The Another Soul

The Another Soul
Ch. 00 [Masa Lalu II]



...**Keindahan** **adalah suatu hal yang hanya di miliki oleh seorang wanita**...


...Dan ketika kau jatuh ke dalam pesona keindahan 'wanita'...


...Kau akan merasakan suatu hal yang sulit di jelaskan...


...**Pilihannya ada dua**...


...Mencintai atau membenci...


-


...||°°°°°||...


"Pulang."


"Tidak mau."


"Kenapa sih kamu ngikuti aku terus!"


"Soalnya di rumahmu nggak ada isinya!"


"Ya cari kerjaan lah!"


Orang-orang melirik sebuah pertengkaran kecil di depan toko pakaian. Kedua orang itu terlihat seperti kedua sahabat yang bertengkar tentang 'Baju ini bagus dan baju ini jelek'.


"Bagaimana bisa kamu ninggalin wanita di rumah besar yang menyeramkan itu! Dasar lelaki tidak peka!"


Para penonton yang mendengar dari kejauhan sedikit terkejut ketika si wanita bilang kata 'lelaki'.


Para penonton diam-diam melirik ke arah wanita atau lelaki itu.


Memiliki surai putih panjang sepunggung, kulit coklat eksotis, mata kuning keemasan, dan memiliki tubuh tinggi semampai.


Ohh... Sudah jelas di pikiran para penonton dia adalah seorang wanita.


Tapi pemikiran itu segera di bantahkan ketika melihat jakun di leher si lelaki jadi-jadian itu-- pikir para penonton.


"Seterahmu saja!" kesal si lelaki jadi-jadian.


Si wanita-- yang asli. Menghentakkan kaki kanan-nya ke tanah.


Sedetik kemudian sebuah gempa menggetarkan tanah yang di pijak semua orang.


Tentu saja orang-orang yang ada di sekitar mereka menjadi panik.


Lelaki itu memunculkan siku-siku imajiner. "Baiklah, baiklah! Apa maumu Vampire sialan!"


Wanita itu tersenyum menyeringai. "Panggil aku nona Naila Ferelina Quava. Tuan Zoe Hartez yang terhormat."


Lelaki itu-- Zoe menghela nafas dengan kasar.


"Serahmu saja."


Wanita itu-- Naila merengut. Mata merah ruby nya menatap Zoe tidak terima. "Sepertinya kau membenciku."


"Hah? Siapa yang berkata seperti itu?"


"Dari tingkahmu."


Zoe terdiam. Apa terlihat seperti itu?


Zoe diam-diam melirik wanita yang ada di hadapannya ini.


Memiliki rambut pirang keemasan dengan panjang yang mencapai lutut. Mata merah Ruby nya yang menatap angkuh siapapun itu, serta kulit putih pucatnya yang di balut dengan kemeja putih dan long coat bewarna coklat gelap.


Sempurna, di mata orang lain.


Tapi di mata Zoe, dia hanya melihat seorang gadis pembawa masalah dan pembuat masalah.


'Kenapa Ilka menyuruh gadis ini tinggal di rumahku!' batin Zoe kesal.


"Hei Zoe!"


Zoe tersentak kaget. "Apa?"


"Aku ingin belanja. Temanin aku."


"Hah?"


"Jangan 'Hah?' aku minta uang!"


"Apa hakmu meminta uang padaku?!" Tanya Zoe sewot.


"Karena aku tidak punya uang!"


Zoe memandang makhluk di hadapannya ini dengan raut wajah heran. "Kau tidak punya uang?"


Wajah Naila memerah. Ia malu. "Jangan di tanya lagi!"


Seakan menemukan pencerahan, Zoe tersenyum miring. "Ohh... Seorang bangsawan Vampire ternama di benua Virda tidak memiliki uang sepeser pun. Jika sesama bangsawan mendengar hal ini, aku tak tahu akan semalu apa dirimu."


Wajah Naila semakin memerah. Dirinya sangatlah malu mendengar ejekan dari seorang Zoe Hartez yang memang memiliki mulut yang cerdas.


"Aku..."


KRAKK...


"...Minta..."


KRAKK...


Oke, Zoe menjadi pucat pasi ketika melihat retakan pada dinding di toko pakaian yang menjadi saksi bisu pertengkaran mereka berdua.


"...Kau... Untuk..."


KRAKK....


Ada sedikit getaran di tanah tempat Zoe berpijak. Orang-orang yang kembali merasakan gempa susulan.


Terjadilan kepanikan part 2.


"BAIKLAH! AKU BERI!"


