Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 13



Pertanyaan yang amat mudah sebenarnya. Tapi, Aloysius tidak segera menjawab. Pria itu justru masih menikmati sesap nikotin yang ia keluarkan dalam bentuk kepulan asap. Barulah menanggapi setelah bara merah mendekati ujung rokok yang tandanya sudah habis.


“Aku pernah dekat dengan Lindsay,” jawab Aloysius seraya membuang sisa putung rokok itu ke asbak yang ada di atas meja.


“Jadi, alasanmu bukan karena tidak setuju Daddy mau menikah lagi? Tapi lebih ke arah wanitanya?” Brennus mengetukkan ujung gulungan tembakau itu hingga abu runtuh di atas tempat yang semestinya.


“Itu juga. Aku tidak ingin Mommy diduakan. Bayangkan saja saat dia sembuh dari masa kritis dan menyaksikan orang yang dicintai telah bersama wanita lain. Apa tidak menyakitkan?” Kesal itu kembali tumbuh di hati Aloysius, mungkin memang belum sembuh total rasa sakitnya. Dia mengepalkan tangan. Saat rahang mengeras, ambil satu batang lagi untuk mengalihkan pikiran.


Brennus mengangguk setuju. “Aku juga merasakan hal itu. Tapi, kira-kira bagaimana caranya agar pernikahan ini batal? Jujur, aku tidak tahu harus melakukan apa. Sudah coba bicara pada Daddy secara baik-baik pun jawabannya tetap sama.” Dia menghembuskan asap ke atas, kepala bersandar dan nampak sekali kalau lesu.


Begitu juga dengan Aloysius yang mulai buntu. Matanya menatap langit gelap yang entah ujungnya ada di mana.


“Empat tahun lalu, Lindsay adalah sosok yang selalu ada disaat aku membutuhkannya. Kami sering bercinta, kadang juga tinggal bersama. Dia sudah seperti kontak daruratku.” Aloysius mulai menceritakan tentang masa itu. “Baru kau yang ku beri tahu tentang ini.”


Brennus menaikkan kedua alis dan terkejut. Pantas saja kembarannya langsung kenal dengan Lindsay. “Lantas, kenapa bisa dia mau menikah dengan Daddy, bukannya bersamamu?”


“Satu tahun lalu dia tiba-tiba menghilang. Entah karena apa. Padahal kami tak pernah bertengkar juga.” Ada hembusan napas frustasi dikeluarkan oleh Aloysius. “Maka dari itu sejak enam bulan terakhir aku memilih untuk bepergian keluar, kan? Itu karena ingin mencoba melupakannya.”


“Kau mencintainya?” tanya Brennus.


Aloysius diam, dia tidak bisa mengatakan kalau perasaan yang dimiliki pada Lindsay adalah cinta. Sebab, ia pun tak tahu apa itu cinta. “Mungkin lebih ke arah aku nyaman jika bersama dengannya.”


“Ya itu namanya cinta.” Brennus menoyor kepala kembarannya dengan gemas.


Tapi, Aloysius menggeleng tidak sepakat. “Cinta itu rumit, bersama Lindsay tak pernah membuatku rumit. Berarti, aku menyukainya karena dia mudah didapat, bukan berdasarkan cinta.”


Tangan Brennus sudah melayang di udara. Hendak menggeplak kepala kembarannya. “Pantas saja kau ditinggalkan. Ternyata pandanganmu terhadapnya memang secetek itu.” Akhirnya ia menjitak si keras kepala Aloysius,


Kepalan tangan Aloysius sudah ingin melayang di wajah Brennus. Tapi, tidak jadi karena kembarannya melotot dan menantang. Bisa-bisa mereka baku hantam. Dia memilih memalingkan wajah.


“Besok adalah hari pernikahan mereka. Sebelum terlambat, coba kau bujuk lagi Lindsay. Siapa tahu dia mau berubah pikiran didetik terakhir.” Brennus menepuk pundak Aloysius sembari berdiri, lalu meninggalkan kembarannya seorang diri.


“Ck! Sial! Kenapa cepat sekali satu bulan berlalu.” Kaki Aloysius menendang kaki meja. “Haruskah ku culik dan sembunyikan saja Lindsay? Supaya pernikahan mereka gagal?”