
“Memangnya orang sepertimu bisa merasakan menderita?” tanya Lindsay seolah tidak percaya.
Bagaimana mungkin seorang Aloysius Finlay Dominique tersiksa hanya karena ditinggal Lindsay pergi? Pria angkuh begitu, mana bisa memiliki hati, sih? Bolehlah ragu karena dia memang tidak pernah menyaksikan sedikit pun penyesalan. Yang ia lihat sejauh ini hanyalah keinginan untuk memintanya hidup bersama dalam ikatan yang lebih kuat.
“Bisa, kau tidak tahu saja kalau selama ini aku tersiksa saat jauh jarimu.” Aloysius meraih tangan Lindsay, memasukkan jemari ke kubu-kubu jari. “Ayo, kita pindah ke sofa supaya lebih nyaman mendengar kisahnya. Siapa tahu kau terlelap juga setelah itu.”
Lindsay tidak memberontak ketika tangan besar itu menuntunnya menuju ruang santai, mendudukkan pantatnya ke benda yang empuk.
“Tunggu sebentar, ya? Aku ambil selimut dan bantal dulu.” Selalu mengusap puncak kepala Lindsay, Aloysius juga meninggalkan kecupan. Terlalu banyak sentuhan fisik yang sering ia berikan untuk membangun perasaan wanita itu.
“Oke.” Mengangguk, Lindsay menyaksikan Aloysius berjalan masuk ke kamarnya. Tak berselang lama keluar lagi dan membawa satu buah selimut tebal dan bantal.
“Suhu ruangan sudah hangat? Atau masih terlalu dingin?” tanya Aloysius. Dia mengambil remot pemanas ruangan untuk mengganti.
“Cukup, seperti ini nyaman untukku,” jawab Lindsay. Ia menyetting menjadi dua puluh derajat supaya tak dingin seperti udara di luar yang mungkin saja sekarang sedang mendekati angka tiga.
“Oh ... tapi sepertinya lebih enak kalau semakin dingin.” Ada senyum penuh arti di wajah Aloysius. Lagi pula untuk apa bertanya kalau pada akhirnya sejak awal pun niatnya ingin menurunkan suhu ruangan agar berkurang dan lebih syahdu bermesraan. Dasar lelaki modus. Banyak sekali akalnya.
Setelah suhu ruangan diturunkan ke angka dua belas, Aloysius meletakkan kembali remot. Baru juga berbalik, ia sudah mendapatkan tatapan kesal Lindsay. Namun tetap merasa tidak bersalah.
“Dingin, ya?” Lihatlah pria itu, menyengir. Astaga ... punya banyak cara hanya ingin menghangatkan wanita yang dicintai.
“Sudah tahu aku kedinginan, kenapa dirubah?” Lindsay menegur dengan suara rendah dan lemah.
“Sengaja.” Aloysius mengayunkan kaki kian mendekat. “Kan ada aku, bisa menghangatkanmu.” Kedua alis naik turun menggoda.
Lindsay sampai bergeleng kepala dan tak habis pikir. “Jangan harap kau bisa bercinta denganku, ya!”
“Tenang, aku tidak meminta itu.” Aloysius yang telah sampai di sofa panjang pun mulai naik. Dia merebahkan tubuh begitu saja, meluruskan kaki hingga melewati tubuh Lindsay yang duduk di bagian tepi. Badannya sengaja mendempel ke bagian sandaran agar muat untuk berdua.
“Ayo jangan malu-malu, anggap saja seperti suami sendiri. Aku jamin kau akan ketagihan.” Pria itu sedikit menarik Lindsay dengan hati-hati dan pelan, mengingat sedang hamil besar, maka tidak mau kasar.
Hembusan napas pasrah keluar dari bibir si wanita. Kini Lindsay telah berubah posisi ikut rebahan di samping Aloysius.
“Nah ... begini lebih nyaman untuk kita.” Aloysius membungkus tubuh keduanya dengan selimut tebal.
Pria itu membenarkan posisi hingga kepala Lindsay berbantal lengannya. Merapatkan tubuh hingga tiada jarak sedikit pun. Bagian depan Aloysius mendempel persis di belakang sang wanita. Tangan kekarnya melingkar pada perut dan memberikan usapan di sana.
