
''Hei ada apa ini?''
''Apa kalian merasakan sesuatu?''
''Uhh aku merasa dingin...''
Dan berbagai macam bisikan lainnya lagi.
Dewi Nyra yang saat ini sedang menyamar diam-diam keluar dari tempat latihan. Ia berjalan pelan ke arah luar yang dimana terdapat taman bunga yang terihat sepi, ia ingin memanggil seseorang.
Di taman itu. Perlahan penampilannya berubah menjadi wujud asli dewi miliknya. Rambut hijau gelap serta mata hijau itu kembali. Ia berdiri dengan tangan yang hendak menggapai telinga kanan miliknya.
Tetapi ada sebuah tangan yang menghalangi. Dewi Nyra terkejut, ia langsung menoleh ke belakang dan mendapati seseorang yang sangat ia kenali.
"Ellion?!"
Perlahan pria itu-- Ellion menurunkan tangan kanan Dewi Nyra. "Jangan panggil siapapun" ucapnya pelan.
Dewi Nyra menghela nafas panjang, "Bukankah hal ini terlalu menarik perhatian?"
Ellion tersenyum tipis, "Aku berharap mereka akan datang dengan sendirinya."
Dewi Nyra melotot "Kau berniat menjadikan anakmu sebagai umpan?!"
"Hei, aku tidak sejahat itu. Walaupun ya... Aku berniat seperti itu."
Dewi Nyra kembali merasa akan terkena serangan jantung. "Orang tua macam apa kamu ini."
Ellion tertawa pelan, "Nyra. Dia masih belum kuat untuk melindungi dirinya sendiri."
"Huh... Ya, masih belum kuat setelah ia mengeluarkan potensi pedangnya sebesar 30%."
Ellion mendengus geli "Bukan dia yang mengeluarkan kekuatannya."
Alis Dewi Nyra mengerut "Apa?"
"Dan juga pedang itu masihlah belum mengakui Sergio sepenuhnya."
"Tunggu. Apa? Bagaimana bisa?"
Ellion menghela nafas keras, "Lebih baik kita menonton apa yang terjadi."
"Hei, kamu belum menjawab pertanyaanku!"
Ellion tersenyum miring "Lebih mudah di lihat daripada di katakan."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TRANGGG...
"Kuh...!"
"Kenapa? Kau lelah?"
Sergio berdecih.
Sergio kembali maju menyerang Arthur yang berdiri diam dengan tatapan tajam serta seringaian yang terus terpatri di bibir miliknya.
Sergio dan Arthur.
Cahaya dan kegelapan.
Saling bertolak.
Princeps Lucem dan...
"Airuz. Ya, Airuz. Bagaimana menurutmu?" Reyya menoleh ke belakang-- di mana kursi dan meja di letakkan-- di sana terdapat seseorang yang duduk dengan raut wajah serius.
Dia adalah Galeon.
"Kau memberikan nama kepada siswa baru?" Tanya Galeon dengan heran.
Reyya tersenyum tipis, "Dia pengecualian."
Galeon mendengus remeh. "Airuz.... Permata? Kenapa kau memberi nama Airuz?"
Reyya terkekeh, "Hanya terlintas di pikiran begitu saja."
Galeon mengangguk, "Kau tidak berniat menghentikan mereka berdua?"
Reyya melirik sekilas ke arah pertarungan kedua muridnya. Ia melihat Arthur yang seperti bernafsu ingin membunuh Sergio. Dan Sergio yang terlihat susah payah menghindari serangan-serangan cepat yang DIMANA Sergio melihat arah serangan-serangan itu, tapi selalu terlambat untuk menghindar.
Reyya tersenyum miring "Jika seseorang ingin mendapatkan kekuasaan" Reyya menatap Galeon tepat di mata Galeon. Menatap dengan serius, "Seseorang itu harus merasakan. Apa itu sebuah kegagalan."
