
“Mau tanya apa?” Lindsay mempersilahkan Aloysius berbicara terlebih dahulu. Urusannya gampang, toh ia sudah menentukan hasil akhir juga. Bisa jadi apa yang ingin diketahui oleh pria itu jauh lebih penting.
Aloysius meraih pundak wanitanya, digerakkan supaya mereka kini saling tatap. “Berarti satu setengah tahun lebih, saat pertama kali kau pergi begitu saja tanpa kabar. Aku mau tahu tentang itu, boleh?”
Mengangguk mengizinkan. “Katakan pertanyaannya.”
“Kenapa kau memutuskan menghilang dari hidupku tanpa ada kata pamit?” Beberapa hari Aloysius memikirkan itu. Menarik benang yang kusut agar kembali lurus. Dia menduga kalau ada sangkut pautnya dengan kejadian di club malam, saat melihat dirinya mencium wanita.
Kepala Lindsay menunduk dan mulut masih diam membisu. Ia menarungkan jemari di depan perut. Padahal sudah tidak mau mengingat lagi kejadian itu. Tapi, justru ditanya dan membuatnya mau tak mau membayangkan adegan saat dua kepala manusia lawan jenis sedang menyatu.
Menghirup udara sebanyak mungkin, walau rasanya dingin. Lindsay menghindari tatapan mata sang pria. Menghapus air yang mendadak menerjang dari balik kelopak mata.
Aloysius merasakan ada hataman penuh kesalahan. Dia berinisiatif merangkul Lindsay dan mengusap lengan. “Aku mau tahu, bisa jadi selama ini keburukanku sangat banyak yang sudah membuatmu terluka, tapi tidak sadar diri. Jadi, karena niatku bulat mau menikah denganmu dan tidak sekadar hubungan tanpa status lagi, aku ingin tahu apakah pernah menyakitimu atau tidak.”
“Aku melihatmu mencium wanita.” Berat sekali Lindsay mengatakannya. Baru sekarang berani mengungkit karena ditanya.
Tepat seperti dugaan Aloysius. Wanita itu memang pergi setelah menyaksikan keburukannya. Tapi, demi apa pun. Sampai detik ini belum bisa mengingat siapa orang yang dimaksud.
Merasa sangat bersalah, Aloysius tidak akan menyanggah sedikit pun. Dia justru berlutut di hadapan sang wanita. “Aku minta maaf.” Kepala menunduk bagaikan padi yang sudah siap untuk dipanen.
“Sudahlah, aku telah melupakan hal itu juga.” Lindsay meminta Aloysius agar berdiri. “Lagi pula tidak ada hak untuk marah juga karena kau bukan siapa-siapa, kita tidak menjalin hubungan yang jelas saat itu.”
Aloysius tidak mau menegakkan tubuh. Dia tetap berada di posisi lutut menyatu dengan rumput. “Tapi karena itu kau menjadi ragu dengan aku, kan?”
Mengangguk membenarkan. Lindsay tidak akan berbohong atau mengelak. Biarlah Aloysius tahu apa yang dirasakan. “Ya, entah kau bisa setia denganku atau tidak.” Jemari bergerak cepat mengusap bawah mata sebelum ada aliran air yang terjun melewati pipi.
Tugas Aloysius untuk meyakinkan. Ia genggam tangan sang wanita, penuh ketegasan dan tiada keraguan. “Aku tidak bisa mengatakan bahwa diriku adalah pria baik. Tapi, tolong percaya kalau aku tidak ingat siapa orang yang ku cium. Saat itu sedang mabuk, hanya kau yang selalu ku ingat. Ini bukan bualan karena ingin mendapatkanmu. Jujur dari lubuk hati, faktanya memang begitu.” Menuntun agar Lindsay merasakan debaran jantungnya.
“Kau bisa memegang janjiku.” Aloysius mendongak dan bertatapan dengan Lindsay yang menunduk. “Sampai akhir hayat akan selalu bersamamu, hanya ada kau dan tidak yang lain. Oke, mungkin aku pernah mencium wanita selain dirimu. Namun, tidak ada yang mampu menempati isi hatiku kecuali namamu. Jadi, jika kau bersedia dan mau mempercayai itu, lalu hidup bersamaku, selamanya akan ku usahan memberikan kebahagiaan untukmu.”