“Aku hanya ingin cuddle denganmu, Lin, tidak lebih. Dengan begini, mendengar ceritaku semakin enak,” bisik Aloysius. Ia mengecup pipi Lindsay.
Aloysius itu senang sekali memberikan bentuk cinta dalam untaian kata dan sentuhan fisik. Bagaimana Lindsay tidak merasakan getaran perasaan kalau begitu. Terlalu manis dan nyata. Untung masih piawau mengendalikan diri sehingga tidak menyodorkan tubuh telanjang hanya demi hasrat.
Lindsay tidak akan menampik, memang menangkan dalam dekapan Daddy dari anaknya. Dia tidak memberontak, dan menerima saja.
“Mau dimulai dari mana?” Jemari kanan Aloysius menarik tangan Lindsay untuk ia genggam.
“Terserah.” Lindsay bisa merasakan detak jantung Aloysius yang berirama sama seperti miliknya. Pandangan yang lurus membuat ia melihat pantulan diri yang samar di layar televisi sebesar lima puluh inch.
“Oke, sejak tiga hari setelah kau meninggalkan ruang rawatku, dokter menyatakan sembuh, walau harus kontrol rutin. Aku langsung menjenguk Mommy. Di sana dan mendapatkan fakta mengejutkan juga tak terduga bahwa kau pergi dalam kondisi hamil. Mommy memberi sebuah kertas hasil USG, dan itu selalu aku bawa kemanapun perginya.”
Bagai didongei, Lindsay mendengarkan dengan kelopak mata mulai menutup. Bukan mengantuk, tapi ia bingung mau menatap apa.
“Hm ....” Lindsay cukup menanggapi dengan gumaman sebagai pertanda ia mendengarkan.
“Lalu, aku berusaha mencarimu kemanapun. Seluruh Helsinki ku putari, wilayah sekitar juga. Ke arena balap, ternyata kau sudah mengundurkan diri. Banyak sekali lokasi yang telah ku datangi untuk menemukanmu.”
“Kenapa kau mencariku? Bukankah saat itu mengusirku dengan penuh keyakinan kalau tidak melihat aku akan lebih membuat hidupmu bahagia?”
“Lin ... aku melakukan semua itu karena merasa patah hati. Saat perasaan terluka, aku selalu emosi dan sulit mengendalikan kata-kata. Jadi, maafkan kalau pernah kasar dengamu, ya?” Aloysius memohon dengan tulus. Ia kecup puncak kepala Lindsay.
Mengangguk, Lindsay meminta agar cerita dilanjutkan.
“Iya.” Haruskah Lindsay mengatakan juga tentang kecelakaan yang menyebabkan orang tua Aloysius kritis? Mungkin pria itu sudah mendengar juga dari yang bersangkutan langsung. Jadi, diam saja.
“Ternyata kalian hanya mendaftarkan, belum melangsungkan. Betapa senangnya aku ketika mendengar berita itu.”
“Lalu?”
“Aku segera pergi untuk mencarimu saat itu juga. Padahal baru keluar dari ruang rawat beberapa jam sebelumnya. Plester untuk menutupi bekas diinfus pun masih ada. Tapi, aku nekat karena merasa bersalah denganmu.”
“Jangan diulangi lagi lain kali. Kalau sakit, istirahat.” Suara lembut Lindsay memberikan peringatan. Ia ikut menumpukkan telapak ke punggung tangan Aloysius, jadi mereka mengusap perut bersama-sama.
“Iya, tidak akan aku ulangi.”
“Lanjut.”
“Saat proses pencarianmu, aku sampai kehabisan daya baterai mobil listrik. Mencari bantuan orang lain yang mau menderek. Untung saja ada.”
Lindsay mulai terkekeh. Ternyata kepergiannya memberikan banyak perubahan pada Aloysius. Lebih tepatnya memberikan insiden yang pasti akan terkenang. Buktinya sampai diceritakan secara detail. “Terus?”
