
Aloysius sengaja keluar kamar hanya sebatas memakai celana boxer, membiarkan telanjang dada. Untung pemanas ruangan di rumah Lindsay berfungsi semua. Jadi, ia tidak mungkin menggigil.
Sebelum memutuskan untuk mencari Lindsay ke peternakan Enjoy Life, Aloysius memang sengaja mengemasi banyak pakaian. Sejak awal berencana mau menginap di sana dalam kurun waktu lama. Diam-diam membawa koper sebanyak dua di bagasi mobil. Baru satu yang dikeluarkan.
Berdiam sejenak di ujung tembok dekat dapur. Aloysius mengamati punggung wanita yang amat dicintai itu tengah bergerak memasak entah apa. Baunya sangat harum dan menggugah selera.
Padahal beberapa bulan belakang Aloysius sangat sensitif terhadap aroma apa pun. Dia bisa muntah dan lemas hanya karena itu. Anehnya, sekarang hidungnya lebih kuat. Jarang mual kalau ada di dekat pujaan hati.
Puas memandangi, kaki Aloysius kian terayun pelan. Mengendap bagaikan maling. Sejujurnya berkeinginan untuk mencuri, bukan harta, tapi hati. Dia merasa kalau perasaan wanita itu padanya Mulai berkurang, tidak seperti dahulu lagi. Maka, sekarang sedang berusaha agar bisa kembali layaknya sedia kala.
Nyaris tak ada suara telapak kaki yang bersentuhan dengan lantai, Lindsay sampai tak tahu jika Aloysius berhenti di belakangnya.
Pria itu main memeluk saja dari belakang, padahal Lindsay sedang sibuk menyiapkan makan malam yang sejak tadi belum juga selesai.
Ada helaan napas kasar dikeluarkan oleh Lindsay. “Tolonglah ... biarkan aku leluasa sedikit,” pintanya. Dengan posisi sekarang, ia yakin makanan akan matang satu jam lagi. Sebab, ada debaran di dada yang perlu dilawan, perlu menyingkirkan pikiran kotor akibat mereka tak ada jarak satu jengkal pun. Aloysius bukan manusia lurus seperti Andrew, pria itu jahil dan tidak mudah menurut.
“Kenapa tidak suka aku peluk dari belakang? Padahal posisi ini nyaman sekali. Bisa mengusap perutmu, merasakan tendangan anak kita, melihatmu memasak. Itu seru.” Bibir Aloysius mengecup pundak wanitanya.
“Bukan hubungan tanpa status lagi yang seru?” Namanya juga wanita, Lindsay selalu mengingat apa pun yang dianggap menyakitkan atau membuatnya bahagia. Jadi, sedikit mengungkit satu kalimat yang ia dengar lebih dari enam bulan lalu.
“Itu dulu, sekarang aku mau serius denganmu, demi cinta dan anak kita.” Aloysius cukup mendaratkan dagu di pundak Lindsay, sangat nyaman rasanya.
Ada hati mulai lega, harapannya yang dahulu ingin dinikahi pun mulai terlihat ujungnya. Bisa jadi sebentar lagi, Lindsay hanya ingin menuntaskan rasa penasaran atas kesungguhan seluruh ucapan Daddy dari anaknya.
“Kalau kau mau memelukku terus, jangan melakukan apa pun yang membuatku terganggu, ok? Aku sudah sangat lapar,” pinta Lindsay, ia mengusap punggung tangan Aloysius yang melingkar di perut buncitnya. Tidak lupa senyum di wajah kian berseri.
Benar perintah itu dilakukan sesuai arahan. Aloysius menurut bagai hewan peliharaan. Biasanya sering membantah atau melanggar, lalu berlaku sesuka hati. Bisa jadi dia sungguh sudah berubah. Walau sedikit dan demi Lindsay. Setidaknya itu hal bagus.
“Spaghetti, ya?” tanya Aloysius ketika melihat Lindsay memindahkan hidangan ke dua piring.
“Iya.” Lindsay meletakkan alat masak yang kotor ke wash sink.
Kemanapun perginya wanita itu, Aloysius akan ikut bagai anak monyet yang tidak mau lepas dari induknya. Dia tidak ingin kehilangan Lindsay untuk ketiga kali.
“Em ... sebenarnya aku tidak terlalu suka.” Aloysius meringis ketika melepaskan rengkuhan dan mengambil alih dua piring untuk ia letakkan ke meja makan.