Galeon mengangkat bahunya ke atas "Oke. Aku mengerti" Galeon berdiri dari duduknya dan sedikit memperbaiki pakaian miliknya. "Hentikan mereka jika sudah melewati batas."
"Pastinya" ucap Reyya tegas.
Dalam sekejap Galeon menghilang dari pandangan Reyya.
Reyya kembali memperhatikan pertarungan yang terlihat berat sebelah itu. Netra coklat madu itu berbinar senang karena ia melihat seseorang yang bisa ia poles menjadi permata paling indah.
Kita kembali ke pemeran utama.
Sergio menahan sebuah tusukan yang mengarah tepat ke arah perutnya. Sergio mendorong pedang milik Arthur sembari menyerang maju dengan cepat sebagai momentum.
Arthur perlahan mulai mundur karena serang Sergio yang terlihat cepat dan kuat.
'Hmm... Terlihat seperti sudah terbiasa, tapi...'
Arthur menahan satu sabetan pedang Sergio, dan sedetik kemudian pedang milik Arthur menyerang dengan cepat ke arah bahu kanan Sergio.
Bahkan tidak bisa di lihat Sergio, yang di mana mata miliknya bisa melihat pergerakan yang cepat sekalipun akan melambat atau di sebut slow motion.
Arthur tersenyum remeh 'Amatir.'
Netra hitam Sergio membelalak terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Arthur yang berhasil membuat dirinya sedikit kehilangan keseimbangan.
Dengan cepat Sergio menumpu kekuatan ke arah telapak kaki kiri-nya dan melompat ke arah kiri-- berusaha menjauhi Arthur yang terlihat....
Berbahaya.
Sergio menarik nafasnya, terlihat nafas Sergio tak beraturan dan berkeringat. Netra hitam milik Sergio bersinar kebiruan sesaat dan kembali ke warna hitam.
Perubahan sesaat mata Sergio tak lepas dari pandangan Arthur dan juga Reyya.
Sergio merasa sedikit perih di bagian bahu. Sergio melirik ke arah bahu kanannya yang memperlihatkan luka gores yang cukup lebar dan di pinggiran luka terlihat memperlihatkan cahaya kuning keemasan.
'Aku tak menyadarinya.'
Sergio sama sekali tak menyadari akan sebuah serangan yang di berikan oleh Arthur. Walaupun ia sudah menghindar, tapi tetap saja percuma.
Untuk sesaat Sergio melihat perbedaan emosi yang di perlihatkan oleh Arthur.
Jika di saat mereka pertama kali bertemu terlihat aura pertemanan dari Arthur.
Tapi saat ini. Di atas panggung ini. Arthur terlihat berbeda. Sangatlah berbeda.
Permusuhan dan...
Tertekan?
TRANGG....!
Percikan api kecil akibat pergesekan antar dua belah besi memperlihatkan betapa sengitnya pertarungan mereka berdua.
Arthur kembali menyerang. Kali ini Arthur tidak membiarkan Sergio untuk mengambil nafas sejenak. Arthur terus menyerang secara beruntun sembari bergerak maju yang dimana membuat Sergio berjalan mundur sembari menahan serangan tiap serangan Arthur.
'Ini gila...'
Sergio berdecih. Menurut Sergio ini bukanlah latihan , tapi sebuah pembunuhan berencana.
Sergio menggertakkan kedua giginya.
"Berhentilah waktu dan pulihkan, Archo Gerna!"
ZINGG....
Seketika waktu berhenti.
Sekeliling Sergio menjadi sunyi dan tidak ada pergerakan siapapun.
Tapi-
DUAK....!
'Apa?!'
Sergio berguling dengan kasar beberapa kali dan berakhir di pinggir panggung.
Ada seseorang yang menendang punggungnya dengan keras.
Sekejap kemudian waktu kembali seperti semula. Terdengar beberapa suara yang bingung kenapa Sergio terbaring di pinggir panggung?
