Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 70



Lindsay tidak bisa menahan diri untuk tak tertawa. Sepanjang di dalam mobil menuju rumah, ia terus terkikik karena Aloysius tidak berhenti menggerutu. Wajah yang merah, ditekuk kesal, menambah kesan kekanakan yang menggemaskan.


“Besok ku carikan guru untuk sapimu agar mereka sopan sedikit,” ucap Aloysius.


“Mana ada, kau itu jangan mengarang.” Sampai geleng-geleng kepala Lindsay. Dia mengusap perut yang terasa kencang karena kebanyakan tertawa.


Aloysius yang melihat perubahan ekspresi sang wanita pun segera berhenti untuk memberikan perhatian. “Kenapa? Sakit?” Ikut mengusap dan merasakan apa yang tak beres di perut Lindsay.


“Kram, kebanyakan tertawa.” Lindsay meringis agar tidak domeli oleh Aloysius.


“Cemberut terus saja kalau begitu, jangan bahagia supaya tidak kram lagi.”


“Nanti dikira hidupku tegang karena banyak hutang.”


“Daripada melihatmu kesakitan seperti tadi.”


“Ini sudah lebih baik, Sayang.” Lindsay mengusap rahang Aloysius dan bibir mengeluarkan kata yang seharus masih ditahan. Namun, daripada pria itu mengoceh terus, lebih baik menyenangkan hati Aloysius walau sebentar. Anggap saja sebagai obat karena sudah disiksa oleh sapinya sejak kemarin.


Lihatlah wajah si Bos yang sudah beberapa hari bolos kerja itu. Aloysius tersenyum senang. “Aku suka panggilan itu. Tolong pertahankan dan ucapkan setiap hari.”


Meraih kepala Lindsay, sedikit menarik dan kepalanya juga mendekat, Aloysius meninggalkan kecupan di kening.


Sesampainya di rumah, Lindsay membiarkan Aloysius membersihkan diri dengan mandi. Dia cukup membasuh wajah, tangan, kaki, dan berganti pakaian.


Sembari menunggu Aloysius keluar untuk makan siang bersama, Lindsay mengeluarkan MacBook. Dia menonton sesuatu dari layar itu. Cekikikan sendiri.


“Menertawakan apa?” tanya Aloysius. Dia berdiri di belakang sang wanita, lalu ikutan melihat.


Mata pria itu membulat ketika apa yang ada di layar adalah dirinya saat berhadapan dengan sapi di kandang. “Kau merekamnya?”


“Tidak, itu dari CCTV. Kalau dilihat lagi, lucu juga.”


Aloysius tidak marah sedikit pun kalau ia dijadikan bahan lawakan wanita yang dicintai. Namanya juga sudah menjadi budak cinta tahap tertinggi sampai bodoh. Dia hanya mengacak-acak rambut dan mengingatkan. “Jangan tertawa berlebihan seperti tadi lagi. Aku tidak mau melihatmu kesakitan. Sudah cukup sakit karena aku.”


Ada sesuatu yang begitu hangat memeluk dada. Lindsay merasakan kalau Aloysius memang sudah pantas menjadi pendampingnya. Pasti hidup tidak akan membosankan.


“Kalau aku sedih, sepertinya melihat video tadi bisa langsung merubah suasana hati,” tutur Lindsay. Ia tutup MacBook, lalu mengamati Aloysius yang masih sibuk menggosok rambut. “Mau aku bantu keringkan?” tawarnya kemudian.


“Pakai hairdryer?”


“Iya.”


“Boleh.”


“Tunggu sebentar.” Lindsay berdiri dan meninggalkan sang pria. Masuk ke kamar, keluar lagi sudah membawa pengering rambut.


“Seru juga ternyata melakukan keseharian di peternakan.” Sembari rambutnya diacak-acak agar kering, Aloysius mengajak berbincang supaya tidak sunyi.


“Tapi jauh dari kota, mau beli apa-apa butuh waktu perjalanan yang lumayan.”


“Tidak masalah, mau sejauh apa jaraknya, kalau hidup bersamamu dan anak kita ... sepertinya akan terasa lebih mudah.” Aloysius mendongak untuk melihat wajah Lindsay. “Setiap hari ku goda, rayu, dan ajak menikah, apa masih belum ada jawaban juga?”


Lindsay tersenyum lembut. Gerakan dari dua tangan tidak berubah sedikit pun. “Sudah tidak sabar menjadi suamiku, ya?”


