
Si kembar tiga, Aloysius, Brennus, dan Clemmons keluar mansion dengan tujuan berbeda. Dua mau ke rumah sakit, sementara yang satu sudah pasti menuju ... mana? Dia tidak tahu lokasi pernikahan pula. Terlalu memikirkan cara menggagalkan, justru lupa untuk bertanya.
Akhirnya Aloysius mengetuk kaca mobil kembarannya. Perlahan kaca itu pun turun. “Kenapa?”
“Daddy dan Lindsay menikah di mana?” tanya Aloysius. Untung mereka belum tancap gas.
“Entah, aku tidak peduli, dan tak bertanya juga pada mereka,” jawab Brennus seraya bahu mengedik.
“Cle?” Pandangan Aloysius tertuju pada pria yang duduk manis dan bermain ponsel. Sudah pasti Clemmons melihat video di tiktok, bocah itu kerjaannya mencari hiburan terus.
“Kau mengharapkan aku tahu jawabannya?”
“Tentu saja.”
“Tapi, maaf. Ternyata kita bertiga sama-sama tidak tahu.”
Brennus yang ada di dekat Aloysius pun menepuk pundak kembarannya. “Kami pergi dulu. Sudah, tak perlu pikirkan Daddy. Biarkan dia melakukan sesuka hati. Yang penting, kita harus menjaga perasaan Mommy saja.”
Aloysius melangkah ke belakang saat mobil Brennus hendak melaju. Dia juga ingin melakukan seperti dua kembarannya yang tutup mata dan telinga dengan keputusan Daddy, lalu memilih untuk merawat dan menjaga Mommy dengan sepenuh hati. Tapi, semua terasa sulit karena itu adalah Lindsay. Seandainya wanita lain? Entahlah, mungkin tetap tidak terima.
Aloysius melihat kendaraan roda empat berwarna hitam mengkilap itu mulai menjauh. Walau tatapannya lurus dan seperti memandang sesuatu, tapi sebenarnya pikiran sedang berkelana. Kira-kira di mana?
Tidak tahu, tak ada jawaban. Aloysius pun masuk ke dalam mobilnya. Dia mengemudi saja.
“Oh, coba ke Badan Kependudukan. Siapa tahu hanya meresmikan di sana,” putus Aloysius.
Sepanjang perjalanan, pria itu masih berpikir lagi. Banyak sekali kerumitan di dalam otaknya. “Kenapa keluarga besar diam saja? Apa mereka semua sudah tahu kalau Daddy mau menikah lagi?”
Tertahan oleh rambu lalu lintas yang menunjukkan warna merah, Aloysius menghubungi kakeknya untuk bertanya. Siapa tahu datang ke tempat pernikahan daddynya.
“Grandpa ada di pernikahan daddyku?”
“Ha? Kau itu bicara apa? Siapa yang menikah lagi?”
“Daddyku, Delevar Doris Dominique. Anak kembarmu yang nomor tiga.”
“Heh! Kata siapa dia menikah?”
“Grandpa belum tahu? Hari ini dia menikah. Tapi, aku kesiangan dan ketinggalan.”
“Wah ... berani-beraninya dia beristri dua disaat menantuku di rumah sakit!” Suara Davis terdengar marah dan melengking tinggi. “Kau di mana?”
“Mencari Daddy.”
“Kabari jika ketemu. Katakan kalau aku mau bicara dengannya. Anak itu harus diberi pelajaran karena seenaknya dan tak izin dulu padaku.”
Aloysius mengerutkan kening. Dia pikir semua keluarga besar sudah tahu. “Aku mau ke Badan Kependudukan, mengecek di sana.”
“Oke, kita bertemu di sana.”
Panggilan pun terputus, Aloysius kembali melajukan kendaraan ke tempat pertama. Dia berharap itu adalah lokasi yang benar agar tidak pusing mencari ke seluruh penjuru Helsinki.
Pertama kali sampai, Aloysius melihat area sekitar. Mencari mobil daddynya. Tidak ada kendaraan yang ia kenal. Tapi, tetap harus dipastikan ke dalam.
Aloysius menuju tempat informasi. Dia bertanya jadwal pernikahan yang dilangsungkan hari ini. “Apakah ada atas nama Delavar Doris Dominique dan Lindsay Novak?”
Petugas meminta supaya menunggu sebentar karena hendak dicek pada data yang ada.