
Aloysius mencoba menjiwai saat memerah. Pelan, penuh kasih sayang, dan penghayatan. Dia sembari membayangkan sesuatu, hingga bibir pun keluar sebuah desah geli.
“Biasa saja, tidak perlu mengeluarkan suara begitu. Ini sapi, hewan. Jangan bilang kau horny karena memerahnya.” Lindsay menepuk pundak Aloysius agar bibir kembali terkatup rapat. Sedikit terganggu juga kalau terus bising.
Pria itu meringis hingga gigi dipamerkan. “Namanya juga menjiwai, siapa tahu setelah ini dibuat mende—sah oleh pemiliknya.” Seakan tak pernah kehabisan kata untuk memancing hal itu. Aloysius terlalu lama tidak bercinta, jadi otak isinya mesum terus.
“Nakal, ya ....” Lindsay begitu pelan menjewer telinga Aloysius.
“Sedikit, soalnya kalau berada di dekatmu, bawaannya ingin colok terus.” Aloysius lekas meluruskan ketika mendapatkan tatapan datar dari Lindsay. “Eh, bukan, maksudnya mau bermesraan terus.”
“Fokuslah, sampai tidak ada lagi cairan yang dikeluarkan.” Lindsay melipat kedua tangan di dada. Dia bagai pelatih yang sedang mengamati karyawan baru, walau sebenarnya Aloysius lebih menyusahkan. Bukan karena tidak cepat belajar, tapi tak henti memberikan godaan yang membuat perut bagaikan diterbangi kupu-kupu.
“Siap, Bos!” Aloysius melakukan tarikan berulang. Tadi dia memang sempat kesusahan, tapi setelah diajari dengan Lindsay yang memperagakan secara langsung, akhirnya sekarang bisa juga.
Ember di bawah mulai terisi tiga perempat, lumayan katanya bagi pemula. Cara memerah juga bisa berpengaruh dengan hasil susunya.
Keempatnya sudah Aloysius perah. Tidak ada lagi yang bisa menghasilkan cairan. “Berarti ini sudah selesai?”
“Sudah, tuangkan ke sana.” Lindsay menunjuk sebuah pintu lain. “Nanti akan langsung otomatis diolah oleh mesin untuk menjadi susu kemasan.”
“Enjoy Life? Aku suka sekali,” beri tahu Aloysius seraya mengangkat ember. “Padahal aku tak pernah bisa minum susu apa pun itu. Ya ... kecuali punyamu.” Tatapannya tertuju pada dada.
“Iya, Bos, galak sekali.” Aloysius mengecup pipi Lindsay sebelum ia berjalan menuju tempat yang tadi dimaksud.
Pria itu kembali lagi menuju wanita yang tetap berdiri tak bergerak sedikit pun dari lokasi semula. Aloysius melanjutkan ceritanya tadi. “Susu kemasan buatan pabrikmu selalu berhasil membuatku bisa melewati masa-masa sulit saat terkena hamil simpatik. Hebat sekali memang wanitaku ini.” Tangan mengacak-acak rambut Lindsay.
“Ish ... kotor, Alo!” Namun segera ditepis. “Tugasmu belum selesai. Masih harus membersihkan putingg dengan air hangat.”
“Lagi?”
“Iya, itu yang terakhir.”
“Baiklah.” Kembali berjongkok, Aloysius mengguyur bagian sapi yang tadi sudah ia nodai.
Saat sedang membersihkan hewan itu, Aloysius merasakan ada air yang terarah padanya. Bukan sekadar cipratan, tapi itu memang semburan. Dia pikir air biasa, ternyata saat menengok, wajah yang kini kena. Buru-buru memalingkan dan sedikit mundur agar tak menjadi sasaran lagi.
Mengusap wajah secara kasar dan kesal. “Ada masalah apa sapi-sapimu ini dengan aku? Kemarin diciprari kotorannya, sekarang dikencingi.” Hembusan napas Aloysius berakhir penuh tekanan oleh rasa marah.
Mau emosi, tapi itu hewan. Kalau mengomel pada Lindsay, lebih baik diajak duel di atas ranjang saja lebih nikmat. Aloysius tujuannya baik, mau membuktikan kesungguhan. Tapi, jalannya terlalu berliku karena lawan sebenarnya bukanlah perasaan Lindsay atau Andrew, melainkan sapi yang tak berakal.
Jadi, kalau sudah begitu, siapa yang mau disalahkan? Lindsay? Mana mungkin. Andrew? Ya, sepertinya pria itu lebih cocok karena tidak mengajari ternak untuk belajar tata krama.