Seketika getaran itu menghilang. Retakan yang muncul pada dinding juga berhenti, tapi tetap meninggalkan bekas.


Wajah Naila seketika mencerah, "Bagus. Kau menjaga diriku dengan baik."


Di dalam hati Zoe. Ia akan menjambak rambut Ilka dengan sepuas hati nya. Atau tidak merubahnya menjadi katak dalam semalam.


Ohh... Bagaimana jika menaruh bubuk gatal di setiap pakaian yang akan di pakai Ilka?


Zoe harus mengingat rencana jahat yang ada di pikirannya.


"Mana uang?"


Naila mengadahkan tangannya-- bermaksud untuk meminta uang. Dan sepertinya Naila tidak memiliki urat malu.


Dengan kesal, Zoe merogoh dompet dari saku long coat nya. Setelah mendapatkannya, ia mengambil beberapa uang kertas dan memberikannya pada Naila.


.


Naila menatap beberapa uang kertas itu dengan bingung. "Apa ini?"


"Huh? Itu uang."


"Selembar kertas tipis ini adalah uang?" Tanya Naila sambil menerawang uang kertas itu.


"Hah?"


Zoe terlalu terkejut dengan bangsawan yang ada di hadapannya ini.


"Apa di sini tidak menggunakan koin emas, perak, atau perunggu?" Tanya Naila dengan wajah polos.


"Kau hidup di zaman apa?"


Naila kembali cemberut. "Seperti kau tidak mengetahui tempatku tinggal saja."


Sedetik kemudian Zoe mengangguk paham.


"Zoe! Apa itu?!" Tanya Naila dengan heboh.


Zoe melihat arah dimana Naila menunjuk sebuah gumpalan lembut bewarna-warni di sebrang jalan, yang dimana ada sebuah taman bermain khusus anak-anak.


"Itu? Gulali."


Mata merah Naila berbinar-binar. "Aku mau makan itu!"


"Bukankah tadi kau mau..."


"Aku tak peduli lagi!"


Naila menarik lengan kanan Zoe dengan kasar. Seketika Zoe meringis kesakitan hanya karena cengkraman dari bangsawan Vampire yang menariknya dengan tidak berperikemanusiaan.


Perlu diingatkan bahwa Naila adalah seorang Vampire yang memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata.


"Sakit! Hei!" protes Zoe.


Tapi sayangnya protesan Zoe tidak di gubris oleh Naila. Yang ada di pikirannya hanyalah makanan yang bewarna merah muda dan terlihat lembut itu. Ia ingin memakannya.


"Pak, dua makanan ini ya!"


Seorang pria paruh baya tersenyum lembut ketika mendengar permintaan dari gadis yang sangat cantik baginya."Siap nona!"


Mata merah ruby milik Naila berbinar senang ketika melihat proses pembuatan gulali atau arum manis.


Zoe yang memperhatikan aura kebahagiaan yang terpancar dari gadis pirang yang ada di sebelahnya ini sedikit merasa lucu.


Apakah ada seorang bangsawan yang ingin memakan arum manis yang hanya makanan murah?


Mungkin ada, tapi tidak seperti Naila yang langsung terjun ke lapangan hanya demi sebuah makanan manis.


"Ini nona" ucap si penjual sembari memberikan dua gumpalan lembut itu.


Naila ber-woaahh sebelum mengambilnya dengan mata berbinar. Ia mencobanya sedikit dan yang terasa di mulutnya seperti meleleh dan rasa manis menyebar di lidahnya.


"Ini enak!"


Zoe terkekeh. Naila yang sepertinya baru menyadari bahwa ada eksitensi lain di sebelahnya segera memberikan satu gumpalan Arum manis kepada Zoe. "Untukmu."


"Hah?"


"Kamu kenapa sih? Daritadi cuman Hah Huh. Tidak ada respon lain apa?" ucap Naila jengkel.


Zoe mengusap rambutnya sendiri. Sedikit merasa tertekan dengan ucapan gadis vampire yang ada di sebelahnya ini.


"Jangan murung, nih ambil" ucap Naila sambil menyodorkan arum manis. "Kudengar makanan manis bisa meningkatkan mood yang sedang buruk."


Menghela nafas sejenak, Zoe mengambil arum manis dari tangan Naila. Senyuman manis muncul di bibir ranumnya milik Naila.


Mereka berdua pergi setelah membayar. Di pandangan orang lain, mereka berdua terlihat seperti sepasang sahabat yang sangat akrab.


Tidak ada yang menyadari bahwa Zoe adalah seorang lelaki yang memiliki penampilan seperti wanita.


