Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 25



Sebelum mendengar jawaban dari wanita di hadapannya, Aloysius mengangkat tangan kanan, menghadapkan telapak ke depan sebagai pertanda jangan dijawab terlebih dahulu. Dia mengamati penampilan Lindsay dari atas sampai bawah. Mencocokkan dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh sekretarisnya. Crop top coklat, rambut pirang digerai, dan ... ia sampai menundukkan kepala supaya bisa melihat di bawah meja, celana berwarna senada dengan atasan.


Dari semua yang disebutkan oleh sekretarisnya, ada pada Lindsay. Aloysius menatap wanita itu dengan wajah bingung, tapi sudah bisa menyimpulkan sendiri. “Jangan bilang kalau kau yang akan menemaniku makan malam di sini?”


“Sayangnya ... iya. Aku dihubungi oleh seseorang, memohon sampai dia rela menawarkan untuk memberi jaminan apa pun supaya aku mau membantu hanya untuk menemani bosnya bertemu klien.” Lindsay tersenyum dengan alis sebelah terangkat.


Aloysius menghembuskan napas seraya mendorong tubuh mundur hingga punggung membentur sandaran kursi. Dia sangat lelah rasanya. Padahal sudah berusaha keras melupakan Lindsay, merelakan semua yang sudah terjadi. Tapi, pada akhirnya selalu bertemu orang yang sama lagi disaat ia ingin mencoba menjalin dengan wanita lain, mau membuka pada sosok baru.


Bagaimana caraku bisa move on jika seperti ini terus! Setelah mengumpat dalam hati, Aloysius mengusap wajah dengan sangat kasar.


“Kau kecewa karena aku yang datang?” tanya Lindsay ketika menangkap bagaimana guratan pria itu yang terlihat tidak menunjukkan reaksi senang sedikit pun.


“Ya ... tidak seharusnya istri orang ada di hadapanku.” Aloysius mau pergi dan menghindari sumber sakit hatinya, tapi malam ini adalah pertemuan bersama klien dan sangat penting. Kakeknya sudah mengomel akibat ia yang tak fokus bekerja beberapa minggu terakhir, jadi berusaha menjadi lebih baik lagi. “Mungkin kau bisa pergi, aku tidak membutuhkan bantuanmu. Maafkan sekretarisku yang sembarangan menghubungi,” usirnya kemudian.


Aloysius tidak akan berusaha menahan Lindsay lagi seperti sebelumnya. Keputusannya adalah menyerah dan mencari sumber kebahagiaan lain.


“Aku sedang malas berdebat maupun bertengkar. Jadi, tolong kau tinggalkan aku, urusan klien biarkan ku urus sendiri.”


Semakin diperhatikan, Lindsay bertambah yakin kalau Aloysius tidak baik-baik saja. Bibir pria itu sangat pucat, nada bicara juga tidak menggelegar penuh amarah seperti biasa mereka berinteraksi setelah bertemu lagi. “Kau ... sakit?”


“Jangan mengulur waktu atau merubah topik, Lindsay. Aku tidak butuh bantuanmu, dan kita juga bukan pasangan.” Aloysius melotot, tapi tetap tidak bisa menutupi bahwa pandangan matanya sedikit buram. “Sekarang kau mommyku, seharusnya sedang menikmati waktu bersama daddyku, bukan di sini.”


“Kalau bukan karena sekretarismu, aku pun tidak mungkin berada di tempat ini.” Lindsay berpindah duduk menjadi di samping Aloysius. Dia harus mengecek lagi lebih dekat.


Baru kali ini merasa kinerja sekretarisnya buruk, Aloysius tidak suka dengan teman kencannya.


Lindsay menyentuh dahi Aloysius tanpa permisi. “Kau sakit, Alo. Badanmu panas, apa tidak terasa pusing?”


Reflek tangan Aloysius melingkar di pergelangan Lindsay, dia tarik supaya menjauh dari kening, kemudian sedikit ditarik lagi hingga lebih condong ke arahnya. Kali ini keduanya saling pandang dalam jarak satu jengkal. “Tidak perlu sok peduli, sejak muncul setelah setahun hilang, kau tak pernah memperhatikan perasaanku. Justru menghancurkan segalanya, bahkan kebahagiaanku juga. Jadi, mau aku sakit atau tidak, seharusnya kau tetap acuh saja. Maka, dengan cara seperti itu aku bisa lebih mudah melupakanmu!”