Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 103



Sial sekali nasib Aloysius. Pengantin baru tapi belum ada celah sedikit pun untuk menyentuh istrinya. Baru bangun tidur seharusnya ada pemandangan indah di depan mata, Lindsay yang berhasil mengikat seluruh hidup dan jiwa raganya. Tapi, kenyataan yang ada justru sebaliknya. Pandangan ternoda karena berada diantara kumpulan para kaum berbatang.


Aloysius pikir keluarga besarnya hanya akan menginap satu malam saja. Lagi-lagi salah duga. Rupanya dalam waktu tiga hari masih berkeliaran di sana, mengambil alih seluruh kendali Lindsay.


“Kalian ini pengangguran? Pulang, sana! Biarkan pengantin baru menikmati waktu untuk berdua.” Aloysius tidak tahan lagi. Tiga malam ia menahan diri, sampailah bibir sanggup mengusir.


“Kau tidak senang keluargamu berkumpul?” tanya Brennus. Mendekat pada saudara kembar, lalu memukul kepala Aloysius. “Pelit sekali, menumpang sebentar di rumah istrimu saja tidak boleh.”


“Masalahnya, kalian jadi mengganggu pengantin baru,” protes Aloysius. Decakan sebal tidak lupa mengiringi gerutuannya.


“Lindsay saja santai, tidak mengusir kami. Kenapa kau yang repot? Pemilik rumah ‘kan istrimu.” Brennus menarik sebelah sudut bibir, tersenyum penuh rasa puas melihat wajah frustasi kembarannya.


“Menyesal aku mengundang keluarga besar.” Aloysius pun memilih keluar rumah dan menuju kandang. Memastikan sapi-sapi tidak kedinginan. Lagi pula untuk apa di rumah pun tak bisa berbincang atau bermesraan dengan istri.


Sementara itu, Brennus duduk di depan rumah setelah kembarannya pergi. Keluarga yang datang bertamu itu sudah seperti ada di kediaman sendiri saja.


Mata Brennus memicing saat ada sebuah mobil bergerak mendekat. Terparkir di belakang jajaran ke daraan lain. Pengendaranya turun, menampaknya seorang wanita dengan mantel tebal.


“Mau cari Aloysius?” tanya Brennus pada wanita yang ia kenal sebagai sekretaris kembarannya.


Dakota menggeleng. “Bukan, tapi istrinya.” Dia melewati Brennus begitu saja. Menuju pintu, lalu mengetuk sebagai tanda ada tamu datang.


Yang menyambut bukan pemilik rumah, tapi sepupu Aloysius. Adorabella. “Ada apa? Kau datang ke sini mau memberi tahu jika benar pernah dicium Aloysius?” sindirnya. Setelah mendengar cerita Lindsay tiga malam lalu, dia langsung mencoba mencari nomor Dakota, lalu diam-diam menghubungi untuk memperingatkan supaya tidak mengganggu hubungan sepupunya.


Dakota masih dalam posisi tegak tak terpengaruh ancaman sedikit pun. Tidak menunjukkan kalau ia bersalah. “Boleh aku masuk dan bertemu Nona Lindsay? Sepertinya harus ada yang diluruskan.”


“Oh, hi, Dakota.” Ternyata yang dicari sudah datang menyapa.


Dakota tersenyum dan sedikit menggangguk memberikan salam. “Aku ingin memberi tahu sesuatu padamu.”


“Mari masuk, kita mengobrol di dalam,” ajak Lindsay.


“Jadi, begini. Aku mendengar ada kesalahpahaman. Katanya kau sempat mengira jika aku pernah berciuman dengan Aloysius, benar?” Sebelum meluruskan, Dakota harus memastikan.


Lindsay melirik ke arah Adorabella. Padahal ia sudah mengatakan jika pemikirannya bisa saja salah.


Adorabella menatap Dakota. Ia sudah katakan supaya diam dan tidak perlu memberi tahu pada siapa pun.


Tapi, Dakota tidak mau hanya diam saat posisinya dicurigai. “Aku bekerja dengan suamimu. Jadi, sepertinya memang perlu diluruskan supaya pekerjaan ke depan juga enak, tidak merasa canggung, atau kau sebagai istri bosku menjadi kurang nyaman seandainya sering melihat aku.” Dia mengeluarkan ponsel. “Ku coba meminta rekaman CCTV di club malam yang sering didatangi oleh bosku.”


Dakota memberikan sebuah cuplikan berdurasi pendek. “Apakah itu wajahku?”


Lindsay menggeleng. Beda jauh, hanya model rambut saja yang mirip. Dia menarungkan jemari di bawah perut. Merasa bersalah karena sudah pernah mencurigai sekretaris bosnya. “Maaf, sempat menduga yang tidak-tidak tentangmu.”


“Tak masalah, lupakan saja. Aku hanya ingin bekerja dengan tenang tanpa dicurigai sedikit pun.” Mungkin dahulu Dakota sempat tertarik dengan bosnya, tapi sekarang dia sangat membenci karena hidup jadi banyak tekanan. “Ok, kedatanganku ke sini hanya untuk itu. Selamat atas pernikahan kalian.” Mengulurkan sebuah papperbag berisi hadiah. “Aku langsung pamit pulang.”


“Buru-buru sekali, minum dulu?” tawar Lindsay.


Ditolak oleh Dakota. “Tidak, terima kasih.” Di sana terlalu banyak anggota keluarga Dominique. Lebih baik pergi saja.


“Baiklah, hati-hati di jalan.” Lindsay mengantar tamunya keluar.


Dakota berjalan begitu saja melewati Brennus yang masih duduk di depan rumah. “Cepat sekali, mau pulang?”


“Ya.” Dakota menjawab seadanya, lalu menekan tombol pada kunci mobil.


“Baru juga sepuluh menit sampai. Memangnya tidak lelah berkendara dari Helsinki?” Brennus berdiri, mendekati sekretaris kembarannya. “Mau aku antarkan? Rencananya hari ini juga mau pulang.”


Tersenyum ramah, Dakota kemudian menggeleng. “Terima kasih, aku bisa sendiri.”