
Aloysius sudah memikirkan cara untuk meminta maaf pada Lindsay. Bahkan sejak semalam, ia sampai tidak tidur karena hal itu. Entah usahanya kali ini bisa berhasil membuat wanita itu luluh dan kembali ke pelukannya atau tidak, tapi coba saja dahulu.
Saat Aloysius melihat pintu nampak ada yang membuka dari dalam, ia pastikan terlebih dahulu bahwa itu benar tempat tinggal Lindsay. Jadi, ketika melihat sosok wanita dengan perut buncit dan wajah sangat dirindukan, maka otomatis tubuhnya pun beringsut ke bawah. Dia bersimpuh di hadapan orang yang selama ini telah disakiti.
Kepala Aloysius menunduk. Sejenak menurunkan ego yang selalu ingin menang sendiri. Mana mungkin orang merasa bersalah masih angkuh. Sekarang ditepis terlebih dahulu segala sifat jeleknya, angkuh, arogan, egois, pokoknya dia ingin menunjukkan kesan bahwa mengakui seluruh perbuatan buruknya.
“Lindsay, dengan segenap kesadaran, tidak dalam kondisi mabuk ataupun terpengaruh obat-obatan, aku ingin meminta maaf padamu.” Entah bagaimana reaksi wanita itu, Aloysius belum tahu. Dia akan menyelesaikan dialog yang disusun secara dadakan.
“Aku tahu apa yang ku lakukan padamu selama ini adalah jahat, brengsek, keparat. Tidak ada baik-baiknya. Tapi, tolong ... berikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya.” Aloysius mulai penasaran dengan respon Lindsay karena wanita itu masih saja diam dan tidak memberikan tanggapan apa pun.
Kini kepala Aloysius mendongak, hingga bisa menangkap jelas wajah Lindsay. Ada dada bergemuruh penuh kerinduan. Sesungguhnya ingin sekali langsung memeluk dan mencium, tapi harus ditahan karena perlu mendapatkan maaf terlebih dahulu.
Sudah cukup selama ini Aloysius berbuat seenaknya pada Lindsay. Dua kali ia ditinggal bersembunyi oleh sosok itu, dan selalu kebingungan seperti manusia tanpa arah. Maka, tidak mau terjadi hal yang serupa. Kesalahannya cukup memberikan tamparan, kini perlu belajar memperlakukan yang lebih baik lagi.
“Lindsay ... aku menyesal sudah mengusirmu, apa lagi dalam keadaan hamil anakku.” Masih dalam posisi bersimpuh, Aloysius menggenggam tangan wanita itu, lalu bersama-sama mengusap perut buncit.
Ada getaran haru hingga mengaduk-aduk tenggorokan yang terasa tercekat. Baru pertama kali memberikan salam pada anaknya, langsung merasakan tendangan dari dalam. “Iya, ini Daddy, kau mengenaliku?”
Sementara Lindsay, ia menengadahkan kepala untuk menahan desakan air dari mata. Ternyata bukan salah orang. Itu memang Aloysius yang dikenal angkuh, arogan, sombong, mau menang sendiri. Tapi, kini sedang merendahkan diri di hadapannya.
Awalnya Lindsay masih biasa saja saat pria itu meminta maaf. Namun, ketika kedua tangannya dituntun untuk sama-sama mengusap perut, dadanya berdebar, darahnya berdesir. Dia tidak tahu lagi harus mengungkapkan dengan kata apa. Yang jelas, ada rasa senang dan rindu sedikit terbayar.
“Kenapa diam saja? Apa kau memaafkan aku?” tanya Aloysius. Menggenggam erat tangan ibu hamil itu, menatap dengan mata mengiba.
“Aku tidak pernah menganggap apa yang kau lakukan salah, Alo. Tapi, segala sesuatu yang terjadi padaku adalah kesalahanku,” ucap Lindsay. Matanya memerah akibat menahan diri agar tak menumpahkan tangis.
“No ... kau boleh menyalahkan aku,” paksa Aloysius.
Bibir Lindsay tersenyum lembut. “Aku selalu memaafkanmu.”
“Terima kasih.” Aloysius langsung menarik punggung tangan Lindsay dan dikecup terus menerus. “Kalau begitu, maukah kau tidak bersembunyi lagi dari hidupku? Ternyata aku sangat membutuhkanmu,” pintanya kemudian.