
"Kaeiru."
Plokk...plok...plokk..
Anak itu bertepuk tangan. Dia juga tersenyum lebar. "Bagus, kau mengingat namaku dengan baik."
Dia berbalik pergi. Entah darimana tiba-tiba saja muncul dua cangkir dan teko teh. Dia langsung duduk bersila, kemudian dia menepuk lantai di sebelahnya.
"Mari kita bicara sambil minum teh."
Aku berjalan ke arah anak itu, kemudian ikut bersila dan meminum teh yang sudah dia tuangkan.
"Aku tak tau disini ada teh."
Anak itu, Kaeiru meminum seteguk teh sembelum membalasku. "Ya, bisa dibilang ini teh palsu."
"Hah?"
Dia benar. Ketika aku meminumnya, aku memang merasa aku sedang minum, tapi tidak ada rasanya.
"Bagaimana bisa kau minum teh palsu?"
"Ya bisa saja. Inikan duniaku."
Kaeiru kembali melanjutkan minumnya. Aku juga kembali melanjutkan minum teh, walaupun tidak ada rasanya.
"Apa kamu tidak ingin bertanya sesuatu?"
Aku melirik Kaeiru. "Sebenarnya banyak. Tapi aku tak tau mau bertanya darimana."
"Bodoh."
"Kuanggap kata itu sebagai pujian."
Kami meminum teh secara bersamaan. Aku meminumnya sampai habis, kemudian Kaeiru meletakkan cangkir tehnya ke lantai putih itu.
Dia berdiri, kemudian melihatku.
"Sudah cukup basa-basinya. Kau ingin melihatnya bukan."
Aku meletakkan cangkir teh, kemudian berdiri. Kaeiru berjalan duluan, aku mengikutinya di belakang.
Kami berjalan, terus berjalan. Menit dan detik berlalu, tapi aku tak melihat apapun.
"Kaeiru, kita mau kemana?"
Kaeiru berhenti, dia berbalik ke arahku. "Apa kau tak bisa melihatnya?"
"Melihatnya? Melihat apa?"
Aku menatapnya bingung. Kaeiru menghela nafasnya. "Baiklah, ikuti kata-kataku. Tutup matamu, dan rasakan sekitarmu."
Aku mengikuti perkataan Kaeiru. Aku menutup mataku, kemudian berusaha merasakan sesuatu di tempat putih ini.
Yang pertama kurasakan adalah, gelap.
Setelah itu dingin.
Krangg...Cringg....
Suara apa itu? Lonceng? Bukan, sepertinya rantai.
Tiba-tiba saja aku merasa ada yang sedang melihatku. Aku membuka mataku.
"Apa... Ini...."
"Inilah jiwa lain yang berada di dalam tubuhmu."
Kaeiru muncul di sampingku. Kali ini penampilannya berubah. Dia sekarang setinggi aku. Rambutnya panjang, dan dia mengikatnya. Matanya menatapku dingin, berbeda dengan versi anak kecil yang menatapku dengan tatapan polos.
"Apa dia tidak apa-apa?"
"Kau mengkhawatirkan dia?"
Kaeiru menatapku heran. Masalahnya yang kulihat sekarang adalah seseorang dengan rambut coklat menunduk. Wajahnya terlihat gelap, rantai besar dan kecil mengikat seluruh tubuhnya. Bahkan ada pasak terpasang di punggung, kaki, dan kedua tangannya.
Dia berada di kurungan besi bewarna hitam pekat. Entah kenapa, ketika aku menatap orang itu. Aku merasa hatiku sakit.
Aku berjalan kearah kurungan itu. Mengangkat tanganku, dan setelah itu. Aku menyentuh kurungan hitam itu.
SWISHH....TRANGG...
Aku terkesiap.
"Nak, berhati-hatilah mendekatinya. Dia itu agresif."
Kaeiru, tangannya berada di hadapanku. Tadi ada sebuah pisau putih yang terbang kearahku. Aku tak tau kenapa bisa ada pisau itu, tapi jika Kaeiru tidak menghalaunya. Aku pasti akan mati sekarang juga.
Aku menelan ludahku. Aku menatap orang itu. Dia masih di posisi yang sama, rasanya aku ingin membuka kurungan ini. Kemudian membebaskannya dari semua belenggu yang ada.
"Siapa namamu?"
"......"
Tidak ada jawaban. Aku menghela nafas.
"Aku tak tau siapa kau. Tapi yang pasti, aku akan membebaskanmu dari sini."
Kranngg...
Aku tersenyum. Dia meresponku. Walau tidak dari mulutnya, tapi sepertinya dia terkejut.
"Nak, omonganmu itu..."
Kaeiru menatapku dengan tatapan terkejut. Aku menatapnya.
