Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 90



Kalau menikah bisa seenaknya Aloysius, tidak perlu mendaftar ke Badan Kependudukan atau berdiskusi tentang konsep yang akan dipakai dengan Lindsay, mungkin satu hari setelah ajakannya diterima pun bisa saja langsung dinikahi tanpa menunggu waktu satu minggu kemudian. Sayangnya, itu tidak mungkin. Cicin belum beli, gaun juga tak ada persiapan, dokumen-dokumen apa lagi karena ia tidak menyangka sekilat itu mendapatkan wanitanya. Walau butuh perjuangan juga untuk mencapai kata ‘yes’ dari bibir pujaan hati. Belum juga mengumpulkan keluarga besar yang bisa dihitung menjadi satu kampung karena terlalu banyak kalau dikumpulkan semua hingga yang masih kecil.


Jadi, menurut Aloysius, tujuh hari pasti semua bisa beres. Dia belum pernah menikah sebelumnya, mau menjalin hubungan serius saja baru kali ini bersama Lindsay. Maka, tidak mau ada kesan jelek sedikit pun. Jika hari sudah ia yang menentukan, maka konsep biarlah sang wanita.


Padahal belum resmi menikah, tapi Aloysius semalam berhasil tidur bersama Lindsay. Pria itu memaksa dan pokoknya harus boleh sekamar berdua. Banyak sekali rayuan sampai pada akhirnya menang dan dibiarkan terlelap di sana dengan posisi yang sangat nyaman, berpelukan. Lebih tepatnya tangan kekar yang melingkar si perut buncit.


Semalam Aloysius ingin mencoba membahas tentang tema pernikahan impian Lindsay. Tapi, wanita itu keburu tidur mendahului. Mungkin lelah, jadi ia akan menunda sampai bangun saja.


Tidak ada gorden tebal yang menutupi jendela kamar. Kaca langsung memperlihatkan bagian luar rumah. Aloysius bangun pertama, matanya pasti tertuju ke arah sana untuk memastikan apakah sudah turun salju atau belum. Ternyata masih aman. Dia tidak perlu khawatir kalah taruhan. Yakin betul dengan prediksi BMKG.


Setelah menengok ke kanan, kepala Aloysius berotasi sedikit ke kiri, kembali pada posisi awal bangun. Yang bisa dilihat adalah rambut Lindsay tergerai. Wanita itu tidur dengan berbantal lengannya.


Tadi alarm telah bunyi lebih awal, tapi dimatikan lagi oleh Aloysius supaya bisa kembali lelap tanpa gangguan. Membuat tidur kebablasan. Kesiangan sedikit. Biasanya pukul lima sudah membuka mata lebar, sekarang terlambat tiga jam tak masalah. Itu pun baru dirinya yang bangun, Lindsay belum. Nampaknya wanita itu lebih nyenyak kalau ada dalam dekapan hangat tangan kekarnya. Membuai hingga lupa kalau harus ke perternakan.


Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul delapan, Aloysius biasanya ke kandang untuk memberikan makan sapi. Secara pelan dan hati-hati, ia menarik lengan yang dijadikan bantal. Tidak mau membuat Lindsay bangun. Biarlah tetap lelap supaya tak kelelahan. Toh ia juga tahu jalan menuju kandang, mengambil pakan di gudang pun paham caranya, apa lagi hanya memberikan makanan ke sapi-sapi di peternakan calon istrinya. Gampang ... semua bisa dilakukan tanpa instruksi ataupun bantuan pujaan hati.


Well, sebelum beranjak dari tempat tidur, Aloysius mengecup pelipis Lindsay, lalu pipi pun tidak lupa. Dia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Pria itu masih berpakaian lengkap, belum berhasil menengok sang anak sampai detik ini. Walau ingin sekali, tapi sayangnya ditolak oleh sang wanita yang tidak mau bercinta kalau belum resmi menikah. Jadi, ia hargai keputusan tersebut. Toh hanya menunggu waktu saja, satu minggu lagi, akan dituntaskan segala rasa rindu pada titik kenikmatan yang telah lama tidak pernah dirasakan olehnya.


Ada kucuran air hangat di dalam kamar mandi, Aloysius berdiri di bawah shower sembari mengibaskan tangan kiri. “Pegal juga semalaman menjadi bantal.” Jujur, rasanya sampai kebas, kesemutan. Mungkin posisi kurang pas atau karena terlalu lama. Namun, semalam ia tidak protes sedikit pun, membiarkan lengannya, dan kini baru terasa bebas.


Mandi kilat saja, toh akan kotor-kotoran lagi. Cukup tiga menit, Aloysius keluar dari balik pintu dalam kondisi tubuh hanya terbelit handuk dari pinggul ke lutut. Dia menuju kamarnya sendiri untuk mengambil pakaian.


Sweater dan celana panjang membalut tubuh atletis Aloysius. Ia mengambil kunci mobil Lindsay tanpa izin terlebih dahulu pada si pemilik. Lagi pula yang punya masih enak bersama mimpi-mimpi yang entah isinya apa.


Sudah seperti peternakan milik sendiri saja, Aloysius menuju gudang pakan. Berhubung dalam kondisi hati yang bagus, ia menyapa orang-orang, lebih tepatnya karyawan Lindsay yang tidak sengaja dijumpai. “Hei ... semangat kerja,” teriaknya setelah menurunkan kaca hingga angin dari luar menerpa wajah.


Sampai di gudang, Aloysius yang energi seperti penuh dan tidak loyo pun bergegas ke dalam. Melihat Andrew ada di dalam sana juga. Biasanya ia akan sentimen. Adu mulut atau memasang wajah kesal. Tapi, sekarang tidak. Sebab, dirinya adalah pemenang. Justru bibir tersenyum penuh rasa bangga.


“Hi, Andrew,” sapa Aloysius dengan tangan kanan terangkat ke atas. “Sudah siap kalah? Nanti aku undang ke pernikahan, supaya kau bisa menangis terharu menyaksikan aku dan Lindsay bersatu.”