Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 67



Aloysius sengaja berjalan menjauh dari arah kedatangan Andrew yang tadi baru turun dari sebuah mobil pick up. Dia sedang malas kalau waktu berdua bersama Lindsay harus terganggu. Apa lagi tiap kali ada pria itu, pasti bibir ingin sekali mengumpat akibat kesal karena sering diremehkan dan diejek.


“Kenapa jalan terus?” tanya Lindsay. Bingung, tadi mengajak istirahat, sekarang justru semangat menggerakkan kaki dengan posisi merengkuh pinggul.


“Ada Andrew, aku malas,” jawab Aloysius jujur.


“Berhenti, dia pasti mau bicara denganku kalau sampai menyusul ke sini,” pinta Lindsay. Jika Aloysius tidak mau menuruti, maka ia yang tak lagi bergerak.


Ada decakan dari bibir Aloysius. Mau tak mau ia juga ikut melakukan seperti Lindsay. Wanita itu berputar, maka dirinya pun begitu. Dia terus merengkuh pinggul tanpa ada jarak sedikit pun. Biarlah Andrew sadar diri kalau tak memiliki celah untuk masuk ke dalam hati pujaannya.


“Ada perlu apa?” tanya Lindsay dengan suara lembut.


“Aku mau ke kota. Di gudang sudah menipis persediaan pakan ternak, tapi supplier belum mengirimkan lagi. Jadi, aku ingin cek langsung apakah ada kendala di sana sampai terlambat beberapa hari dari jadwal biasanya.”


Aloysius mengulum senyum. Baguslah kalau Andrew pergi dari peternakan. Jadi, dia tidak perlu dongkol kalau melakukan aktivitas di peternakan, tak ada yang mengejek kalau salah dalam melakukan kegiatan yang baru pertama kali baginya.


“Oh ... ok, hati-hati.” Respon Lindsay juga biasa saja. Dia memang tak pernah memberikan lampu hijau.


“Kau mau titip sesuatu? Nanti saat kembali ke sini akan ku bawakan,” tawar Andrew.


“Tidak ada! Kalau pun Lindsay menginginkan sesuatu, aku yang akan membelikan, bukan kau.” Aloysius memotong sebelum yang ditanya menjawab. Dia tidak akan memberikan celah untuk Andrew memberikan perhatian.


Adanya orang ketiga karena salah satu membiarkan ada pintu terbuka sebagai jalan menyusup masuk ke dalam hubungan. Jadi, tak akan dibiarkan hal itu terjadi.


“Aku bertanya pada Lindsay, bukan bonsai.” Andrew menatap sengit rivalnya.


“Bonsai? Kau pikir aku kurcaci?” Selalu begitu, Aloysius mudah tersindir dan emosi karena memang Andrew piawai kalau memprovokasi hingga ia kesal. “Matamu buta, ya? Jelas-jelas badanku lebih besar daripada kau.”


Lindsay bergeleng kepala, bisa pusing kalau dua pria itu dipertemukan. “Pergilah, Andrew.”


Wanita itu lalu melingkarkan tangan di lengan Aloysius. “Kita juga lanjutkan jalannya.”


Daripada terus mendengar adu mulut yang tak berujung, lebih baik memisahkan saja. Lindsay dan Aloysius pun jalan lagi.


Teringat kalau ada cerita yang semalam belum tuntas, Lindsay pun mengungkit. “Ayo lanjutkan lagi.”


“Yang semalam?”


“Ya.”


Sembari berjalan, Aloysius pun mengatakan kalau selama ini yang membuatnya tersiksa adalah kehamilan Lindsay. “Aku tidak menyalahkan kau atas yang terjadi. Hamil simpatik, tiap pagi selalu lemas, mual, sering muntah, tidak mau makan apa pun. Pokoknya sangat menyiksa. Itu terjadi sampai berbulan-bulan. Baru sembuh ketika aku bertemu denganmu.”


“Pantas saja selama ini aku tak pernah merasakan seperti wanita hamil pada umumnya, ternyata kau yang melewati masa itu.”


Aloysius berhenti bergerak. Ia berlutut di hadapan Lindsay, tepat sekali pandangan tertuju pada perut. “Anak kita sepertinya tahu kalau daddynya pernah jahat dan memperlakukan mommynya buruk. Jadi dia menghukumku.” Telapak mengusap perut buncit itu.


“Mana mungkin ada kejadian begitu. Kebetulan saja.” Lindsay mengusap rambut lebat sang pria. Ketika merasakan perut dicium, ada tendangan dari dalam yang sangat kuat. “Lihatlah, dia saja sayang denganmu, langsung aktif kalau mendapatkan sentuhanmu.”


“Kalau mommynya, aktif juga jika disentuh aku?” Aloysius mendongak dalam keadaan memeluk dan kepala ditempelkan ke si buncit untuk mendengar pergerakan di kandungan wanita pujaan hati.


Malas menanggapi, Lindsay tidak mau memberi tahu. “Cukup. Kita akhiri pagi ini. Saatnya ke kandang sapi untuk memerah susu.”