terbiasa mengucapkan kata tuan."
Oh, jadi sebuah kebiasaan.
"Kenapa kau menolak Orga."
Reina langsung berhenti. Dia menoleh kebelakang, dan menatapku tajam.
"Tuan, anda yakin bertanya seperti itu."
"Iya, apa ada yang salah?"
Reina menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya saja.... Ini semua salahmu."
"Eh? Salahku?"
Aku bertanya sambil menunjuk diriku sendiri.
"Itu intinya."
Reina kembali berjalan. Meninggalkanku di belakang. Aku menyusulnya, dan akhirnya kita berdiri di pinggir jalan.
"Apa maksudnya ini salahku?"
"...."
"Hei, kau mendengarkan?"
"....."
Tidak ada jawaban. Apa dia marah? Rasanya jadi agak canggung.
Ketika jalanan sudah sepi, kami mulai menyebrang jalan, kami berjalan bersebelahan, tapi tidak ada percakapan apapun.
Uhh... Canggung sekali.
Kami sudah sampai di depan supermarket.
"Kalau kau ingin membeli sesuatu, katakan saja."
Reina menatapku. "Kau berkata seperti kartu itu adalah milikmu."
"Memang punyaku."
"Hah?"
Reina menatapku bingung.
Aku mengeluarkan kartu kredit lainnya dari saku celanaku.
"Ini punyaku, dan ini punya Fahrez" ucapku sambil menunjukkan dua kartu yang berbeda warna.
"Oh, kalau begitu aku tak akan sungkan."
"Oke, ayo masuk."
Ketika aku ingin membuka pintu supermarket, tiba-tiba saja Reina menampar tanganku.
"Aww..."
Aku meringis kesakitan.
"Kau ingin seperti tadi."
Aku mengingat pintu mobil Orga.
"Oh ya. Makasih sudah mengingatkan, kalau begitu tolong."
Reina mendengus. Dia membuka pintu dan aku ikut masuk ke dalam.
||°°°°°°°||
"Ada yang bisa menjelaskan. Kenapa bisa Sergio hampir meremukkan pintu mobilku?" ucap Orga.
"Entah, aku saja tak tau. Bagaimana menurutmu, Rakka?"
Fahrez menatap Rakka yang sedang ingin menyendokkan makanan kemulutnya.
"Hmm... Menurutku..."
Rakka kembali menyendokkan makanan ke mulutnya.
"....Sergio sudah hampir menyatu dengan jiwa itu."
"Hah?"
Orga menatap bingung Rakka.
"Begini, apa kalian merasakan energi sihir atau mana dari Sergio?"
Orga dan Fahrez saling lirik.
"Aku baru menyadarinya setelah kau bertanya" ucap Fahrez.
"Kau benar. Ini aneh, walaupun dia manusia bumi, tapi paling tidak ada. Walau hanya sedikit terasa."
"Jadi, apa hubungannya dengan energi sihir dan mana?" Tanya Fahrez.
Rakka menghela napas. Dia menaruh sendok, dan memasang wajah serius.
"Kalian tau mana bukan? Sebuah energi yang dapat menghasilkan sihir atau hal lainnya. Biasanya pada manusia bumi seharusnya ada, walaupun tipis. Tapi aku tidak merasakannya pada Sergio. Aku sudah mengeceknya beberapa kali, tapi tidak terasa."
"Tapi, bukankah jika Sergio benar-benar hampir bersatu dengan jiwa itu. Harusnya dia memiliki mana dan energi sihir yang besar" ucap Fahrez.
"Ini yang tidak kupahami."
Rakka menghela napas. Sebenarnya di dalam pikiran Rakka, dia memikirkan banyak hal. Tapi dia tidak tau apakah yang dipikirkannya ini benar. Dikarenakan informasi yang sedikit, Rakka tidak bisa menjelaskan lebih jauh.
"Aku rasa, ada satu jiwa lain di dalam tubuh Sergio."
""HAHH....?!""
Rakka terkejut. Dia menengok kiri kanan dan melihat semua orang melihat ke arah mereka bertiga. Rakka menunduk, meminta maaf.
"Bisa jangan teriak? Di sini tempat umum."
"Tidak, tidak, tidak! Atas dasar apa kamu berpikir seperti itu?!" Ucap Orga.
"Rakka, satu saja sudah merepotkan. Apa lagi dua!" Ucap Fahrez.