Anggap saja kalimat panjang dari Aloysius adalah sebuah lamaran. Walau tanpa cincin. Belum beli, nanti saja sekalian saat pernikahan.
Entah kenapa Lindsay merasa terharu mendengarnya. Mungkin selama ini ia yang salah menilai dan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu hanya karena sebuah peristiwa yang tak pernah ditanyakan langsung pada orang yang bersangkutan.
Kunci utama dalam menjalin hubungan memang rasa percaya. Asal tidak ada yang menodai kepercayaan itu, maka semua pasti berjalan sesuai jalan yang semestinya.
Berdiri dan langsung merengkuh Lindsay. “Terima kasih karena kau sudah mau memaafkan dan melupakan kesalahan di masa lalu. Aku sangat mencintaimu, Lindsay Novak,” teriak Aloysius. Biarlah sapi-sapi yang sedang ada di luar menjadi saksi dan mendengar betapa senang hatinya saat ini.
Demi menyalurkan rasa bahagia, kepala Aloysius mendekat. Sementara tangan menahan tengkuk sang wanita agar tidak bergerak menghindar. Ia menyatukan bibir, mencium dengan lidah menyusup masuk.
Tidak ada penolakan, maka dianggap lampu hijau. Aloysius menarik lidah. Melakukan french kiss sebagaimana keahliannya yang selama ini tidak tersalurkan karena Lindsay mengambil jarak terus.
Lumayan lama, sekitar lima menit keduanya saling membelit lidah. Baru berakhir ketika Lindsay meminta supaya disudahi.
“Oke, kau tadi mau bicara apa?” Saatnya gantian Aloysius yang memberikan waktu untuk Lindsay.
“Aku jawab saat di rumah, ya?” Lindsay menunjuk mobil agar mereka kembali ke kendaraan.
“Kenapa tak sekarang saja? Aku sangat penasaran.” Walau begitu, Aloysius tetap mengayunkan kaki menurut.
Hanya tersenyum. Lindsay tak tahu apa yang akan terjadi setelah ia memberi keputusan akhir tentang ajakan menikah. Aloysius itu suka seenaknya. Dia takut kalau tiba-tiba dilucuti di dekat kandang sapi. Walau belum tentu juga terjadi seperti itu. Anggaplah antisipasi.
Keduanya pun kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, Aloysius tidak melepaskan genggaman tangan. Saat sampai pun ia meminta agar Lindsay menunggu dirinya membukakan pintu. Katanya supaya terlihat sedikit romantis.
“Tentang ajakanmu untuk menikah denganku, apakah masih berlaku?” Lindsay mulai membahas ketika kaki berpijak di teras depan.
“Akan selalu berlaku untukmu.” Kecupan dari Aloysius mendarat di pelipis wanita yang amat dicintai.
“Aku sudah memutuskan,” ucap Lindsay. Berhenti tepat di depan pintu.
“Jika keputusanmu membuatku patah semangat, lebih baik simpan saja dulu sampai kau mau menerima.” Belum juga mendengar apa pun, Aloysius sudah mengeluarkan peringatan.
Jika biasanya Aloysius yang memberikan sentuhan fisik terlebih dahulu, sekarang gantian. Lindsay meraih pipi pria itu, digerakkan supaya menatapnya. Keduanya memiliki sorot mata yang sama-sama lekat oleh rasa cinta. “Aku menerima ajakanmu menikah, Daddy Bonsai.” Padahal tadi sudah berciuman saat di dekat kandang sapi, sekarang diulangi lagi. Bedanya hanya si wainta yang menyodorkan bibir.
Memang mereka berdua itu aslinya saling mencintai. Terlalu memiliki ego masing-masing saja yang membuat Lindsay dan Aloysius harus melewati jarak walau sekarang mereka akan bersatu lagi.