Sebenarnya, jika saja Zoe memotong rambutnya pasti orang-orang akan mengetahui bahwa Zoe adalah seorang lelaki.


Tapi... Entah alasan apa. Zoe tidak pernah mau memotong rambutnya.


Jadilah dia seperti diluar perempuan didalam lelaki tulen.


"Zoe! Zoe! Itu apa?"


Zoe melirik ke arah dimana Naila menunjuk tempat Aqua Land. Dimana hewan laut berkumpul di tempat itu.


"Itu tempat ikan-ikan berada" jawab Zoe singkat.


"Kalau itu?" Tunjuk Naila ke arah sebelah dari Aqua Land.


"Itu Rumah kaca. Tempat dimana tanaman hidup."


Tapi tunggu sebentar


Zoe baru menyadari suatu hal yang sangat penting dan tertinggal jauh.


Sejak kapan mereka memasuki taman bermain?


"Aku mau naik itu!" tunjuk Naila pada biang lala yang bergerak.


Oke, tiba-tiba saja Zoe merasa sedikit... Aneh?


Keantusiasan Naila menjadi suatu hal yang menarik bagi Zoe. Apa yang membuat gadis Vampire ini menjadi dua kali lipat lebih bahagia ketika berada di taman bermain menjadikan Zoe sedikit.... Apa ya? Sulit dijelaskan, tapi dirinya ikut senang dengan kebahagiaan Naila.


"Zoe? Apa kau melamun lagi?"


Ucapan dari Naila mampu menginterupsi Zoe dari lamunan membingungkannya.


Satu kata dalam pikirannya muncul.


Kencan.


PLAKK....


"Heh!?"


Zoe menampar dirinya sendiri. Tentu saja Naila terkejut ketika melihat Zoe yang menampar dirinya sendiri dengan kekuatan yang sepertinya tidak main-main.


'Kenapa aku jadi malu setelah berpikir kata kencan!' batin Zoe.


"Kau kenapa? Menampar diri sendiri."


"Ti-tidak. Tadi ada nyamuk" jawab Zoe ngasal.


"Tapi tidak perlu sampai menampar sekeras itu bukan. Lihat, wajahmu memerah" ucap Nail sambil mengusap-ngusap pipi sebelah kanan Zoe.


Ketahuilah Naila. Bahwa sebenarnya Zoe memerah karena kau mengusap Zoe dengan tanganmu yang lembut itu.


Zoe malu setengah mati.


Setelah mengusap lembut pipi Zoe. Naila memegang erat pergelangan tangan kanan Zoe. "Hari ini temani aku jalan-jalan. Besok aku akan di rumah saja."


Naila mengatakan hal itu seperti seorang istri yang manja kepada suaminya.


// Hadeh... Author jomblo cuman bisa meratap :')


Zoe mengambil nafas panjang, kemudian membuangnya. "Baiklah, hanya hari ini saja."


Naila tersenyum manis. "Terima kasih Zoe. Aku akan memberimu hadiah nanti."


'Hadiah?' pikir Zoe.


Pada hari itu. Mereka berdua berkeliling dan bermain permainan yang menyenangkan.


Beberapa kali dimenangkan oleh Naila dan beberapa kali dimenangkan oleh Zoe.


Di tangan mereka berdua penuh dengan hadiah-hadiah yang mereka berdua dapatkan.


Jangan lupakan nafsu makan yang besar dari gadis vampire ini. Setiap kali Naila melihat makanan yang menarik perhatiannya, dirinya langsung membelinya tanpa meminta persetujuan dari Zoe-- yang menjadi dompet berjalan Naila.


Untung Zoe memiliki banyak uang di dompetnya. Jika tidak Zoe akan mengalami kanker (Kantong Kering).


Perjalanan roman- ralat, perjalanan sahabat mereka berdua berakhir di sebuah bangku taman. Cukup melelahkan bagi Zoe, karena dia tidak pernah menemani seseorang selama seharian penuh.


Tenaga Vampire memang tidak bisa di remehkan.


"Ahh.... Lelahnya."


Zoe melirik Naila yang menutup matanya dan menyenderkan tubuhnya ke belakang.


"Disini menyenangkan."


"Tentu saja. Di tempat lain juga tidak kalah menyenangkan."


Naila tertawa pelan, "Aku ingin kesana. Lain kali ajak aku."


Zoe mengiyakan permintaan Naila. Lagipula tidak sulit juga. Hanya menemani Naila berkeliling di kerajaan Akai ini.


"Disini.... Sangatlah indah."


Naila memandang langit sore hari yang memunculkan semburat oranye cerah karena matahari terbenam. Mata merah ruby nya menampilkan kesedihan yang tidak dimengerti oleh Zoe yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik si bangsawan Vampire.