"Kau pasti ingin bilang, dia jahat. Dia iblis, tapi entah kenapa aku merasa dia adalah orang yang baik."
"Nak, masalahnya bukan itu."
"Jadi?"
Kaeiru menggaruk belakang kepalanya. "Hahh... Bagaimana aku menjelaskannya yah."
Kaeiru mulai menjelaskan. Aku hanya diam mendengarkan, tapi di akhir katanya aku terkejut.
"Jadi, apa kau masih ingin membebaskannya?"
Aku tersenyum. "Tentu saja masih."
"Haahh...."
Kaeiru menghela napas panjang. Kali ini dia sepertinya pasrah pada pilihanku.
"Baiklah, aku ingin mendengarkan permintaanmu."
"Permintaan yah. Hmm...."
Aku memikirkannya. Tapi aku sama sekali tidak tau, apa yang aku ingin minta darinya.
"Tidak ada. Oh, mungkin ada satu. Siapa kau?"
Kaeiru menatapku. Dan dari tatapannya dia seperti berkata 'apa kau bodoh?'
"Jangan tatap aku seperti itu. Selama ini aku hanya tau namamu saja."
"...."
Kaeiru terdiam. Apa aku baru saja mengatakan suatu hal yang salah.
"Eh? Kenapa? Kenapa kamu tak memberitahukannya disini."
"Kan sudah kubilang. Kau akan tau nanti. Jadilah anak penurut."
Perlahan, dari bagian bawahku berubah menjadi partikel cahaya.
"Tunggu, bagaimana kalau aku ingin bicara denganmu?"
"Panggil namaku."
Aku tersenyum. "Oke, katakan padanya juga. Aku akan membebaskannya, ingat itu!"
Akhirnya, aku menghilang menjadi partikel cahaya. Terakhir kali yang kulihat adalah Kaeiru tersenyum.
Yahh... Aku akan tanyakan saja padanya nanti.
||°°°°°°°||
".....Sergio!"
Aku membuka mataku. Aku melihat ada tiga wajah yang menatapku khawatir. Fahrez ketika melihatku langsung tiduran di lantai. Dia bahkan menghela napas lega.
Aku berusaha bangkit, tapi sulit. Rasanya tubuhku berat sekali.
Tunggu, bukankah terakhir kali aku melihat jantungku ditusuk.
Aku melirik dada bagian kanan, bajuku sobek, dan ada bekas darah.
Eh? Aku masih hidup?
"Sergio, tolong katakan sesuatu."
Aku melirik Rakka. Dia menatapku khawatir.
"A...aku..."
"Apa? Apa ada yang sakit?"
Rakka langsung panik. Astaga, sifat keibuannya muncul lagi.
Aku berusaha bangkit, Rakka membantuku. Kali ini aku sudah duduk, aku menatap wajah Rakka serius.
"Aku lapar."
"""Eh?"""
Mereka bertiga seperti tidak percaya dengan perkataanku.
"Pfft! Hahahahah...."
Orga tertawa keras. Fahrez juga ikut tertawa, sedangkan Rakka masih terkejut.
"Astaga, kupikir dia akan memaki kita bertiga. Ternyata dia hanya butuh makanan. Hahahaha....!"
Orga kembali tertawa keras.
"Huh? Jika keadaanku tidak begini. Aku sudah menonjok wajah kalian masing-masing."
Aku berkata serius.
"Lakukan ketika kau sudah sehat" ucap Fahrez.
"Baik, akan kulakukan nanti."
Aku berkata mantap.
"Kalau begitu, ayo cari maka- eh?"
Aku ingin berdiri, tapi ketika aku ingin berdiri, rasanya kakiku tidak memiliki tenaga. Aku kembali terjatuh ke lantai.
"Sergio!"
Rakka berseru khawatir padaku. Aku mengangkat tanganku. "Tak apa. Sepertinya pengaruh lapar."
Aku kembali berusaha untuk bangkit berdiri. Tapi sebelum itu ada seseorang yang menunjukkan punggungnya padaku.
"Naik."
Orga hanya mengucapkan satu kata itu saja. Aku tersenyum.
Akhirnya aku berada di punggung Orga, ini mungkin aneh, tapi tak apalah.
Orga berdiri, kemudian Rakka dan Fahrez mengikuti di belakang.
"Orga."
"Hm?"
Dia hanya menjawabku dengan gumaman.
"Maaf."
"Untuk apa?"
Dia melirikku. Sebenarnya aku juga tak tau, tapi dari dalam hatiku aku ingin mengucapkan kata maaf.
"Tak apa. Mungkin aku ngelantur."
Orga kembali fokus ke depan. Selama perjalanan tidak ada pembicaraan, tapi aku melirik mereka bertiga.
'Ilka, sebegitu berharganya dirimu pada mereka bertiga.'
Apa aku pantas mendapatkan posisi ini?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°°°||