Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 99



Tidak mendengar deru suara mobil. Tapi, dari posisi Lindsay dan Aloysius yang kini duduk di depan rumah pun bisa melihat rombongan kendaraan roda empat yang datang ke arah mereka. Ada kurang lebih dua puluh lima.


Lindsay sampai membulatkan mata. “Sebanyak itu? Semua keluargamu?” Ia pikir yang datang hanya seperti kemarin.


“Iya, aku sudah katakan supaya kau jangan terkejut kalau mereka datang.” Aloysius melingkarkan tangan di pinggul sang wanita. Lalu mengajak untuk menyambut keluarganya.


“Rumahku tak cukup menampung, ini namanya satu kampung dibawa semua,” gumam Lindsay. Demi apa pun, baru kali ini kedatangan tamu yang jari tangan dan kakinya pun tidak cukup untuk digunakan menghitung total keseluruhan.


“Namanya keluarga besar. Beginilah, tapi tenang saja, mereka baik semua. Hanya saja manusia-manusia bermuka datar itu sedikit kurang seru kalau diajak bicara.” Aloysius menunjuk saudaranya dari Giorgio saat satu persatu turun dari mobil.


Bingung juga mau menyambut bagaimana. Lindsay takut jamuannya kurang memuaskan. Dia memasak tak terlalu banyak. Tak sangka kalau yang hadir meluap. Maklum, ia tidak memiliki sanak saudara. Jadi, tak membayangkan sedikit pun jika memiliki keluarga besar.


“Hi, calon menantuku.” Amartha menghampiri Lindsay. Dia memeluk dan mengecup pipi kanan kiri Lindsay.


Lindsay menyambut dengan ramah. “Lancar perjalanannya?” Pertanyaan basa-basi, daripada ia kikuk.


“Lumayan, jalan ke sini tidak terlalu padat.” Siapa juga yang mau datang ke desa jauh dari penghuni. Delavar hendak memeluk calon menantu seperti apa yang dilakukan oleh istrinya.


Namun, Aloysius sudah terlebih dahulu mendorong dahi daddynya. “Dilarang menyentuh Lindsay, barang langka,” larangnya.


“Hei ... Bonsai.” Delavar balas menoyor kepala putranya.


Aloysius langsung berdecak. “Kenapa jadi semua ikut-ikutan memanggil aku Bonsai?” gerutunya tidak terima.


“Karena otakmu kerdil, bodoh, mudah tersulut emosi.” Sahut Duo Bella bersamaan.


Delavar melanjutkan kalimat yang akan ia katakan. “Kau itu harus ingat. Jika bukan karena aku tak jadi menikahi Lindsay, kau tak mungkin bisa menikah dengannya.”


“Mau adu mulut terus? Kapan dipersilahkan masuk? Haus ... butuh minum,” teriak Dariush calon pembuat onar di sana.


“Oh, silahkan masuk.” Lindsay membuka lebar pintu. Dia tersenyum sembari kepala mengangguk sebagai sapaan saat satu persatu orang ke dalam. Tidak lupa membalas jabatan tangan ketika ada yang mengajak berkenalan.


Sumpah, bingung. Lindsay tak tahu harus melakukan dan menjamu bagaimana. Yang kini ada di dalam rumahnya adalah keluarga terpandang semua. Lain sekali gaya hidupnya dengan ia yang orang desa dan sederhana.


“Maaf, rumahku tidak terlalu besar. Jadi, tidak cukup untuk semua duduk di sofa,” ucap Lindsay.


“Tidak masalah, mereka suruh duduk di depan rumah juga pasti mau,” sahut Davis.


“Tenang, kami bisa saling memangku.” Dariush langsung menarik tangan sang istri yang rambutnya paling acak-acakan diantara semuanya.


“Aku siapkan minum sebentar.” Lindsay pamit undur diri. Rasanya masih belum percaya kalau ia akan menjadi bagian dari orang-orang itu.


“Sana bantu, kalian itu membiarkan ibu hamil bekerja sendiri.” Delavar meminta keponakan yang berdiam diri saja. Hanya duduk dan melihat seperti ratu.


“Iya ....” Duo Bella yang berdiri karena mereka paling dekat dan mudah keluar dari kerumunan.


Sementara yang lain berbincang santai, lebih tepatnya banyak bergurau. Tapi, didominasi oleh Davis, Dariush, Delavar yang banyak membuka topik.


“Mana sapinya? Sudah disiapkan belum?” tanya Aloysius. “Salju belum turun, pasti aku pemenang taruhannya.”


“Masih ada waktu beberapa jam sebelum pengucapan janji. Jangan percaya diri, bisa jadi besok pagi salju pertama.” Dariush menaikkan kedua alis jahil.


“Mustahil, tidak mungkin.”