
Tak ada keadaan buruk yang menimpa Lindsay setelah melahirkan sendiri. Semua telah dipastikan aman dan baik-baik saja oleh dokter. Jadi, Aloysius bisa lega. Rasa bangga selalu ia sampaikan setiap hari sebagai wujud rasa syukur dan pujian pada sang istri yang memang luar biasa hebat.
Berita tentang kelahiran putrinya sudah sampai ke telinga keluarga besar. Satu minggu setelahnya, rumah kembali ramai oleh keluarga Dominique. Kali ini tidak membawa seisi kampung karena tidak akan muat menampung seperti saat pernikahan.
Hanya Amartha, Delavar, Dariush, Alceena, Davis, Diora, dan Clemmons. Saudara kembar Aloysius yang satu lagi tak nampak batang hidungnya.
“Tumben Brennus tidak ikut?” tanya Aloysius seraya menggendong sang putri untuk menyambut keluarga.
“Katanya sedang sibuk, entahlah, akhir-akhir ini sering ke kantormu, mungkin dia mencoba membantu,” beri tahu Clemmons. Meski bibir menjawab, tapi tatapan mata selalu tertuju pada layar ponsel. Bocah satu itu kalau sedang tidak bekerja, ya menghabiskan waktu dengan sosial media untuk melihat video sebagai hiburan.
“Oh, ya? Kenapa dia tidak bilang kalau mau membantu?” Aloysius menaikkan sebelah alis. Sampai detik ini pun pekerjaannya tetap sama tak menjadi berkurang. Ia ikut duduk di ruang tamu.
Clemmons mengedikkan bahu pertanda tidak tahu. “Kau tanya sendiri saja padanya, kenapa ke perusahaanmu setiap hari.”
“Mungkin suka dengan salah satu karyawanmu.” Delavar asal ceplos saja, belum tahu kebenarannya.
“Mana mungkin, Brennus punya kekasih, namanya Laura. Meskipun wanita toxic, mereka tak putus juga sampai sekarang,” sanggah Clemmons.
“Sudahlah, kenapa jadi membicarakan dia? Kedatangan kita ke sini mau menjenguk cicit baruku.” Davis menyela agar kini fokus tertuju pada bayi mungil di gendongan Aloysius.
“Mommy boleh gendong?” pinta Amartha.
“Boleh.” Lindsay yang menjawab. Mengambil alih putrinya dari tangan suami, lalu ia berdiri menghampiri mertua. Membiarkan si cantik berambut pirang itu menjadi pusat perhatian semua orang. Kembali duduk lagi di samping Aloysius.
“Namanya siapa?” tanya Alceena seraya memainkan tangan mungil yang saat ini digenggam.
Mata Aloysius melirik istri, tangan merangkul sang wanita supaya Lindsay yang memberi tahu saja.
“Carleigh Novak Dominique,” beri tahu Lindsay. Itu adalah nama pemberian Aloysius.
“Carleigh? Gadis petani, peternak, pemilik tanah?” Dariush menaikkan sebelah alis setelah mencari tahu arti nama bayi perempuan itu.
Lindsay hanya bisa tersenyum. “Apakah jelek?”
“Tentu tidak, Sayang. Itu sangat bagus, tidak menghilangkan identitas kalau anak kita memang terlahir dari rahim seorang ibu yang berprofesi di bidang peternakan dan Lindsay adalah pemilik tanah yang luasnya pun aku sampai lupa berapa hektar, terlalu besar.” Aloysius tidak mau membuat sang istri berkecil hati hanya karena nama putrinya. “Lagi pula ketika diucapkan juga bagus. Tidak perlu kau mengejek.” Dia akan menjadi garda terdepan untuk keluarga kecil itu.
“Hanya bertanya, tak perlu sewot menjawabnya.” Dariush melemparkan kacang oven ke wajah keponakannya.
“Astaga ... sudah besar masih seperti anak-anak saja kalian berdua. Hentikan!” Diora berseru tapi nadanya lembut. Memang tidak cocok kalau bersuara tegas dan lantang.
Dua pria itu tak lagi saling melempar. Diam dan memancarkan tatapan tajam satu sama lain.
Tiba-tiba Dariush mengendus aroma di sekitar ruang tamu. “Euh ... bau apa ini?”
Semua orang jadi ikut penasaran. “Bau? Kami tak mencium apa pun.”
“Serius, aromanya tak sedap.” Dariush bangkit, masih dengan hidung yang mengendus seperti seekor hewan. Dia lalu berhenti tepat di belakang Aloysius. “Oh dari sini.” Mendekatkan hidung ke bahu keponakannya. “Euh ... bau kotoran sapi.”
Aloysius pun reflek mencium dirinya sendiri. “Hidungmu rusak, wangi begini kau kata kotoran sapi.” Dia mendorong kepala sang paman agar menjauh dari tempat duduknya.
“Siapa tahu kau terkena cipratan lagi,” seloroh Dariush. Dia masih saja mengingat dan mengungkit masalah video yang sudah beberapa bulan terjadi.
“Biarlah. Seandainya bau pun aku sudah ada yang memiliki. Jadi, tak perlu risau kalau tidak laku.” Namanya bukan Aloysius jika tidak membalas dengan kepongahan.
“Sombongnya.” Delavar sampai menggelengkan kepala.
“Masa bodoh, memang seperti itu kenyataannya.” Aloysius menangkup pipi istri tercinta supaya keduanya saling tatap. “Iya, kan, Sayang? Kau tetap akan mencintaiku meski sapi-sapimu membuatku kotor?”
Lindsay mengangguk. “Tentu saja. Kotor bisa dibersihkan supaya kembali wangi. Lagi pula aku menyukaimu karena kau bisa membuat hidupku terasa lebih nyala dan tidak kesepian lagi.”
Di mata Aloysius, istrinya nampak menggemaskan ketika mengucapkan kalimat manis. Reflek tangannya menarik Lindsay untuk diajak berdiri. “Kita ke kamar, biar Carl dijaga mereka,” ajaknya tak sabaran.
“Ingat, puasa empat puluh hari,” ucap semua orang yang ada di sana.
“Iya juga.” Aloysius mendesah kecewa. Dia tak jadi mengajak istri pergi. Padahal sudah semangat mau menghajar di atas ranjang. Siapa tahu Carl dapat adik.
Tak ada lagi perjalanan cinta yang berliku antara Aloysius dan Lindsay. Tak ada konflik yang belum usai. Mereka hidup damai, penuh riang, canda, tawa, suka, dan selalu rukun. Aloysius mampu meninggalkan dirinya versi lampau, berganti ia yang sekarang. Sosok suami sekaligus ayah yang sangat perhatian dengan keluarga kecil. Dia merasa bahwa memiliki Lindsay dan Carl pun sudah cukup. Ternyata kebebasan bukan kunci kebahagiaannya.
Keduanya mengubur segala sesuatu di masa lalu yang menyangkut kenangan buruk. Sepanjang menjalani hubungan pernikahan, Lindsay dan Aloysius tidak pernah mengungkit apa pun yang sudah terjadi. Mereka fokus menata hidup ke depan. Yang lalu biarlah menjadi pelajaran berharga untuk merubah kehidupan yang lebih baik lagi agar tak terulang kesalahan sama.
...-TAMAT-...