
Aloysius tiba di depan ruang rawat mommynya. Membuka sedikit pintu untuk mengintip siapa saja yang ada di dalam sana. Dia tidak mengetuk atau memberikan pertanda permisi. Karena tidak bisa melihat siapa pun kecuali wanita paruh baya yang tengah terbujur lemah, ia pun mendorong semakin lebar.
“Ck! Ada dia,” gerutu Aloysius ketika melihat daddynya tengah terpejam di sofa.
Mendengar ada seseorang datang, Amartha pun tidak jadi tidur. Membuka lebar dua kelopak mata dan menatap putranya. “Alo?” Sapaan itu diiringi sebuah senyum senang. “Akhirnya aku bisa melihat wajahmu.” Ia pun merentangkan tangan, meminta supaya sang anak mendekat. “Mommy mau peluk, mendekatlah,” pintanya kemudian.
Dengan gerakan kaki tanpa menimbulkan suara langkah, Aloysius pun mengikis jarak hingga kini ada di samping wanita kesayangannya. Tubuh merendah dan merasakan ada pelukan hangat. Dekapan yang sangat ia rindukan.
“Aku bersyukur karena Mommy berhasil melewati masa kritis,” ucap Aloysius. Setelah pelukan dilepas, ia menangkup kedua pipi Amartha, mengecup kening wanita yang melahirkannya dengan penuh kasih. “Jangan sakit lagi, Mom, aku masih membutuhkanmu,” harapnya.
Selagi daddynya masih tidur, Aloysius mau menyempatkan menghabiskan kesempatan itu untuk meluapkan kerinduan pada sang Mommy. Kalau Delavar bangun, pasti suasana hati akan berubah drastis secara mendadak. Maklum, masih ada rasa dongkol karena menduakan wanita kesayangannya.
“Ceritakan padaku apa pun tentang kehidupanmu yang Mommy tidak ketahui,” pancing Amartha. Dia mau putranya terbuka terlebih dahulu, walau sudah mendengar cerita langsung dari Lindsay dan suaminya.
Aloysius mengerutkan kening dan mata berotasi. Cerita apa? Dia sendiri bingung kalau ditanya tentang kehidupannya. Lebih tepatnya memang tidak suka berbagai apa pun pada siapa saja, termasuk orang tuanya.
“Aku baru keluar dari rumah sakit juga.” Aloysius menunjukkan tangan kiri yang ada sebuah plester putih. “Tadi infusnya baru dilepas, terus aku langsung ke sini karena sangat rindu dengan Mommy.”
Nyatanya Aloysius bisa manis juga. Lihatlah sekarang dia sedang mengecupi tangan Amartha berkali-kali. “Tapi, tenang saja, tidak perlu khawatir dengan kondisiku. Aku sudah sembuh,” ucapnya kemudian agar tak membuat mommynya kepikiran.
Meski sedang melawan sakit, Aloysius tahu jika orang tuanya pasti tetap memikirkan keadaan anak. Apa lagi kalau tahu ia baru saja dirawat.
“Mom, aku sudah besar, bisa menjaga dan merawat diri sendiri. Justru seharusnya sekarang akulah yang menjagamu, namun masih belum bisa karena banyak pekerjaan dan ... terlalu sibuk menyelesaikan urusan pribadi.” Aloysius terlihat jauh berbeda, dia nampak hangat memperlakukan mommynya.
“Aku punya hadiah untukmu,” ucap Amartha seraya mengusap rambut putranya yang bisa ia jangkau karena Aloysius sedang menunduk.
“Apa?”
“Ambilkan itu, tolong.” Amartha menunjuk atas meja.
Melepaskan genggaman tangan, Aloysius pun mencari sesuatu di atas meja. “Apa? Tidak ada apa pun di sini.”
“Kertas kecil.”
Ada satu, Aloysius mengambil itu dan memberikan pada mommynya. “Ini USG siapa? Mommy hamil lagi?” tanyanya sembari duduk di tempat semula.
“Bukan, itu milik Lindsay.”
Wajah Aloysius langsung berubah datar. Entah kenapa ada perasaan yang lagi-lagi tak menyenangkan. “Sudah ku usir dan peringatkan agar tidak menjadi orang ketiga diantara hubungan orang tuaku, masih berani saja hamil anak Daddy. Dasar—” Suaranya menggantung karena disela oleh seseorang.