Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 105



Lebih dari dua bulan Aloysius tinggal di rumah Lindsay. Dia tidak pernah mau pulang ke Helsinki. Merasa hidup di peternakan jauh lebih seru. Bisa menemani istri dan merawat sapi telah menjadi kebiasaan setiap hari.


Pekerjaan di kantor selalu diselesaikan melalui virtual. Sesekali ke Helsinki kalau memang urgent dan tidak bisa online. Kebanyakan sekretarisnya, Dakota yang direpotkan untuk datang ke peternakan hanya demi meminta tanda tangan. Aloysius juga tidak merasa bersalah akan hal itu, karena ia memberikan kompensasi kenaikan gaji sebanyak tiga kali lipat. Hitung-hitung ganti tenaga untuk perjalanan pulang pergi.


Jadi, keseharian Aloysius kalau pagi sampai siang pasti di kandang. Tidak memperbolehkan istri pergi ke sana. Lindsay selalu di rumah.


Jam makan siang adalah waktu kesukaan Aloysius. Dia kembali ke rumah untuk bertemu wanita yang amat dicintai. Rencananya hari ini mereka akan pergi ke Helsinki karena mempersiapkan persalinan Lindsay yang seharusnya tinggal menghitung hari. Semalam pun si calon Daddy sudah mempersiapkan kebutuhan yang harus dibawa, seperti baju ganti untuk bayi, pakaian hangat, selimut.


Rasanya tidak sabar menanti kelahiran buah hati. Walau Aloysius tidak berada di sisi Lindsay sejak awal kehamilan, tapi setidaknya di tiga bulan terakhir selalu ada di samping wanitanya.


Aloysius segera turun dari mobil. Membuka pintu dengan penuh semangat. “Sayang, aku pulang. Ayo kita pergi sekarang, selagi cuaca masih terang.” Dia berbicara sembari berjalan menuju kamar.


Sayup-sayup telinga Aloysius mendengar suara tangisan. Dia buru-buru membuka pintu untuk memastikan. Ternyata di kamar kosong, Lindsay tak ada di sana.


Semakin kencang suara tangis itu. “Seperti bayi,” gumam Aloysius.


Menajamkan pendengaran sembari kaki menelusuri anak tangga. Jika tak salah, berasal dari lantai dua. Semakin ke atas, Aloysius kian yakin kalau itu memang suara tangisan bayi.


“Di kamar mendiang mertuaku.” Aloysius merasa sumber berasal dari sana.


Memastikan langsung, dia menuju ke pintu yang selalu di tutup, tapi kini ada sedikit celah terbuka. Ketika membuka pintu, betapa terkejut melihat pemandangan di depan mata. Lindsay sudah menggendong seorang bayi dalam pelukan.


Tak sampai di situ. Kondisi ranjang sudah tak beraturan. Basah dan ada darah juga di sprei. Mata Aloysius melihat ada plasenta masih teronggok di sana.


Lindsay mengangguk, wanita itu masih terengah kelelahan. “Sudah tak tahan. Jadi, aku coba saja melahirkan sendiri dengan mengikuti arahan dokter.” Dia menunjuk layar ponsel yang disenderkan pada dinding. Sebelum melahirkan, ia melakukan video call dengan dokter yang sering memeriksa kandungannya supaya memberikan instruksi.


“Kenapa tidak menunggu aku pulang? Atau menghubungi siapalah supaya memintaku kembali.” Aloysius menitikan air mata saat mengecup kening istri. “Maaf, tidak membantu apa pun. Membiarkanmu kesakitan sendiri.”


“It’s ok, jangan merasa bersalah. Lagi pula, aku baik-baik saja dan anak kita lahir secara sehat.” Lindsay memberikan bayi perempuan itu agar digendong suami.


Tidak tahan rasanya untuk tak menangis. Aloysius merasa kalau hidupnya terlalu mudah. Memiliki istri yang tidak merepotkan, bahkan melahirkan sendiri, anak yang sekarang tersenyum setelah berada digendongannya. Betapa beruntung hidupnya. Padahal ia adalah sosok pria brengsek dengan segala tingkah laku buruk.


Selain memberikan kecupan di bibir Lindsay, Aloysius juga mendaratkan bibir di wajah putrinya yang masih basah. “Baby Bonsai cantik, rambutnya pirang seperti Mommy, ya?”


“Panggil aku Mother, aku tidak mau dipanggil Mommy,” pinta Lindsay. Dia masih kelelahan dan bersuara cukup lirih.


Mengangguk, setelah melihat perjuangan istrinya melawan segala kesusahan sendiri, rasanya Aloysius terlalu hina jika masih mau menang terus. “Kenapa semua mirip denganmu, ya? Rambut, mata, senyum, hidung. Jangan-jangan aku hanya menumpang sebagai penyumbang bibit saja.”


Lindsay mengusap lengan kekar suaminya. “Baru lahir, nanti kalau sudah besar juga pasti wajahnya akan berubah lagi.”


Aloysius mengembalikan putrinya yang belum diberi nama itu supaya dipeluk oleh Lindsay. “Aku ambilkan selimut dulu. Terus ku bersihkan plasentanya.”


Lindsay mengangguk. “Nanti kalau ada orang datang, tolong bukakan pintu, ya. Dokter yang tadi video call denganku katanya sedang perjalanan ke sini.”