Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 66



Lindsay tak pernah merasakan tidur nyenyak sejak ia hamil. Pasti sering terbangun. Tapi, kali ini tidak. Ia nyaris kebabalasan sampai siang kalau tak mendengar suara alarm dari jam weker yang selalu mengingatkan untuk berhenti terlelap.


Walau semalam Lindsay sedikit tersiksa oleh Aloysius yang terus menggesek pelan. Tapi, entah sejak kapan ia bisa tidur. Lupa.


Mata mengerjap, Lindsay melihat ke sekitar. “Ini kamarku, sejak kapan pindah? Bukankah semalam tidur di sofa?” gumamnya bingung sendiri.


Tangan yang masih tetap melingar di perutnya pun membuatnya paham. Mungkin Aloysius yang memindahkan mereka supaya bisa istirahat dengan nyaman di ranjang empuk dan luas.


Lindsay sedikit menaikkan selimut untuk melihat kondisi tubuh apakah masih berbusana atau semalam sudah kehilangan akal dan menyerahkan diri. Ada hembusan penuh kelegaan ketika ia dalam kondisi tertutup pakaian lengkap.


Perlahan menyingkirkan tangan kekar yang kini sedang lemas, Lindsay berhasil keluar dari rengkuhan. Ia berbalik hingga wajah bisa melihat sosok pria yang kini masih terpejam.


Setelah sekian lama, akhirnya mereka tidur berdua lagi. Selalu nyaman kalau di dekapan Aloysius. Pantas saja Lindsay mendapatkan tidur dengan kualitas bagus. Ditambah sekarang sedang hamil anak pria itu, jadi semakin enak saja.


Lindsay tidak berani memberikan usapan pada Aloysius. Takut membangunkan dan berakhir ia ketahuan kalau sedang menikmati pemandangan di depan mata.


“Pagi, calon istriku.” Tapi Aloysius tidak membiarkan Lindsay menikmati wajah secara diam-diam. Dia membuka mata dan mendaratkan kecupan sekilas di bibir sang wanita.


“Alo, kau membuatku kaget!” Reflek Lindsay mengepalkan tangan dan memukul pelan dada bidang pria itu.


Aloysius pun terkekeh. “Kenapa? Malu, ya? Ketahuan memandangi wajahku?” Alisnya naik turun tak berhenti menggoda, padahal baru bangun tidur.


“Ish ...!” Mencubit gemas bibir Aloysius yang tak pernah difilter saat bicara. Pipi Lindsay sedikit merona akibat tertangkap basah.


“Tampan, ya, calon suamimu?”


“Diam, Alo!” Lindsay pun pelan-pelan duduk. Dia mau pergi ke kamar mandi karena tak tahan ada desakan dari kandung kemih.


Sementara Aloysius tertawa terbahak-bahak dan merasa menang saat Lindsay berjalan menjauh. “Ayo ... mengaku saja, aku pasti akan terima kalau mau jujur.”


Sayangnya, Lindsay sudah menutup pintu. Terdengar suara gemercik air. Sepertinya sekaligus mandi.


“Kesempatan lagi ... bisa mandi berdua.” Seringai licik tercetak jelas di wajah Aloysius. Dia menyibakkan selimut, lalu melihat celana yang memiliki bagian berwarna berbeda. “Sepertinya Lindsay membuatku memuntahkan yogurt lagi di pagi hari, tapi aku sembari bermimpi.”


Turun dari ranjang, Aloysius mendekati kamar mandi. Dia coba membuka, ternyata dikancing dari dalam. “Lin ... aku ingin buang air.” Menggedor dan berteriak supaya dibukakan.


“Ke kamarmu sendiri!” usir Lindsay.


...........


“Roti panggang, ya?” tawar Lindsay. Kini ia telah berada di dapur menyiapkan sarapan. Dari atas sampai bawah tertutup pakaian panjang dan tebal karena cuaca hari ini nol derajat.


“Boleh, sepertinya apa pun yang kau buat, aku bisa makan.” Aloysius juga sama. Ia lengkap dengan sweater dan celana panjang.


Lindsay menyiapkan dua di piring. Kemudian mereka sarapan bersama. Minimalis sekali makan keduanya, tanpa nasi dan lauk lainnya.


“Aku mau jalan-jalan dulu sebelum ke peternakan. Kau kalau mau langsung ke kandang juga tak apa, di sana pasti sudah ada Andrew,” ucap Lindsay setelah meneguk air mineral.


“Jalan ke mana?” tanya Aloysius, mengusap bibir dengan tisu agar sisa roti tidak mengotori wajahnya.


“Sekitar peternakan saja. Kata dokter, aku harus banyak begerak supaya anak yang ku kandung aktif.”


“Menangnya kau ada masalah apa dengan kandunganmu sampai dokter memberikan saran itu?”


“Anak ini jarang menendang. Jadi, aku khawatir.”


Kening Aloysius sampai berkerut. “Iya, kah? Kenapa aku tiap mengusapnya pasti ditendang? Ada gerakan dari perutmu.”


Lindsay mengedikkan bahu. “Entah, mungkin dia tahu kalau kau adalah daddynya. Kalau bersamaku, tidak pernah.”


Aloysius mengangguk seolah paham, padahal tidak begitu. “Aku temani.”


Setelah membersihkan alat makan, keduanya pun keluar bersama. Aloysius bagaikan pelindung yang tidak mau terpisah dari Lindsay. Terus menggenggam walau tidak ada percakapan sedikit pun.


Mereka menyusuri rerumputan hijau pendek, udara dingin membuat tarikan napas pendek. Tapi pemandangan di sana memang bagus.


“Mau istirahat dulu?” tawar Aloysius. Saking sunyinya tak ada percakapan, dia sampai menghitung langkah kaki. Tepat saat mengajak bicara, itu adalah ayunan yang ke seribu.


“Kau lelah?” Lindsay sedikit mendongak dan menatap ke samping kanan.


“Tidak, tapi duduk di sana sepertinya enak.” Aloysius menunjuk sebuah pohon yang daunnya Sudah gugur.


“Eh, tidak jadi. Kita lanjut jalan saja.” Aloysius meralat saat melihat ada Andrew juga sedang ke arah mereka.