Sergio membelalakkan kedua matanya. Ia sangat yakin dirinya sudah menggunakan Archo dengan baik.
'B-bagaimana bisa?'
Sergio kembali berpikir sejenak. Sebenarnya ia tidak melihat tubuh Arthur saat waktu berhenti. Itu berarti...
"K-kau bisa bergerak?!"
Arthur yang berada di tengah panggung tersenyum tipis.
Senyuman tipis itu cukup menjadi jawaban bagi Sergio.
"Berdiri Sergio. Duel ini belum selesai."
Sergio terdiam. Ia menatap tepat kearah netra hijau zamrud milik Arthur.
Terlihat berbeda dengan tatapan Arthur awal bertemu dengan dirinya.
Sergio berusaha bangkit berdiri walau punggunya terasa nyeri. Tendangan yang di berikan oleh Arthur tidaklah main-main. Benar-benar menyakitkan.
Sergio menggenggam erat pedang miliknya. Sergio merasa sedikit kesal kepada Arthur.
"Hei Arthur" panggil Sergio.
Arthur tak menjawab. Arthur hanya berdiri dalam posisi siap bertarung.
"Apa aku memiliki masalah padamu?" Tanya Sergio dengan matanya yang berubah menjadi biru terang dan menatap tajam Arthur.
Arthur tiba-tiba saja merinding hanya karena tatapan Sergio.
Arthur mengeratkan genggaman tangannya kepada pedang miliknya.
'Tugasmu mudah...'
Arthur menutup kedua matanya. Sebuah ingatan yang tidak ingin ia ingat melintas begitu saja di dalam pikirannya.
'.... Buatlah Sergio...'
"Arthur, aku akan serius kali ini."
Arthur membuka kedua bola matanya. Ia menatap Sergio yang dimana kedua mata Sergio sudah berubah menjadi biru terang dan ada beberapa akar bewarna hitam yang merambat dari ujung jari dan perlahan-lahan menjalar-- seperti ingin mencapai sesuatu.
Arthur sebenarnya tak ingin melakukan ini, tapi...
'... Memakai kekuatannya terus menerus....'
Arthur memasang posisi bertahan ketika Sergio melesat dengan begitu cepatnya. Sangat berbeda dengan pertarungan mereka di awal.
'... Itu akan membuatnya kelelahan secara fisik dan mental...'
Mata biru milik Sergio mengintimidasi Arthur yang terlihat berpikir sendiri. Arthur kemudian melompat mundur dan menarik nafas yang dalam.
Ia akan serius juga.
"Ibu, maafkan aku."
Arthur mengangkat kedua tangannya ke atas-- tepat di atas kepala. Partikel-partikel cahaya keemasan kemudian berkumpul tepat di sisi runcing pedang milik Arthur.
'...Kemudian ketika Sergio lelah, Kami akan...'
"EX...!"
Sergio memasang posisi bertahan ketika ia merasakan akan sebuah pertanda bahaya yang akan datang jika ia terlalu dekat dengan Arthur.
'... Membunuh Sergio.'
"....CALIBUR...!!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author Note:
Yo? Yuhuuu....
Wkwkkwkw
Maaf Rai menghilang terlalu lama ya😆, Rai terlalu sibuk di Real Life hingga hampir melupakan ada dua novel yang harus di tulis ehehehehe :)
Oh ya. Bagaimana menurut kalian chapter kali ini? Gimana? RAI BUTUH KRITIK DAN SARAN INI 😤
*Untung Rai abis nonton Rurouni Kenshin Live Action. Ada sedikit gambaran buat duel antara Arthur dan Sergio *wkwkwkw*
Oke, satu chap dulu deh.
Tiba-tiba Rai pengen nulis ke novel sebelah :v
SORRY GANTUNG LOH YA AWOKAWOKAWOK
Oke segitu dulu Author Note kali ini ini.
ADIOS!
1. 303 Kata