Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 83



Waktu terus bergulir maju. Hembusan angin bertambah kencang seiring menuju malam hari. Gumpalan awan di atas sana telah menghilang sejak sore, berganti warna yang kini menggelap, hingga membuat suhu di luar terasa lebih menggigilkan badan.


Aloysius masih setia dengan rokok-rokoknya di halaman belakang. Malas masuk agar menghindari menjadi bahan bulan-bulanan keluarganya, terutama para pria yang sialnya memiliki kadar jahil sangat tinggi.


Tadi sudah sempat ia suruh pulang ke Helsinki. Tapi, kepala justru dipukul oleh sang kakek gara-gara itu. Katanya tega sekali membiarkan keluarga pulang pergi dalam waktu satu hari perjalanan yang panjang.


Aloysius mengusap kepala, merasakan apakah ada benjolan atau tidak akibat seharian ini mendapatkan timpukan terus. “Untung tak benjol,” gumamnya.


Merotasikan sedikit pandangan mata ketika mendengar ada pintu yang terbuka. Aloysius yang baru selesai menggerutu pun kini tersenyum melihat kedatangan sang pujaan hati.


“Kenapa keluar? Kangen, ya? Tidak melihat aku di dalam.” Setelah dibuat kesal habis-habisan oleh keluarga, sekarang dia masih bisa menggoda sang wanita. Memang dasar Aloysius tidak pernah kehabisan muka.


“Bukan, tapi mau mengajakmu ke dalam untuk makan malam. Di luar dingin, masuk, yuk?” Lindsay mendekat, lalu mengulurkan tangan supaya sang pria lekas beranjak dari bersantai.


“Cium dulu, baru aku mau.” Cari kesempatan terus. Kedua alis Aloysius sengaja dinaik turunkan.


Namun, Lindsay menghela napas dan kepala menggeleng. “Terserah, mau terus di luar juga silahkan. Yang penting aku sudah berusaha mengajakmu secara baik. Di dalam ada banyak masakan, kami para wanita yang membuat.”


Melihat tubuh wanitanya berbalik begitu saja, bukannya melakukan seperti apa yang dia minta. Padahal hanya mencium, kecup juga tidak masalah. Begitu pun tidak mau.


“Nanti aku beku kalau dibiarkan di luar terus, tega? Anak kita tidak memiliki Daddy.” Aloysius berusaha merayu lagi dengan bujukan.


Benar saja seperti dugaan Lindsay. Langsung terbakar cemburu. Aloysius tidak suka dan tak akan pernah memperbolehkan siapa pun menjadi orang tua sambung anaknya.


“Iya, aku ke dalam,” putus Aloysius.


“Hm ... ditunggu di meja makan.” Lindsay kembali berjalan menuju pintu belakang. Namun, gerakan membeku saat mendengar suara minta tolong.


“Lin, pantatku beku, tidak bisa diangkat,” ucap Aloysius.


Lindsay pun berbalik dan melihat apakah itu gurauan atau sungguhan. Melongo ketika menyaksikan posisi Aloysius yang setengah mengangkat pantat dan nampak kesulitan. “Kau serius?”


“Astaga ... apa untungnya aku berbohong tentang itu? Lihat saja.” Aloysius menumpukan dua tangan pada pegangan kursi. Dia membuat gerakan hendak berdiri, tapi selalu tak bisa lurus. “Benar, kan? Ayo bantu aku,” pintanya dengan sorot mata mengiba.


Lindsay pun pada akhirnya mendekat. Mengulurkan tangan. “Aku gandeng, nanti buat api di dalam untuk menghangatkan tubuh.”


Meraih dan menggenggam, Aloysius mendadak menegakkan tubuh. Dia merengkuh pinggul dalam gerakan kilat. Kalau tidak mendapatkan ciuman dari Lindsay, maka akan melakukan secara mandiri. Mengecup bibir sang wanita.


“Ish ... kau mengerjai aku, ya?” Lindsay memukul lengan Aloysius.


Sementara pria itu terkekeh tak berdosa. “Lagi pula mana mungkin beku. Pantatku itu hangat, mau coba rasakan?”