"Kau tahu. Di tempatku sangatlah gelap dan dingin. Dan juga orang-orangnya sangatlah tidak ramah" curhat Naila.


Zoe mendengarkan dengan seksama. Dari buku yang ia baca, ketika seorang wanita curhat kepada pria yamg baru di kenalnya. Wanita itu mempercayai pria itu sepenuh hatinya.


Entah darimana Zoe membaca buku roman seperti itu.


"Disini terlihat ceria dan menyenangkan" ucap Naila sembari menatap sebuah keluarga yang tertawa bersama.


"Apa kau ingin tinggal di sini?" Tanya Zoe.


Naila terperanjat, "Hah?!"


"Tinggal di sini. Di kerajaan Akai. Jauh dari masalah keluargamu yang rumit itu."


Naila menatap netra kuning emas milik Zoe. Ia merasa aneh dengan perubahan mendadak dari Zoe ini, tapi Naila cukup senang. Senang karena ada yang peduli dengannya.


Naila tertawa kecil, "Tentu saja aku tak bisa. Aku memiliki hak di kerajaan ku. Bagaimana bisa aku pergi melarikan diri begitu saja."


Ahh... Zoe melupakan hal penting. Bahwa sebenarnya Naila Ferelina Quava adalah calon Ratu di kerajaan Quava di benua Virda.


Ada suatu masalah di kerajaannya. Karena suatu masalah itu, Naila pindah ke kerajaan Akai dan tinggal di rumah Zoe.


"Kuhargai permintaanmu. Tapi Zoe..."


Zoe menatap Naila yang menundukkan kepalanya. "Kau baik sekali menawarkan tempat tinggal di tempat yang menyenangkan seperti ini."


Zoe tersenyum kecil, "Aku senang mendengar bahwa kau menyukai tinggal di sini."


"Tapi aku tidak menyukai rumahmu!"


Senyuman kecil di bibir Zoe langsung luntur begitu saja. Wajahnya merengut kesal. "Kalau begitu jangan tinggal di rumahku. Tinggal di rumah Leviathan atau Orga atau Ilka saja."


"Mereka? Hah.." Naila mendengus. "Rumah mereka bagai kapal pecah dan juga bau. Belum lagi Ilka hanya bemesraan dengan kekasihnya itu."


Sebagai teman, keluarga dan sahabat. Zoe merasa malu mendengarnya.


Apa yang di katakan oleh Naila tidak salah. Malah benar sekali.


"Kalau begitu kau ingin apa di rumahku?"


"Bunga!"


"Bunga?"


Naila mengangguk semangat. "Aku ingin taman yang seperti di rumah kaca tadi. Berbagai macam bunga yang cantik. Dan juga aku ingin ada ayunan di bawah pohon yang rindang."


"Permintaanmu banyak sekali" cibir Zoe.


"Bukankah itu hal yang mudah bagi Penyihir sepertimu, wahai Black Witch yang tersohor."


Zoe merengut seketika. "Jangan ingatkan julukan itu. Menyebalkan."


"Apa? Kau kesal?"


"Diam."


Naila tertawa keras. "Sebegitu mudahnya membuatmu kesal ya!"


Zoe cemberut. Sebuah raut wajah yang jarang di perlihatkan oleh Zoe.


Karena permintaan dari Naila, jadilah sebuah taman bunga di halaman rumah Zoe.


Permintaan Naila berhasil di kabulkan oleh Zoe dalam waktu tiga hari.


Naila menjadi bahagia ketika melihat berbagai macam bunga menghias halaman rumah Zoe yang sebelumnya hanya terdapat rerumputan hijau.


Zoe pun ikut tersenyum melihat aura kebahagiaan dari Naila.


Kemudian di hari selanjutnya terdapat kabar yang membuat Zoe membeku.


Naila Ferelina Quava dinyatakan


Menghilang dari dunia Egolas.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author Note:


EAAAA..... GIMANA GIMANA?


Seru kagak? Gimana cerita romance yang author buat khusus Rakka ini?


Oh iya, buat Naila ada author kasih clue di chapter 48 [Lupa]


Silahkan di baca ulang biar paham. Soalnya author tuh suka nya nyiptain masalah di awal-awal chapter.


Jadi nih karena si witch jadi-jadian. Rakka Hartez itu tanggal 20 April Ultah.


HBD RAKKA 😆🎊🎊🎊


Chap spesial buat Rakka. Buat Orga masih lama.


Segini dulu ya Author Note kali ini.


Adios!


Salam manis


Raiyu



100 kata