
Di suatu malam yang gelap. Malam yang hanya ditemani oleh bintang-bintang tanpa bulan yang menyinari.
Di kedalaman hutan lebat yang gelap dengan pohon-pohon rindang yang tampak indah saat siang hari, tapi sangatlah menyeramkan saat malam. Kemudian beberapa tanaman bersinar redup dengan cahaya berbagai macam warna. Suara hewan malam mulai bersuara, menciptakan alunan musik yang sangat khas.
Dan di sebuah batang pohon yang cukup lebar dan kuat itu, terdapat seseorang yang berbaring dengan kedua tangan yang menjadi bantal. Dari perawakannya terlihat bahwa seseorang itu adalah seorang lelaki.
Orang itu terlihat menutup matanya, kulitnya sedikit kecoklatan dikarenakan sinar matahari, surai pendek coklat gelapnya terlihat beberapa ranting pohon yang tersangkut di rambutnya. Kemudian pada kedua kakinya terdapat gelang kaki yang dimana terdapat warna merah dan biru. Di tiap kiri dan kanan terdapat dua gelang yang setiap kali bergerak akan menimbulkan suara besi bergesekan.
Orang itu tidak memakai alas kaki. Alias bertelangjang kaki. Seseorang itu memkai baju lengan pendek bewarna kuning dengan sedikit motif di bagian sekitar leher, kemudian celana panjang longgar bewarna putih kekuningan.
Beberapa saat kemudian terlihat pergerakan darinya. Orang itu membuka kedia matanya. Terlihatlah netra coklat terangnya yang bisa saja terpesona dengan tatapan tajam serta buku mata lentik yang indah itu.
Kemudian seseorang itu duduk bersila dan menghela nafas kesal. Setelahnya ia menggaruk kulit kepala yang sebenarnya tak terasa gatal, tapi dia merasa....
"AGHHH.... WANITA SIAL..!!"
Kesal. Dia merasa kesal.
"Kenapa wanita itu tak pernah puas hah?! Apa tak cukup mengambil ibunya! Sekarang ingin mengambil anaknya lagi! Astaga, rasanya aku ingin..."
Lelaki itu terdiam sesaat. Setelahnya ia menunduk lesu "Wanita sial. Tunggu saja, aku akan membunuhmu."
Lelaki itu kemudian berdiri dari duduk bersilanya. Ia bersender di dahan pohon dengan bersedekap dada, netra coklat terangnya itu menatap sekeliling dengan waspada.
Posisinya saat ini berada di atas pohon tertinggi di tempatnya. Belum lagi hutan tempatnya ini terkenal dengan hewan buas yang tak pandang bulu, monster yang tidak diketahui, dan beberapa pasar gelap yang menjadi tempat orang-orang menjual budak atau hal illegal lainnya.
"Hmm... Tidak ada yang berubah, tapi kenapa..."
Lelaki itu kemudian menutup matanya sejenak. Dalam penglihatannya, ia bisa melihat dari kejauhan. Mau seberapa jauhnya itu, ia bisa melihatnya.
Hal pertama yang ia lihat adalah para hewan buas. Khusus untuk hewan buas yang nocturnal, mereka sedang mencari mangsa disaat malam begini. Dianggap tidak ada masalah, lelaki itu kemudian berpindah ke arah monster.
Untuk monster, mereka masihlah aktif sampai saat ini. Bahkan dirinya bisa melihat ada satu pedagang gelap yang sudah di musnahkan oleh sekelompok monster.
Selanjutnya ia berpindah ke arah pasar gelap di dalam hutan.
Pasar gelap yang ada di hutan ini ada empat pasar yang sesuai arah mata angin. Setiap tempat berbeda-beda dengan apa yang dijual.
Lelaki itu kemudian memeriksa dengan teliti keempat pasar yang terlihat ramai.
Keningnya mengerut, terlihat bingung.
Merasa tidak ada yang aneh, ia membuka kedua matanya kembali.
"Aneh. Aku merasakan sebuah aliran mana kuat yang sudah lama tidak kurasakan."
Lelaki itu kembali mencoba. Dengan penglihatan dirinya, ia pasti bisa melihat akan sesuatu yang sangatlah kuat itu.
