The Another Soul

The Another Soul
Ch. 37



"Dan, siapa sebenarnya kalian bertiga ini."


"...."


"...."


"Tidak menjawab, yah. Sudahlah aku akan mencari tau-nya sendiri."


Untuk sesaat, atmosfer di sekitar mereka terasa berat. Tidak ada yang berbicara satupun, sampai datanglah dua orang yang mereka kenal.


"Selamat pagi! Eh, ada Sergio juga. Hai, apa tidurmu nyenyak?"


Yang menyapa Sergio adalah Orga, diikuti dengan Reina di belakangnya.


"Oh, ada sarapan. Pasti ini buatan Rakka."


Orga langsung mengambil dua roti, dia memberikan satu pada Reina. Reina menerimanya, kemudian memakannya.


"Ada apa? Kenapa kalian terlihat suram?"


"Tidak, kami hanya membahas sekolah pada Sergio" ucap Rakka.


"Sekolah? Ohh...pesan yang kau kirimkan pagi ini, yah."


"Iya, kau tidak keberatan kan?"


"Kalau keberatan, mungkin lebih tepatnya aku bingung. Bukankah sekolah itu hanya menerima seorang murid yang hanya memiliki sihir?"


"Apa maksudnya itu?" Ucap Sergio.


"Begini" Orga menghabiskan rotinya dengan cepat, kemudian menjelaskan. "Kamu Sergio, tidak memiliki energi mana di dalam dirimu. Sirkuit sihir pun juga tak punya, intinya kamu hanyalah seorang manusia biasa."


"Eh?"


"Apa? Apa kamu masih belum paham juga?"


"Bukan, apa itu Energi mana dan sirkuit sihir. Aku tak tau apapun tentang itu."


"Oh, Rakka...."


Orga menoleh dan menatap tajam Rakka. Rakka terperanjat, melihat tatapan Orga.


"A-aku, aku baru saja ingin menjelaskan!"


"Bagus. Kau membiarkan Sergio berada di dunia ini dengan tanpa pengetahuan apapun. Benar-benar, sebagai seorang penjaga, seharusnya kau bisa menjelaskan suatu hal yang membuat Sergio bingung."


"Orga, tu-tunggu..."


"Dan kau sendiri bahkan membiarkan Sergio bertanya lebih dulu. Apa kau benar-benar seorang penjaga."


"Pfft....Haha...HAHAHAHAHA....!!!"


Mereka berempat menatap Sergio yang sedang tertawa keras. Dia bahkan memegang perutnya.


"Ada apa dengannya?" Tanya Orga sambil menunjuk Sergio.


"Apa dia gila?" Ucap Reina.


"Umm..." Fahrez terlihat bingung menjelaskan.


"Bukan...begitu...Bwahahaha... Perkataanmu tadi, ada benarnya. Orga."


"Eh?"


Rakka menunduk. Rambutnya menjuntai kebawah, menutupi seluruh wajahnya.


Setelah puas tertawa, Sergio menatap Serius Orga. Sebuah perubahan emosi yang terlalu cepat, tapi Sergio ingin tahu.


"Orga, bukankah katamu. Seorang penjaga harus menjelaskan suatu hal yang membuatku bingung. Benar bukan?"


"Ya, apa ada yang salah?"


"Kalau begitu. Bisa kamu jelaskan, siapa sebenarnya dirimu."


"...."


"Ternyata sama saja."


Sergio berdiri, dia berbalik, meninggalkan mereka semua. Tidak ada yang menghalangi Sergio pergi. Mereka terdiam.


Sergio pergi ke arah kamarnya, kemudian terdengar suara pintu yang tertutup.


"Bisa kalian katakan. Apa yang terjadi sebenarnya?"


Rakka dan Fahrez saling lirik.


"Pertama-tama, duduklah dulu. Kamu juga Reina" ucap Fahrez.


Orga mengikuti perkataan Fahrez. Mereka berdua duduk, dan menatap Fahrez dan Rakka bergantian.


"Begini," Rakka memulai. "Tadi dia bertanya. Siapa sebenarnya kita ini."


"Biar kutebak. Kalian tidak menjelaskan-nya bukan?" ucap Orga.


Rakka menggelengkan kepalanya. "Tidak, seharusnya kau tahu alasannya bukan."


"Tentu saja aku tahu. Resikonya terlalu besar jika kita memberitahukan identitas asli kita padanya."


"Huh... Jadi itu masalahnya."


Reina masuk ke dalam pembicaraan. "Menurutku, kalian semua itu bodoh."


"Hah? Apa maksudmu?" Ucap Fahrez.


"Maksudku adalah. Apa kalian tidak mengerti perasaan Sergio?"


"Perasaan?" ulang Rakka.


"Ahh... Aku lupa, kalian adalah seorang pria yang tidak peka dengan keadaan sekitar. Hmm... Aku paham kebodohan kalian."


Reina mengangguk. Untuk sesaat, tiga orang laki-laki yang mendengarnya, merasa tersinggung.