“Aku terus melakukan pencarian sampai berbulan-bulan. Tapi, tidak pernah menemukan jawaban. Memohon pada keluargaku supaya dibantu dicarikan, mereka tak ada yang mau.” Aloysius menggeleng meralat. “Bukan tidak membantu, tapi ternyata mereka memberikan aku petunjuk dengan menyodorkan susu buatan pabrikmu. Siapa yang menyangka kalau wanita pembalap memiliki peternakan? Awalnya aku tidak percaya, tapi saat rapat dengan Mr. Grey dan dia bercerita kalau istrinya sering menemuimu di sini, barulah aku paham clue dari keluargaku.”
“Setelah tahu, langsung mau ku pastikan sendiri. Berangkat ke sini dengan harapan bisa memperbaiki segala kesalahan yang ku perbuat,” imbuh Aloysius.
Lindsay terharu dengan cerita panjang itu. Ternyata sang pria berjuang demi bisa menemukan ia.
“Kenapa kau tidak mengatakan sejak awal jika sedang hamil anakku?” tanya Aloysius.
“Alo ... bukan aku tidak mau memberi tahu. Tapi, cukup mengenal bagaimana sifatmu yang tak mudah percaya. Jadi, daripada mendengar kalimat menyakitkan dari mulutmu, lebih baik aku diam,” jelas Lindsay.
“Maaf.” Aloysiys menggesekkan pipi ke puncak kepala sang wanita. “Apa saat kau pergi yang pertama kali itu juga sembunyi di sini?”
“Bukan sembunyi, tapi di sini rumahku, lahir juga di sini.”
“Ternyata aku banyak tak mengenalmu, ya? Bahkan fakta bahwa kau memiliki peternakan sebesar ini pun baru tahu sekarang.”
“Karena kau tidak pernah bertanya dan peduli dengan kehidupanku sesungguhnya. Kau lebih sering mencariku sebagai sandaran dan menuangkan hasrat.”
Aloysius terdiam sebentar. Merasa bersalah lagi karena kalimat yang diutarakan Lindsay terdengar buruk di telinganya. “Aku sebrengsek Itu, ya?”
“Tidak, aku juga salah karena mau-maunya dijadikan tempat pembuangan gairah.”
“Mulai sekarang tidak lagi seperti itu. Aku akan lebih mengenalmu dan bukan sekadar penampung saat aku butuh.” Aloysius semakin merengkuh agar lebih hangat.
“Lantas, di mana letak tersiksanya?”
“Dilanjut besok saja, ya? Aku mengantuk, ternyata posisi seperti ini enak untuk terlelap.” Aloysius mencium pundak sang wanita sebagai ucapan selamat malam. Sekarang sudah pukul delapan.
“Tanggung sekali,” protes Lindsay.
“Supaya kau penasaran.” Jempol pria itu bergerak membelai pipi. Aloysius ingin mencium bibir tapi susah. “Selamat malam, calon istriku, Mommy anakku.” Kecupan mendarat di puncak kepala, dan punggung.
Tangan kekar semakin melingkar erat seolah tidak memberikan kesempatan sang wanita untuk kabur meninggalkannya. Alasan Aloysius memilih untuk mengakhiri cerita yang belum tuntas yaitu tidak bisa menahan diri. Miliknya mendadak bangun tanpa permisi, sementara Lindsay sudah memberikan peringatan agar tidak melakukan penyatuan tubuh. Jadi, ia mencoba untuk tidur saja, siapa tahu bisa meredakan gejolak gairah yang lama tak tersalurkan.
Sudah tahu mudah tesulut, tapi Aloysius tidak memberikan jarak sedikit pun. Lindsay sampai bisa merasakan ada sesuatu yang keras kini tengah menggesek di bagian belakang tubuhnya. Meski samar karena sangat pelan, tapi berhasil membuatnya menelan ludah.
“Lin, kau sudah tidur?” tanya Aloysius.
Wanita yang dipanggil pun pura-pura tidak mendengar. Daripada Lindsay ketahuan kalau sedang tersiksa oleh kelakuan Aloysius. Tubuhnya berdesir, suhu tubuh terasa hangat hingga ada kedutan di bagian sensitif di bawah sana.
Alo ... kau itu sialan sekali! Menyiksa aku yang sedang membentengi diri agar tak mengeluarkan desah dan menunjukkan kalau terpancing gairah. Umpatan itu sebatas dibatin oleh Lindsay.