Benar-benar kuat, tapi sayangnya...
"Hm? Aliran mana yang sangat berantakan."
Lelaki itu kemudian memasang ekspresi wajah bingung.
"Kenapa aku bisa merasakan aliran mana-nya, tapi tak bisa melihat rupa tubuh si milik aliran mana itu?"
Lelaki itu meingetuk-ngetuk jarinya. Terlihat bahwa ia sedang berpikir keras akan suatu hal.
"Ugh... Aku sudah pusing memikirkan wanita itu. Kemudian aku pusing memikirkan aliran mana yang sangat berantakan ini. Benar-benar hari yang sial!"
Suara kedua besi yang bergesekkan itu kembali terdengar. Tapi lelaki itu terlihat tak peduli dan mulai menggoyang-goyangkan kedua kakinya karena hal ini merupakan suatu kebiasan dirinya sedari dulu.
"Ah sudahlah. Aku mau tidur."
Dan lelaki itu kembali berbaring sepert semula.
Bedanya adalah-- sebelumnya ia tidur dengan pikiran kosong, tapi kali ini ia tidur dengan pikiran-pikiran yang terus memenuhi kepalanya.
"Ughh... Ayolah tidur. Besok aku harus mengambil madu di goa."
Seperti sebuah perintah. Perlahan-lahan kelopak mata itu tertutup karena terasa berat dan rasa ngantuk yang melanda.
Beberapa saat kemudian lelaki itu tertidur.
Tapi dalam tidurnya, ia merasa mendengar satu kalimat.
'Hiduplah! Dan kita akan bertemu lagi, sahabatku.'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi harinya....
"HUWAAAA.....!"
Suara teriakan itu menggema di dalam hutan. Bahkan burung-burung yang sedang menghinggapi beberapa ranting pergi terbang karena terkejut dengan suara teriakan itu.
Terlihat lelaki yang sebelumnya itu sedang berlari kencang dengan tangan kanan yang menggenggam erat sebuah botol berisi cairan kental bewarna kuning.
Kemudian di belakang lelaki itu terdapat seekor beruang sepanjang lima meter yang mengejarmya dengan mata buas yang tak pernah lepas dari seonggok manusia yang berlari ketakutan.
"Maaf tuan beruang! Aku hanya ingin mengambil madumu!"
GROAAA...!
Beruang itu semakin ganas. Sesekali beruang itu menyerang lelaki itu menggunakan cakar tajam miliknya.
Mengetahui bahwa beruang itu akan menyerangnya, ia berkelit dengan menunduk kebawah.
SRETT...!
Wajah lelaki itu menjadi pucat. Ia melihat beberapa daun dalam radius 7 meter semuanya terbelah menjadi dua.
Lelaki itu semakin kencang berlari. Ia ketakutan, tapi ia tak bisa melawan beruang buas yang tengah marah ini.
Ia tidak memiliki kekuatan atau lebih tepatnya.
Ia tidak memiliki aliran mana dalam tubuhnya.
Akan tetapi ia memiliki kelebihan dengan mata yang bisa melihat dari kejauhan serta ia bisa merasakan aliran mana seseorang.
Aneh bukan? Tidak memiliki aliran mana dalam tubuhnya, tapi ia bisa merasakan aliran mana milik orang lain.
Contohnya seperti saat ini.
Posisi-nya saat ini adalah berada di pinggir sebuah aliran air yang cukup deras.
Aliran air yang cukup deras ini karena di sebrang sana terdapat air terjun.
Matanya menatap nanar kebawah, yang dimana jika ia melompat tingginya itu tidak main-main.
Lelaki itu berbalik. Ia melihat beruang itu berjalan pelan ke arahnya.
Sepertinya beruang itu merasa telah mendapatkan mangsanya dalam jangkauan.
"Huh, mencoba memakanku?"
GRRRRR.....
Beruang itu menggeram.
"Di belakang terdapat monster, di depan terdapat jurang..." netra coklat terang itu kemudian menatap si beruang dengan tajam. "Kau ingin memakanku?"
Beruang itu menggeram. Terlihat sangat ingin memakan lelaki itu yang dengan beraninya mengambil madu miliknya.
Lelaki itu tersenyum miring, "Tangkap aku kalau begitu!"
