Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 79



Lindsay lebih banyak menanggapi dengan sebuah senyuman. Bingung juga bagaimana mau memberikan respon berupa suara. Takut salah ucap, lagi pula apa yang dikatakan oleh keluarga Dominique memang benar. Lebih baik uang dibuat beli barang yang ada bentuknya daripada digunakan membayar wanita di luar sana demi menuntaskan hasrat yang tidak pernah puas.


“Benarkah dia setia padaku saja?” gumam Lindsay. Bayang-bayang wanita dengan rambut cokelat bergelombang pun kembali hadir dalam ingatannya. Sosok yang membuatnya sedikit ragu.


Namun, sejauh ini tak pernah melihat Aloysius sibuk dengan ponsel. Seharusnya kalau memang memiliki hubungan spesial dengan orang lain, pastilah akan curi-curi waktu hanya untuk mengirimkan pesan.


“Dia itu persis daddynya.” Amartha menepuk pelan punggung Lindsay menggunakan telapak tangan. “Kalau sudah menentukan pilihan, maka selamanya tak akan pernah berubah. Walau ada sisi berbedanya juga. Sombong dan arogan.”


“Kalau dua sifat itu menurun dari kakeknya,” imbuh Diora. “Delavar juga sama begitu, hanya saja kadarnya tidak akut.”


Lindsay mengangguk paham. Haruskah ia menceritakan kalau pernah melihat Aloysius bersama wanita lain? Setidaknya ia akan tahu bagaimana penilaian keluarga besar pada sosok yang sedang dipertimbangkan.


Selama ini Lindsay merasa menyembunyikan dan tertekan pikirannya sendiri. Mungkin karena ia belum pernah cerita pada siapa pun tentang masalah itu. Alasan dibalik kepergiannya yang pertama kali.


“Em ... aku mau beri tahu sesuatu,” ucap Lindsay.


“Bisa ditunda sebentar, tidak? Kita foto-foto terlebih dahulu, mengabadikan momen,” pinta Adorabella. Ia menunjukkan layar ponsel yang sudah siap dengan kamera menyala.


“Mengabadikan momen, bilang saja ingin pamer ke followers,” sahut Alceena. Tapi, dia paling awal menempatkan diri di samping anaknya.


Meringis, Adorabella sembari menengok ke arah sekitar untuk mencari bantuan supaya ada yang memotret. Dia melambaikan tangan pada seorang pria yang sedang sibuk membersihkan sapi. “Hei ... sini!” teriaknya.


Pria itu menunjuk dirinya sendiri. Lalu dijawab anggukan. Dia pun mendekat ke kerumunan para wanita.


Melihat orang kepercayaan sedang menuju ke arahnya, Lindsay pun memperkenalkan sosok tersebut. “Namanya Andrew, dia sudah bekerja di peternakan ini jauh sebelum dikelola olehku. Jadi, bisa dibilang kalau dia jauh lebih memahami seluk beluk tempat ini.”


Andrew memberikan salam dengan anggukan kepala. “Maaf, tanganku kotor.” Dia menolak jabatan tangan Adorabella.


“Oh ... ok.”


Andrew pun menengok sebentar pada Lindsay. “Mereka siapa?” Pertanyaan yang diajukan dengan suara berbisik.


Kepala Andrew mengangguk. Ternyata Lindsay sudah sedekat itu pada keluarga sang rival. “Tadi memanggilku, ya? Ada yang perlu dibantu?”


“Kau bisa menggunakan ponsel, kan?” tanya Adorabella.


“Iya.”


“Cocok, tolong ambil foto kami yang paling bagus.” Wanita itu memberikan ponsel pada Andrew. “Ayo kita pose, saling berdekatan supaya tak seperti orang bermusuhan.”


Lindsay jarang foto-foto. Tapi, demi menghargai dan membuat hati tamunya senang, maka untuk kali ini mengikuti perintah. Dia berdiri paling tengah, lalu semua memegang perut buncitnya. Banyak sekali pose yang diambil. Namun, ekspresinya cukup satu, senyum. Tidak tahu gaya seperti apa yang bagus.


Melihat hasil jeperetannya luar biasa, Duo Bella yang senang foto pun minta lagi. Tapi, kali ini sendiri-sendiri. Jadi, menunggu dua wanita itu selesai terlebih dahulu, barulah Lindsay mengajak berpindah ke pabrik pengolahan susu.


“Andrew, terima kasih banyak bantuannya.” Adorabella menjabat tangan pria itu walau kotor tidak masalah.


Sementara Andrew hanya mengangguk dan menarik tangannya. Dia pamit permisi.


“Kita pindah ke tempat selanjutnya, ya?” ajak Lindsay. Semua setuju.


Di sini sekarang keenam wanita itu berada. Bangunan yang berdiri kokoh dengan teknologi otomatis di dalam. Sebelum masuk, Lindsay meminta supaya memakai alat pelindung diri dan mensterilisasi tubuh.


“Di sini semuanya harus bersih agar kualitas susu yang dihasilkan bagus,” jelas Lindsay.


“Pantas saja enak. Ternyata proses pembuatannya saja higienis sekali. Mau ke dalam dan melihat pun harus dibungkus seperti dokter yang mau membedah pasien,” seloroh Amabella.


Selesai menggunakan alat pelindung diri, mereka pun berjalan. Lindsay meminta salah satu penanggung jawab pabrik untuk menjelaskan proses pembuatan. Sebab, ia tidak begitu paham.


Teringat kalau tadi sempat menjeda Lindsay yang ingin mengatakan sesuatu, Adorabella pun bertanya. “Lin, maaf kalau aku sempat menyela. Sekarang bisa katakan kau mau bicara apa pada kami.”


Senyum lagi, rasanya Lindsay tidak pernah menanggapi dengan wajah sinis, masam, atau ekspresi menyebalkan lainnya. “Oh ... aku ingin bilang kalau pernah menyaksikan Aloysius berciuman dengan wanita lain. Apa menurut kalian dia masih dalam kategori pria setia? Sementara saat itu kami masih menjalin hubungan ... meski tanpa status jelas.”