"Dengarkan penjelasanku, bisa?!"
""......""
Mereka berdua terdiam.
"Bagus. Ini masih perkiraan, tapi Fahrez. Apa kamu ingat, ketika Sergio pertama kali lepas kendali?"
"Yang waktu kita pertama kali datang?"
"Bukan. Tapi ketika kamu melawan... Aku lupa siapa namanya. Waktu itu, harusnya aku tak bisa menahan Sergio lagi. Tapi anehnya, semua kekuatan jiwa itu yang keluar menghilang. Seperti tidak terjadi apa-apa."
"Bagaimana bisa?" Tanya Orga.
"Kemudian yang kedua, dia lepas kendali lagi di Kutub Utara. Waktu itu aku melihat seorang gadis berambut merah, aku pikir dia adalah jiwa lain itu. Tapi sepertinya bukan, karena dia berkata hanya bisa menyelamatkan Sergio hanya dua kali lagi."
"Jadi?" Tanya Fahrez.
"Dan yang ketiga. Ketika kita melakukannya di dunia Nromu. Disana Sergio benar-benar lepas kendali, tidak ada yang membantunya kali ini. Karena kita memang sengaja membangunkannya, tapi aku rasa disinilah intinya."
"Maksudmu?" Tanya Orga.
"Waktu itu, sepertinya Sergio bertemu dengan jiwa kedua itu. Bukan pada jiwa satunya. Hmm... Bagaimana kita menyebutnya. Jadi, kemungkinan besar, Sergio tidak hampir menyatu pada jiwa satu itu, tapi hampir menyatu dengan jiwa kedua ini."
"".....""
"Apa kalian mengerti maksudku?"
"Ya, setengah saja" ucap Fahrez.
"Kau itu bodoh" celetuk Orga.
"Hei!"
"Tapi Rakka, bukankah ini buruk?"
"Aku tak tau, apakah hal ini buruk atau baik bagi kita ataupun Sergio, kita hanya bisa menunggu dan melihat perkembangan Sergio. Itulah sebabnya aku ingin Sergio tinggal denganku, aku ingin memeriksa Sergio di rumahku dan memperhatikan perkembangannya...."
".....Tapi dia tidak ingin tinggal denganku. Memang-nya apa yang salah dariku?"
''Penampilanmu yang salah!''
Mereka hanya bisa menjawab pertanyaan Rakka di dalam hati saja.
"Baiklah, untuk saat ini kita hanya bisa menunggu dan melihat saja. Apa kita akan mengatakan teori ini pada Sergio?" Tanya Orga.
"Tidak perlu."
"Kenapa?" Tanya Orga pada Rakka.
"Kita tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Bisa saja jiwa kedua ini sebenarnya jahat dan dia berniat untuk menguasai tubuh Sergio."
"Tapi, bisa saja jiwa kedua ini baik dan dia berniat membantu Sergio" ucap Fahrez.
"Entah. Seperti yang dikatakan Orga sebelumnya, hanya bisa menunggu dan melihat saja."
"Kau benar" ucap Fahrez.
"Ahh... Mereka datang" ucap Orga.
Fahrez menoleh kebelakang, dia terkejut.
Sergio dan Reina berjalan ke tempat meja mereka. Sebenarnya ada satu orang lain yang berada di belakang mereka.
"Oke, aku sudah membeli makanan dan cemilan. Fahrez ini kukembalikan" ucap Sergio sambil memberikan kartu dengan warna silver itu.
"O-oh, ma-makasih."
Fahrez menjawab gagap.
Sebenarnya bukan hanya Fahrez yang terkejut, tapi Orga dan Rakka juga sama terkejutnya dengan Fahrez.
"Silahkan duduk, bukankah kau kelaparan tadi?" ucap Sergio.
"Hahahaha... Ini cukup memalukan. Tapi terima kasih anak muda."
"Tak perlu sungkan, anda tadi membantuku bukan."
"Itu hanyalah hal kecil. Hmm...? Aku seperti mengenal mereka."
Orang itu menatap Fahrez, Rakka, dan Orga serius. Mereka bertiga berkeringat dingin.
"Ohh... Bukankah kalian tiga penjaga itu? Apa yah..."
"Eh, anda mengenal mereka?"
Orang itu mengalihkan perhatiannya pada Sergio.
"Tentu saja, mereka bertiga adalah teman."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°°°||