
Sudahlah, Lindsay tidak akan mengungkit atau bertanya tentang wanita yang dicium oleh Aloysius. Lagi pula kejadian sudah lampau. Belum tentu juga benar seperti dugaannya kalau orang itu adalah Dakota, sekretaris calon suaminya. Dia hanya menduga karena tadi merasa ada kemiripan. Namun, tak ada gunanya membahas tentang hal itu lagi. Prianya saja tidak pernah mengingat. Jadi, untuk apa ia mengorek sesuatu yang seharusnya tidak perlu. Toh sebentar lagi juga akan menikah.
Lagi pula, Lindsay tidak melihat keanehan maupun kecentilan dari sekretaris Aloysius. Bahkan saat mereka di dalam rumah dan ia mengajak Dakota untuk makan bersama pun wanita itu biasa saja. Bukan seperti seseorang yang pernah memiliki hubungan spesial. Mungkin penilaiannya salah. Wanita dengan model rambut seperti Dakota juga sudah pasti banyak.
“Tidak menginap? Padahal baru sampai.” Saking baiknya, Lindsay menawarkan tumpangan tempat tinggal. Dia kasian saja melihat Dakota langsung pamit pulang setelah selesai makan siang.
“Terima kasih, aku datang ke sini karena dokumen ini sangat penting dan butuh tanda tangan segera.” Dakota melirik kesal ke arah Aloysius. “Kebetulan bosku orangnya cukup menyusahkan. Jadi, selain menjadi sekretaris, aku juga merangkap sebagai pesuruh,” sindirnya kemudian.
Namun, Aloysius santai, justru mendusel pada calon istrinya. “Kirim saja surat pengunduran diri.”
Mencebikkan bibir, Dakota masih butuh penghasilan. “Gajiku naik dua kali lipat berarti, mulai sekarang.”
“Gampang ... bisa diatur.” Aloysius mengibaskan tangan agar sekretarisnya segera pergi.
Lihat, kan? Interaksi antara Dakota dan Aloysius biasa saja. Layaknya atasan dan bawahan yang sudah terlihat berteman. Jadi, Lindsay tidak perlu membahas apa pun tentang masa lalu. Cukup menatap ke depan dan menjalani sisa hidup bersama.
...........
Aloysius dan Lindsay telah mendaftarkan pernikahan mereka di Badan Kependudukan setempat. Waktu yang dinanti sebentar lagi datang. Besok adalah hari di mana keduanya akan mengikat satu sama lain.
“Keluargamu jadi datang?” tanya Lindsay. Sembari menuruni anak tangga. Baru saja selesai membersihkan lantai dua.
“Sedang perjalanan. Tapi, kau jangan kaget, ya?” Aloysius meletakkn ponsel ke atas meja makan. Sejak tadi dia duduk di sana untuk bertukar pesan dengan keluarga yang lain.
“Memangnya kenapa?” Lindsay mengambil gelas, mengisi dengan air, lalu meneguk sambil mendengarkan jawaban calon suami.
“Rumahmu pasti akan penuh dan sesak,” beri tahu Aloysius.
“Tidak masalah, di sini cukup besar, dan lantai dua juga baru saja ku bersihkan. Kalau tak cukup kamarnya, mungkin tidur di lantai atau sofa juga tidak apa, kan?”
“Mereka gampang, tidur di kandang saja bersama sapi-sapimu pun tak masalah,” kelakar Aloysius.
Terbiasa melihat calon suami yang sering menyaksikan ke arah luar, menatap langit, kini kebiasaan itu jadi dilakukan oleh Lindsay. Dia tidak menghampiri Aloysius, tapi menuju jendela dan memenuhi kornea mata dengan hamparan awan di atas sana.
“Untung masih cerah. Sepertinya prediksi BMKG sangat akurat. Siap-siap buat kandang baru untuk seratus sapi,” bisik Aloysius.
Hanya tersenyum. Lindsay cukup menikmati pelukan dari calon suami. Sembari menanti kedatangan calon mertua sekeluarga.
“Aku ke toilet dulu, ya? Mau buang air besar,” izin Aloysius. Sudah tak tahan, akhirnya dia bergerak cepat tanpa menunggu jawaban.
Sendirian, Lindsay ingin duduk di luar. Dia bingung mau melakukan apa. Makanan untuk menyambut tamu-tamunya juga sudah siap sejak tadi. Menikmati secangkir cokelat panas sebagai peneman.
Tiba-tiba ada sebuah mobil pick up berhenti di depan rumah. Lindsay hanya menyapa dengan sebuah senyuman pada sosok pria itu.
“Ada masalah di peternakan?” tanya Lindsay pada Andrew yang berjalan menuju ke arahnya.
“Apakah aku hanya boleh datang saat memberikan informasi tentang peternakan ini?” Andrew berdiri di depan Lindsay.
“Tidak juga.” Lindsay mempersilahkan duduk.
Andrew mendaratkan pantat di kursi kayu yang kosong. Menatap wanita yang pernah ia ingin lindungi, tapi sayangnya tidak ada celah untuk dirinya masuk ke dalam kehidupan Lindsay.
“Besok kau menikah?” Ada perasaan mengganjal seperti tidak terima. Tapi, Andrew selalu pandai menutupi gejolak di dada.
“Iya.” Mengangguk, Lindsay sembari menikmati minuman yang kini mulai menurun suhunya.
“Apa sudah yakin dengan pria pilihanmu? Dari penilaianku, Aloysius sepertinya orang yang sombong, angkuh, mau menang sendiri. Bukankah sulit hidup bersama sosok yang tidak mau mengalah?”
Menggeleng, Lindsay tersenyum, lalu menatap Andrew supaya pria itu melihat bahwa di matanya tidak terpancar keraguan sedikit pun. “Aku tahu sifatnya. Bahkan semua yang kau katakan memang benar. Tapi, ada hal lain yang tidak semua orang tahu tentang calon suamiku. Jadi, aku sangat yakin.”
Andrew mencoba meraih tangan Lindsay. Menggenggam. “Lin, mungkin aku tidak sekaya dia. Tapi, janjiku pada orang tuamu adalah akan menjagamu dan memastikan kau baik-baik saja. Aku merisaukan itu. Takut jika tidak bisa memenuhi janji.”
Sejak tadi Aloysius sengaja berdiri di belakang pintu untuk mendengar. Sejauh mana Andrew akan merebut Lindsay. Mendengar jawaban calon istri yang memuaskan hati, saatnya ia keluar dari persembunyian.
“Kau tenang saja, Bung. Kerisauanmu padaku tidak akan pernah terjadi.” Aloysius berdiri di depan meja, berada diantara Lindsay dan Andrew. Ia melepaskan tangan rivalnya yang menggenggam calon istrinya. “Janjimu pada mendiang mertuaku biarlah aku yang melanjutkan itu. Kau tak perlu khawatir.” Telapak lebarnya menepuk pundak Andrew dengan penuh kesungguhan.