
Akhirnya tugas menjadi kuli panggul selesai juga. Aloysius yang ingin terlihat loyal dan lebih unggul dari rivalnya, dengan membelikan belanjaan satu truk pun berubah menjadi petaka bagi diri sendiri.
Ternyata bekerja menggunakan otot sangat lelah. Jauh lebih menguras tenaga dibandingkan otak.
Bulir-bulir keringat sampai keluar dari pori-pori, padahal udara sedang dingin karena memasuki winter. Bukti kalau ia sangat berusaha keras selama satu jam terakhir.
Aloysius merebahkan tubuh di lantai. Dada naik turun kelelahan. Dia sedang menetralisir dan mengembalikan energi yang terkuras.
Andrew melihat pria itu dengan berdiri di atas pandangan Aloysius persis. “Hanya begitu saja sudah tumbang, bagaimana mau menjadi suami Lindsay?”
“Berisik!” Aloysius mengangkat kaki sedikit ke atas, melepaskan sepatu, lalu melemparkan pada Andrew yang membuatnya semakin pusing mendengar ocehan.
Kali ini kekehan Lindsay tidak bisa ditahan lagi. Sejak tadi ia dibuat lucu oleh kelakuan Daddy dari anak dalam kandungannya. Kepala menggeleng karena merutuki diri sendiri. Bisa-bisanya menyukai sosok Aloysius. Salah satu alasannya karena pria itu memang menggemaskan dan manja. Dia suka kalau ada orang yang selalu membutuhkannya.
“Andrew ... sudah, kasian Alo,” tegur Lindsay. “Sana ke peternakan, panggil semua karyawan untuk ke sini, biarkan mereka mengambil kebutuhan yang diperlukan.”
Aloysius melongo mendengar itu. “Aku belikan untuk kebutuhanmu, dan teganya kau berikan pada orang lain.” Suara itu terdengar lebih condong ke arah rengekan.
“Terlalu banyak untukku. Apa lagi hanya tinggal sendiri, nanti yang ada justru terbuang sia-sia karena expired,” jelas Lindsay.
Aloysius justru fokus pada kata ‘tinggal sendiri’ berarti Andrew tak satu rumah dengan Lindsay. Semakin semangat saja ia untuk mengambil kembali hati wanitanya.
“Iya juga.” Aloysius merubah posisi menjadi duduk. Tangannya mengibas, mengusir Andrew. “Sana pergi, lakukan perintah Lindsay.” Kesempatan berdua, dia bisa mencuri untuk bermesraan.
Lindsay bergerak masuk ke dalam setelah truk dari supermarket sudah pergi. Aloysius langsung membuntuti.
Pria itu sangat rindu, tiba-tiba dia memeluk si ibu hamil dari belakang. Mendaratkan dagu ke pundak dan mengusap perut buncit.
Lindsay terkejut. Belum siap dengan serangan itu. “Alo ...!” Suara menegurnya rendah dan ditekan. Berusaha menyingkirkan tangan kekar yang melingkari tubuhnya.
“Sebentar saja, Lin. Aku sangat merindukanmu. Selama berbulan-bulan tidak melihatmu, membuatku rasanya hampir gila, dan sekarang kau ada di hadapanku. Biarkan kangenku mereda,” pinta Aloysius.
Tak ada tanggapan dari Lindsay, keduanya tetap berdiri di tengah antara dapur dan ruang santai. Wanita itu menikmati desiran menenangkan juga nyaman saat Daddy dari anaknya memberikan usapan penuh kelembutan.
Sementara Aloysius, dia memejamkan mata. Menghirup wangi Lindsay sebanyak mungkin. “Rasanya satu atau dua menit memelukmu itu kurang. Aku butuh selamanya supaya bisa sepuasnya melakukan ini denganmu,” bisiknya.
Ada senyum senang di wajah Lindsay. Dia juga mau, tapi perlu melihat kesungguhan pria itu apakah memang berniat mau menikahinya karena cinta atau sekadar tanggung jawab belaka.
“Buktikan jika kau memang serius dengan keinginan itu,” ucap Lindsay.
“Akan ku buktikan, kau mau dengan cara apa? Mengurus peternakanmu ini? Aku bisa.” Yang penting yakin saja dulu, urusan sungguh bisa atau tidak, pikir belakang.
“Yakin?” Lindsay terdengar meremehkan. “Menjadi peternak itu berat, loh ....”