Ada decakan dari si pemilik rumah. “Kenapa tak bilang sejak tadi, aku sudah bertanya denganmu, kan?”
“Santai ... kalau buatanmu pasti lain cerita, akan ku makan sampai habis.” Aloysius mengecup pelipis Lindsay, lalu ia duduk di kursi sebelah wanita itu.
Saatnya pembuktian. Benarkah selama ini penyiksaan yang terjadi karena jauh dari anaknya dan Lindsay? Aloysius mulai makan satu suap.
Dua bola mata Aloysius melebar. “Ini enak sekali, biasanya aku langsung muntah kalau dibelikan atau dibuatkan oleh orang lain.”
“Tentu saja berbeda, tangan ibu hamil penuh magic,” seloroh Lindsay. Memamerkan telapak tangannya.
Aloysius langsung menggenggam itu. “Sepertinya karena dibuat dengan penuh cinta, iya, kan?” Lagi-lagi mengeluarkan godaan.
Ya, tentu saja. Tapi itu dibatin oleh Lindsay. Nanti akan ada saatnya ia katakan secara jelas tentang cinta.
Kepala Lindsay cukup bergeleng tanpa perlu memberikan validasi apa pun. Tanpa sadar karena terlalu nyaman, ia membiarkan makan dalam posisi jemari masih berada dalam genggaman Aloysius.
“Kau memang sudah cocok menjadi istri. Tinggal ku tunggu kata yes darimu, langsung angkut ke Badan Kependudukan, atau mau yang lebih sakral lagi? Kita ke Katedral.” Modus terus sampai dapat. Sepertinya memang bakat alami yang diturunkan dari orang tuanya, pandai merayu.
“Nanti setelah aku melihat kesungguhan darimu.”
“Jadi, sekarang masih ragu, ya?”
“Kurang lebih begitu.” Lindsay mengangguk. Dia sudah kenyang sekali, memang makannya hanya sedikit walau sedang hamil pun, cukup satu setengah kali lipat dari kondisi normal. Makanya tubuh tidak terlalu pesat bertambah gemuk. Untuk nutrisi bayi? Ia dapat dari vitamin yang selalu diberikan oleh dokter.
“Tidak masalah, yang penting aku tahu kalau pada akhirnya tetap akan diterima. Hanya butuh sedikit berjuang.” Aloysius berdiri dan menahan pundak Lindsay agar tak pergi kemanapun. “Mau ambil minum, kan? Biar aku saja.”
Perhatiannya Aloysius berlipat-lipat. Lindsay senang, dahulu ia pernah bergumam dan iri ketika melihat orang tua pria itu yang amat romantis. Ia pikir Aloysius tidak bisa melakukan hal serupa, ternyata salah, sekarang dia merasakan sendiri betapa senangnya kalau memiliki pasangan yang peduli.
“Ini.” Aloysius meletakkan gelas di atas meja.
“Terima kasih.” Lindsay mulai meneguk dan menghabiskan air mineral yang diambil dari kran langsung.
Melihat dua piring telah kosong, jiwa bersih-bersih Lindsay otomatis aktif. Tangan sigap menumpuk itu.
“Eits ... kau sudah memasak, jadi biar aku saja yang mencuci piring.” Aloysius mengambil alih. Dia berjalan menuju wash sink dan melakukan pekerjaan itu tanpa banyak mengeluh.
Jika dirasakan, mereka memang seperti suami istri sungguhan. Hidup berdua, mau punya anak juga sebentar lagi.
Lindsay memegang dada, merasakan irama debaran di sana yang menggebu. Sejak kedatangan Aloysius ke rumahnya, bibir selalu tersenyum bahagia. Mata sembari fokus pada bahu kekar yang bergerak seirama dengan arah menggosok piring. Naik turun.
“Kau juga sudah cocok menjadi suami,” gumam Lindsay pelan.
Telinga tajam Aloysius masih bisa mendengar. Pura-pura saja tuli. Setidaknya kini ia tahu penilaian Lindsay padanya.
Setelah meniriskan alat makan dan mengeringkan tangan, Aloysius kembali duduk di kursi semula. “Kau mau mendengar seberapa kacaunya aku saat tahu kehamilanmu dan ternyata kau sudah pergi meninggalkan Helsinki?” tawarnya. Walau sebenarnya memang akan menceritakan itu, agar tahu bahwa selama ini ia tidak baik-baik saja.