Lantas ia berlari sekuat tenaga. Menjauhi beruang yang mulai mengetahui niat dari lelaki itu.
Ia akan melompat dari ujung tebing ini, dan jatuh di atas air dingin dengan aliran yang deras.
Tak butuh waktu lama, lelaki itu mencapai air dalam waktu beberapa detik.
BYURR...
Lelaki itu mengambangkan tubuhnya. Tubuhnya terasa sakit karena hantaman tubuhnya dengan air.
Menyadari bahwa ia terlalu lama berada di dalam air. Ia kemudian berenang ke atas dengan cepat.
Tapi.
'Gerna!'
Sebuah senyuman lembut ia lihat dari orang yang berada di hadapannya ini. tubuhnya tak bisa bergerak karena ditahan oleh seseorang.
'Maaf. Hiduplah dan kita akan bertemu lagi. Wahai sahabatku, Matua.'
'Tidak! Tidak! Gerna! Kumohon jangan!'
Kemudian hanya terdengar suara teriakan penuh keputusasaan.
'Kenapa kau menahanku!...'
Seorang lelaki dengan rambut coklat gelap itu menggertakkan giginya. *Kemudian ia meneriakkan satu nama yang membuat dirinya merasakan akan suatu emosi yang disebut.
Amarah*
'.... ILKAVIUS!!!'
"HAHHH... HAHH...!!"
Lelaki itu telah sampai di permukaan. Ia mengambil nafas dengan cepat. Nafasnya terasa sesak karena sebuah ingatan yang tiba-tiba saja memasuki kepalanya.
"A-apa... Itu?"
Ia melihat sebuah ingatan yang samar, tapi ia bisa mendengar suara yang sangat jelas.
"Hehh... Sudah kuduga" netra coklat terang itu kemudian melirik ke arah kirinya.
Di bahu kirinya terdapat seorang manusia yang tidak sadarkan diri.
Seseorang itu terlihat pucat dan kulitnya terasa dingin. Nafasnya pun terasa pelan.
Lelaki itu mengerutkan keningnya "Bagaimana bisa ia berada di dalam air?"
Sebelumnya ia ingin berenang ke permukaan. Akan tetapi dirinya melihat akan sebuah kilauan dari sebuah bilah besi yang memantulkan cahaya matahari.
Tentu saja lelaki itu merasa kaget. Ia kaget karena ada sebuah membran tipis bewarna biru terang yang melindungi tubuh itu. Belum lagi pedang yang ada di genggaman itu sedikit menarik perhatiannya.
Dan begitulah ceritanya. Bagaimana bisa dirinya membawa seseorang di bahunya.
Perlahan lelaki itu berenang ke tepian dengan membawa serta manusia asing itu.
Sekitar lima menit, akhirnya ia telah sampai ke tepian.
Ia naik terlebih dahulu, setelahnya ia membantu manusia asing yang tidak sadarkan diri itu.
"Wahh... Kau itu dari mana? Kenapa tubuhmu terasa sangat dingin. Seperti tubuhmu itu adalah es."
Tidak ada jawaban. Tentu saja, manusia asing itu tak sadarkan diri.
"Haahh..." ia menghela nafas lelah. "Aku sebenarnya tak ingin membawamu, tapi... Kenapa kau terlihat mirip dengan seseorang?"
Lelaki itu menatap setiap hal yang ada. Mulai dari rambut hitam legam yang terlihat basah dan kulit pucat dikarenakan rasa dingin yang entah darimana.
Lelaki itu kembali menghela nafas.
Pada akhirnya ia membawa manusia asing itu dengan menggendong-nya di punggung.
"Kau harus membayarku nanti."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author Note:
OHOHO.... MISTERI LAINNYA.
tenang aja, ini masih berhubungan dengan sekolahmya Sergio kok.
Sergio nya cuman butuh latihan. Nggak lama, cuman 1 minggu :v
Dan Rai kembali hiatus :)
Eheheh, dari senin sampai jumat lalu Rai ujian. Kemudian besok Rai ujian praktek :)
Jadi Rai bakal libur lagi nih. Sorry ya buat para reader sekalian.
Oke, segini aja dulu
Adios!
1. 431 kata