Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 17



“Pernikahan atas nama Delavar Doris Dominique dan Lindsay Novak terdaftar hari ini pukul sembilan. Jadi, kemungkinan sudah selesai prosesinya.”


Aloysius mundur satu langkah. Dunianya terasa berhenti saat itu juga. Mendengar bahwa kedatangannya telah terlambat satu jam. Pastilah tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Semua usahanya benar-benar gagal. Kini wanita yang selalu berada dalam pikirannya sudah menjadi orang tua tirinya.


Tiba-tiba Aloysius tertawa getir. Menertawakan diri sendiri yang amat menyebalkan garis hidupnya. Terlalu lucu jika dibayangkan. Tidak perlu dibayangkan, nyatanya itu adalah fakta yang harus ia terima mulai sekarang juga.


“Anda baik-baik saja, Tuan?” tanya petugas yang tadi memberikan informasi.


“Ya ... i’m good. Tapi, hatiku tidak.” Rasanya Aloysius telah remuk berkeping-keping. Entah bagaimana ia akan memperlakukan Lindsay dikemudian hari. Semua terlalu aneh untuk dijalani.


“Terima kasih atas informasinya.” Aloysius pamit undur diri. Dia berjalan gontai dan tak bertenaga.


Sudah penampilan seperti orang baru bangun tidur, ditambah wajah murung. Lengkap sudah kini Aloysius kalau dijuluki pria gembel.


Aloysius ingin sekali berteriak, meluapkan segala amarah. Namun, tidak ada gunanya lagi. Kondisinya sudah berubah. Wanita itu tak bisa lagi menjadi miliknya.


“Bagaimana? Delavar ada di dalam?” Davis baru saja sampai. Dia menghadang tubuh sang cucu yang terus melamun tapi tetap bergerak maju.


Aloysius mengedikkan bahu. “Sudah selesai, aku ... kalah.” Dia menubruk dada kakeknya, memeluk tubuh tua yang masih bisa memberikan sandaran untuk mendengar dan meluapkan kesedihannya.


“Partner ranjangku sekarang menjadi mommyku.” Aloysius meneteskan air mata. Dia sedih, hatinya sakit sekali bagaikan belum bisa menerima semua yang sudah terjadi.


“Jadi, daddymu sungguh menikah lagi?”


Kepalan tangan Davis memukul puncak kepala cucunya. “Antartika tak berpenghuni, bodoh! Isinya pinguin.”


“Ya ... tidak masalah hidup dengan pinguin, daripada merasakan patah hati seperti ini.” Aloysius berjalan mendahului menuju pintu keluar.


Davis yang melihat cucu sedang tidak memiliki semangat hidup pun sampai bergeleng kepala. “Kita cari Delavar, aku harus memberi dia pelajaran.”


Aloysius tidak menanggapi, terus saja berjalan menuju mobil. “Aku mau ke rumah sakit, mungkin ini akan menjadi yang terakhir kali bertemu Mommy,” pamitnya saat tangan sudah membuka pintu kemudi.


Aloysius masuk ke dalam, menghidupkan mesin. Dia terkejut ketika sang kakek sudah duduk di samping. “Kenapa ikut denganku?”


“Membiarkanmu mengendarai mobil sendiri disaat putus asa seperti ini?” Davis menggelengkan kepala. “Aku tidak ingin memakamkan cucuku sebelum tubuhku berada di bawah tanah mendahului kalian.” Tandanya, Aloysius harus berkendara lebih hati-hati.


Sedang tak ada tenaga untuk bertengkar atau meladeni kakeknya. Aloysius melajukan kendaraan pelan. Awalnya kalau sendirian mau mencapai kecepatan dua ratus kilometer perjam. Tapi, ada satu penumpang kakek-kakek yang tiba-tiba menebeng.


Sampai di depan rumah sakit, Aloysius segera turun. Membiarkan kakeknya tertinggal di belakang. Namun, ketika baru beberapa langkah, merasakan ada getaran ponsel di saku. Dia mengabaikan itu, mungkin dari Brennus atau Clemmons. Terus saja mengayunkan kaki ke ruang ICU. Sudah satu bulan mommynya berada di sana, entah kenapa belum dipindah ke ruang rawat lagi.


“Aku menghubungimu, tapi tak diangkat,” ucap Brennus saat melihat Aloysius mendekat.


“Katakan saja langsung.”


“Daddy dan Lindsay baru saja datang ke rumah sakit bersama. Kau ... terlambat menemukan lokasi pernikahan mereka?”