
'*Aku sudah mendapatkannya.'
'Oh, kenapa dia terluka?'
'.....Oh, kupikir dia kuat. Jadi aku menyerang dia dengan agak kasar, maaf.'
Siapa?
'Padahal sudah ku katakan jangan lukai dia.'
'Yaa... Sudah terlanjur bagaimana. Tapi perjanjian kita tidak akan hilang begitu saja, kan*?.'
Siapa yang berbicara itu.
'*Tidak akan. Ini bayaranmu, tapi kau tetap jaga-jaga disini. Aku yakin, dua anjing penjaga itu akan datang.'
'Heh... Kau benar*.'
Aku merasa sakit di sekujur tubuhku. Rasa sakitnya terasa seperti aku tesetrum listrik.
Perlahan aku membuka mataku, tapi pertama yang kulihat adalah. Gelap. Aku tidak melihat apapun.
"Oh, tuan muda. Anda sudar sadar."
Aku tak menjawabnya. Aku menggerakkan tangan dan kakiku, tapi aku merasa diikat. Aku merasa aku diikat di sebuah tiang, dan diikatnya bukan menggunakan tali, Tapi rantai. Posisi kusekarang sepertinya sedang berlutut, entahlah. Aku hanya bisa merasakan nya saja.
"Tuan muda, jangan bergerak. Kau tak ingin mati bukan."
Aku berhenti bergerak. Maksudku, ancamannya itu. Terasa nyata.
"Setidaknya buka penutup mata ini."
"Tuan muda, aku ingin tapi aku tak bisa melakukannya."
Sialan, orang ini mempermainkanku.
Aku mendengus. "Huhh... Tak kusangka kau takut anak kecil."
"Walaupun kau anak kecil, tetap saja kau anak kecil monster."
Monster?
"Bahkan dua penjagamu itu monster. Kalau saja aku tak punya teknik teleport itu, aku sudah mati."
"Oh, seharusnya kau mati saja."
"Tuan muda, omonganmu kasar."
Tiba-tiba saja instingku berteriak. Aku merasakan ada bahaya dari arah samping kanan ku.
Aku menunduk, dan ada satu benda, tajam sepertinya, melesat di atas kepalaku.
"....."
"Woww.... Aku takjub dengan instingmu."
"Kau tau. Yang tadi itu berbahaya. ********."
BUAKHH....!
Aku merasa ada satu tendangan yang mengenai perutku. Alhasil aku menjadi terbatuk-batuk. Serius, ini sakit.
Aku ingin menghindar sebelumnya, tapi percuma. Aku terikat cukup kencang.
"Tuan muda, aku mulai kehilangan kesabaran."
"Uhuk...uhukk... Aku juga sudah mulai hilang kesabaran, pak tua."
BUAKHH...!
Lagi, kali ini dia menendang di sekitaran rahangku.
Aku merasa rahangku bergeser.
"Bocah, aku memang tidak bisa membunuhmu. Tapi melukaimu tidak akan jadi masalah."
"Mungkin menjadi masalah. Untuk dua penjaga ku."
"Anjing penjagamu itu? Dia bahkan tak bisa mengalahkanku."
Aku tersenyum miring. "Itu karena aku bersamamu. Mereka jadi tidak bisa mengeluarkan kekuatan nya secara optimal. Kau menggunakanku menjadi sandera, kau pengecut."
"Bocah, mulutmu itu tidak bisa diam yah."
Wahh... Pak tua ini marah. Sebelumnya nada suaranya selalu tenang. Sekarang nada suaranya terdengar dingin. Panggilannya pun berubah, dari tuan muda jadi bocah.
"Bocah, aku akan memberikanmu rasa sakit sampai dua penjagamu datang."
Terdengar suara langkah kakinya yang menjauh, dan ada beberapa suara yang aku tak tau apa itu. Tapi intinya aku merasa bahaya.
Dia kembali, dan aku mendengar barang itu.
'Air?'
Ya, aku mendengar suara cipratan air. Mungkin yang jatuh karena pergerakan orang itu, tapi aku yakin yang dia bawa adalah air.
"Aku yakin kau tau, benda apa yang kubawa ini."
"...."
Apa yang ingin dia lakukan.
SRASSHH...
Dia menyiramkan air itu ke tubuhku, tubuhku langsung basah kuyup.
"Ngomong-ngomong bocah. Kau tau kita ada dimana."
"....."
Aku mulai merasa ada yang tidak beres.
Aku merasa orang di hadapanku ini tersenyum miring.
"Kita berada di Kutub Utara."
"Dan kau tau, baru saja aku menyiramkan air ke tubuhmu, seharusnya kau tau apa yang serjadi selanjutnya."
Hyportemia. Aku akan mati kedinginan disini.
"Jadi, mari kita tunggu dua penjagamu itu. Mereka harus cepat Atau kamu mati."
Hahahaha... Sepertinya aku terjebak bersama dengan orang gila.
||°°°°°||
Di sisi lain, di rumah Sergio. Fahrez dan Rakka sedang berdiskusi.
"Sialan, bagaimana bisa dia menculik Sergio."
Fahrez, dia menggerutu kesal semenjak orang asing itu pergi bersama Sergio.
"Fahrez, menurutmu dimana mereka bersembunyi."
Fahrez, dia langsung memasang ekspresi wajah serius.
"Aku merasa... Sergio berada di.... kutub selatan?"
Rakka menggeleng. "Kau pasti berpikir orang itu membawa Sergio kesana karena disana akan terbuka gerbang."
Fahrez mengangguk. "Iya, menurutku mereka akan menghambat kita. Aku sudah mengira kalau nanti harus melawan musuh di pintu masuk gerbang."
"Mereka memang berpikir seperti itu, tapi di saat yang sama juga bukan."
"Maksudnya."
"Kita berdua, bisa saja mengalahkan mereka semua. Tapi dengan adanya Sergio, mereka memanfaatkan hubungan kita bertiga."
"Maksudmu sandera?"
Rakka mengangguk. "Benar. Bukankah sudah terlihat dari pertarungan kita tadi. Orang itu memanfaatkan Sergio. Dia menjadikannya sandera."
"Kamu benar. Jadi, apa yang harus kita lakukan?"
"Kita berpencar."
"Hah?"
"Iya, berpencar. Kau ke kutub selatan, dan aku ke kutub utara. Musnahkan semua musuh yang menutupi pintu gerbang."
"Tunggu, tunggu, tunggu dulu! Kamu menyuruh kita berpencar?!"
Rakka mengangguk, mengiyakan.
"Tapi, bisa saja Sergio berada di kutub selatan."
"Tidak, Sergio berada di Kutub Utara. Aku yakin itu."
"Kenapa kamu seyakin itu."
Rakka tersenyum mendengarnya.
"Sebut saja, insting."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
||°°°°°||