Lama-lama dua manusia itu menjadi satu spesies yang sama. Sekarang Lindsay mulai bisa menggoda juga.


“Jelas, aku juga bersedia tinggal di peternakan ini bersamamu kalau kau mau memberikan syarat itu.” Aloysius semangat saat mengatakan dengan penuh kesungguhan.


“Gampang, bisa dilakukan dari sini.” Namanya juga Aloysius. Dia itu selalu asal bicara dan tidak pikir panjang. Nyatanya, sudah tiga hari menginap di Lindsay pun tak menghidupkan ponsel untuk menghindari dihubungi sekretarisnya.


...........


Sementara itu, di Kota Helsinki, Dakota sedang pusing karena pertemuan bosnya kacau semua. Tidak bisa dihubungi. Ia mendapatkan komplain juga dari klien yang sudah datang tapi Aloysius tidak menghadiri.


“Dia yang jatuh cinta, aku yang menderita,” keluh Dakota. Kepala sekretaris itu pusing sepuluh keliling. Rasanya mau pecah memikirkan kegilaan bosnya.


Malang sekali nasib Dakota yang mengandalkan penghasilan dari bekerja dibawah tekanan seorang Aloysius Finlay Dominique. Bos yang ternyata senang melakukan segala sesuatu sesuka hati.


Jalan lain, Dakota pun terpaksa menghubungi ketua komisaris gurita perusahaan Triple D Corp yaitu Drake Davis Dominique. Tanpa membuat janji, dia datang ke tempat tinggal keluarga itu langsung. Nekat saja, entah ketemu atau tidak, yang penting adukan dulu agar bosnya sedikit lebih waras.


...........


Amartha, orang tua Aloysius baru saja keluar rumah sakit setelah kemarin melakukan kemoterapi yang ke enam. Beruntung tubuhnya bisa menerima cara pengobatan itu. Jadi, terus dilanjutkan dan berharap bisa sembuh sampai merasakan memiliki cucu dan menyaksikan anak-anaknya bahagia.


“Antar aku ke peternakannya Lindsay, Dad. Rindu dengan suasana di sana, sekaligus mau menengok cucu,” pinta Amartha saat ia baru saja duduk di mobil.


“Boleh, nanti kita belikan oleh-oleh dari sini. Mau mencari perlengkapan bayi untuk cucu sekalian?” tawar Delavar. Menutup pintu, sekarang ia tidak pernah menyupir sendiri, memilih untuk duduk santai dan menemani istri di belakang.


“Ide bagus.”


...........


Di mansion utama Dominique, Dakota berhasil bertemu oleh orang yang dicari. Kebetulan sekali ada beberapa sedang berkumpul.


Davis, Diora, Dariush, Alceena, Amabella, dan Adorabella sedang berbincang santai ketika Dakota datang.


“Kau sekretarisnya Aloysius?” tanya Davis.


“Benar, Tuan.” Dia tidak berani santai seperti menghadapi bosnya. Kini lebih formal.


“Ada apa mencariku?” Davis membiarkan perbincangan didengarkan oleh keluarganya yang lain. Malas juga harus ke ruang kerja.


“Cucu Anda, tidak bisa dihubungi selama beberapa hari ini. Pekerjaan kacau semua,” adu Dakota.


“Memangnya dia ke mana?” tanya Amabella.


“Katanya akan mengejar cinta yang sempat hilang.”


Dariush tertawa dengan kalimat itu. “Dasar anaknya Delavar ... menyusahkan saja.”


“Kau tenanglah, nanti akan aku urus bocah itu,” ucap Davis.


Dakota pun mengangguk dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Dia pamit kembali ke kantor. Biarkan urusan bosnya ditangani oleh keluarga Dominique.


“Mungkin Aloysius ke peternakan Lindsay,” kata Alceena. Sudah berumur juga tetap saja seksi, rambut belum rapi, dia suka sekali acak-acakan seperti singa karena suaminya menyukai model begitu. Memang agak lain selera Dariush, alasannya supaya tidak ada yang tertarik dengannya.


“Aku juga berpikir begitu. Sudah sadar ternyata si Alo, tidak bodoh lagi.” Davis tersenyum senang kalau Aloysius bisa memahami clue yang diberikan.


“Kasian Dakota, kita bantu saja, Dad. Setidaknya supaya bisa dihubungi.” Diora mengusap lengan suami supaya menyetujui. Dijawab anggukan.


“Kita ke peternakan Enjoy Life, Grandpa. Susul Alo. Hitung-hitung liburan,” cetus Adorabella.