"Reina, bisa jelaskan dengan cara yang baik-baik. Aku tak paham apa maksudmu" ucap Fahrez.


"Tentu saja, aku bisa menjelaskan. Bahkan orang bodoh pun bisa paham dengan cepat."


"HEI....!"


"Pertama, kalian semua pasti sudah mengetahui kehidupan Sergio ketika berada di Bumi."


"Ya" jawab Rakka.


"Dari apa yang kudengar, di bumi. Sergio selalu sendirian, tidak ada yang menemaninya. Setelah kepergian kakek Sergio, itu semakin memperburuk. Dan juga kepergian seseorang yang penting baginya, kalau tak salah namanya adalah Mira bukan?"


"Tunggu, bagaimana bisa kamu tau?" Tanya Rakka.


Reina memutar bola matanya. Dengan nada meremehkan, Reina berkata.


"Kau tidak lupa dengan sihirku bukan? Sihirku adalah [Dream Vision], aku bisa melihat mimpi, dan ketika aku melihat mimpi itu. Aku juga bisa melihat ingatannya."


"Dan dari yang kulihat, ada satu nama yang selalu ada di ingatannya. Namanya adalah Mira."


"Kau benar" ucap Rakka.


"Jadi aku mau mengatakan suatu hal disini. Sergio, dia itu sebenarnya ingin mengenal kalian."


"Bukankah dia sudah mengenal kami?" Ucap Fahrez.


"Hah? Bodoh, memangnya dia itu Ilka. Namanya adalah Sergio, bukan Ilka. Siapa kau yang berkata bahwa Sergio mengenal kalian."


Fahrez tidak menjawab.


"Selama ini kalian bersama Sergio, dia hanya tau wajah dan nama kalian. Untuk yang lainnya, dia tidak tahu. Dan sesuatu yang harus kalian ingat, Sergio masih muda, tidak seperti kalian yang sudah berumur ratusan tahun ataupun ribuan tahun."


"Umm... Reina, bukankah kau juga berumur ratusan tahun?" ucap Orga.


"Tuan, anda ingin saya pukul?"


"Tidak. Lupakan perkataanku barusan."


Orga menunduk.


"Jadi, mengertilah perasaan Sergio. Selama ini dia tidak punya siapa-siapa. Dan ketika dia tidak memiliki apapun, tiba-tiba saja datang dua orang yang menyebut dirinya penjaga. Kemudian membawanya kesini, dan memperhatikannya. Itulah...yang dia rasakan sekarang. Dia ingin mengenal kalian, ingin tahu apa dia pantas bersama kalian."


"...."


"...."


"...."


"Sekarang. Apa kalian mengerti?"


Untuk sesaat tidak ada yang menjawab. Tapi Reina tahu, dari raut wajah mereka. Mereka semua sedang memikirkan perkataan Reina dengan serius.


"Ya, kami mengerti. Terima kasih Reina, sudah menjelaskan pada kami" ucap Rakka.


"Sudah tugasku. Kalian hanyalah para lelaki yang sudah melupakan perasaan, apalagi yang ada di sebelahku ini."


"Reina, aku tidak pernah melupakan perasaanku padamu."


"HA. HA. HA. Teruslah berkata seperti itu, tuan."


"Tapi apa yang kukatakan benar adanya. Perasaanku hanyalah untukmu."


"Oh, sepertinya aku mendengar buaya darat yang berbicara. Hahh... Ini bahaya, bahaya..."


Sedangkan dua orang yang mendengarnya. Hanya bisa mengasihani Orga yang terlihat seperti serba salah.


Rakka menepuk bahu Orga, kemudian berkata.


"Saudaraku, kau harus sabar menghadapi cobaan."


"Rakka, ini bukan cobaan. Tapi kenyataan pahit."


"Kau benar. Makanya ku katakan sabar."


Orga mengelus dadanya.


"Ngomong-ngomong, apa kalian tidak merasakan dingin?"


Fahrez berbicara sambil menggosokkan kedua tangannya. Setelah Fahrez berkata seperti itu, yang lain juga baru menyadari.


"Eh? Kau benar. Tiba-tiba saja terasa dingin" ucap Orga.


"Uhh...dingin sekali."


Reina memeluk dirinya sendiri. Orga yang melihatnya, segera membuka jaket yang dia pakai. Dia meletakkannya di pundak Reina, kemudian mengusap kedua lengan atas Reina.


"Sekarang hangat bukan."


"Sedikit, huh...dasar buaya."


"Apa tadi?"


"Tidak ada."


Reina menggelengkan kepalanya cepat.


"Tunggu, ini tidak wajar."


"Benar, kenapa di sini sangat dingin."


Fahrez membenarkan ucapan Rakka. Mereka berdua saling lirik, kemudian melihat ke arah Orga yang sedang melihat mereka juga.


Satu nama yang tiba-tiba muncul di pikiran mereka bertiga.


"""SERGIO!!!"""


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


||°°°°°||