
Berhubung sudah ada di dalam kamar mendiang orang tua Lindsay, wanita itu sekalian mengambil gaun dan setelan jas yang dahulu digunakan untuk pernikahan Mommy serta Daddynya. Sudah berumur dua puluh delapan tahun, entah masih bagus atau tidak jahitannya, muat atau justru kesempitan. Dia akan mencoba. Hitung-hitung mengenang.
Aloysius mengekori sang wanita menuju sebuah ruangan. Masuk ke dalam sana langsung diperlihatkan oleh dua manekin dengan pakaian.
“Itu yang mau dipakai untuk pernikahan kita?” tanya Aloysius memastikan. Dia sedang mengamati, memang tidak nampak lusuh. Warna masih bagus, putih tulang, dan berukuran lumayan besar. Sementara setelan jas hanya biasa saja, seperti model yang ia punya.
“Iya, kau cobalah pakai milik daddyku. Siapa tahu muat.” Lindsay melepaskan kancing kemeja, lalu meloloskan kain itu dari manekin. “Tolong dibawa dulu,” pintanya seraya memberikan jas itu. Ia lalu mengambil kemeja berwarna putih tulang.
“Ayo, coba lepas bajumu.” Lindsay meminta dan langsung dituruti oleh calon suami. Kini tubuh berotot itu terekspose di depan mata. Dia sudah biasa melihat, jadi tidak terkejut dengan bentuk badan atletis Aloysius.
Lindsay memakaikan kemeja bekas mendiang daddynya. Mengancingkan juga, lalu membalut dengan jas. “Sekarang celananya.”
Belum diperintah, Aloysius sudah meloloskan kain yang dimaksud. Lalu memakai setelan jas. Memang bisa masuk dipakai tubuhnya. Tapi ... “Ini sempit sekali, aku berasa dibungkus pakai wrap. Takutnya kalau buat jalan, bisa saja sobek. Aku pakai yang ku punya saja.”
Daripada merusak barang sejarah, lebih baik tak ambil risiko. Mudah masuk, susah keluar. Saking press badan, rasanya Aloysius tersiksa jika menggunakan itu. Jadi, ia lucuti semua, dan kembali memakai pakaian yang awal.
“Gaun mommymu pasti kesempitan juga. Kau saja sedang hamil.” Aloysius meragukan. Apa lagi ada perut yang buncit harus ditutupi.
“Orang tuaku juga menikah saat hamil aku. Jadi, kemungkinan muat.” Lindsay meminta tolong Alosyius agar melepaskan gaun dari manekin.
“Begitu saja, kau sudah bagus,” seloroh Aloysius dengan alis naik turun.
Berbeda dengan Lindsay yang bisa menunjukkan sikap biasa saja ketika melihat tibuh telanjang sang pria, Aloysius masih saja bisa menggoda dan terkagum dengan keindahan di depan mata. Walau ada buncit di perut, tapi ia sangat penasaran bagaimana rasanya bercinta dengan ibu hamil. Belum pernah sekali pun mencoba.
Tahan, Alo ... beberapa hari lagi kau akan memiliki Lindsay dari ujung kepala sampai kaki.
“Kau mau tubuhku ditonton oleh orang-orang yang datang?” Lindsay sembari berpegangan pada pundak kokoh sang pria sebagai tumpuan saat kaki mulai diangkat dan masukkan ke dalam gaun.
“Tidak, lah ... meskipun aku ada gila-gilanya, tapi kalau membiarkan mereka menonton tubuhmu secara cuma-cuma, tentu tidak rela.” Aloysius memutari sang wanita, berhenti di belakang untuk menarik ritsleting ke atas.
“Kesempitan? Kau nyaman tidak saat memakai?” tanya Aloysius. Dia kembali ke hadapan calon istri untuk melihat bagaimana penampilan Lindsay.
“Tidak sempit. Ini nyaman dan pas,” jelas Lindsay. Bibir tersenyum karena keinginannya bisa tercapai. Menikah dengan gaun orang tuanya.
Mengangguk, mata Aloysius menelusuri si cantik berambut pirang. “Modelnya lumayan kuno. Tapi, sudahlah, kalau kau memang mau memakai itu, aku bisa apa.” Sebenarnya ada rasa kurang, namun lebih baik mengalah. Lagi pula alasan Lindsay mau menggunakan itu karena ingin merasakan kehadiran orang tua. Jadi, sebagai calon suami, harus pengertian juga, jangan maunya dimengerti terus.