Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 71



Davis dan anggota keluarganya yang mau ikut ke peternakan pun baru selesai siap-siap ketika waktu menunjukkan pukul enam sore. Mereka saling tatap satu sama lain seolah sedang menimbang sesuatu.


“Lokasinya jauh, kan?” tanya Adorabella.


“Iya, enam jam,” jawab Davis.


“Kalau kita berangkat sekarang, sampai di sana nanti tengah malam. Bukankah itu mengganggu istirahat orang?” Amabella menimpali setelah dihitung perkiraannya.


“Aloysius itu bukan orang, tumbuhan dia,” seloroh Dariush. “Sudah berangkat saja, untuk apa memikirkan dia terganggu atau tidak.”


“Tapi, kasian Lindsay yang sedang hamil,” sanggah Diora. “Kalau kita datang, pasti dia juga terganggu, tidurnya jadi berkurang, sementara ada janin yang perlu dijaga.”


“Jadi, enaknya bagaimana?”


Dariush, Alceena, Adorabella, dan Amabella menatap pada dua orang yang paling tua diantara mereka. Sementara mata Davis ke arah sang istri tercinta. “Keputusan ada di Diora.”


“Besok pagi, sekitar pukul enam kita berangkat dari sini. Jadi, sampai sana pas siang,” putus Diora.


“Ok, masih ada waktu. Aku hubungi Delavar dulu, siapa tahu dia mau ikut juga,” ucap Dariush. Mengeluarkan ponsel, menghidupkan layar, mencari kontak saudaranya itu, lalu menempelkan benda pipih tersebut ke telinga.


“Del?” sapa Dariush.


“Hm?”


“Besok pagi aku mau ke peternakannya Lindsay.”


“Untuk?”


“Mengomeli anakmu yang sedang dimabuk cinta. Dia berulah di perusahaan.”


“Oh ... aku juga mau ke sana besok pagi. Rencananya ingin tadi, tapi baru selesai belanja untuk cucuku. Jadi, dirubah waktunya, kasian istriku kalau kelelahan, belum istirahat.”


“Baguslah, kalau begitu kita berangkat sama-sama saja.”


“Ok.”


Dariush kembali fokus pada keluarganya. “Aku masukkan barang bawaan ke bagasi mobil dulu kalau begitu, supaya besok kita langsung berangkat tanpa persiapan apa pun.”


“Sip.” Davis mengangkat kedua jempolnya. “Tunjukkan kalau kau kuat dan berotot.” Ia menepuk lengan sang anak yang terasa keras. “Angkat semua.”


Memang jail itu sudah diturunkan dari nenek moyang. Si paling tua di keluarga Dominique juga iseng minta ampun, bahkan pada anak sendiri. Davis mengajak istri, menantu, dan dua cucu perempuannya untuk kembali ke kamar masing-masing, membiarkan Dariush memindahkan tas berjumlah enam seorang diri.


...........


Kalau keluarganya Aloysius sedang tidur untuk mengisi energi supaya perjalanan besok tidak mengantuk dan bisa bergantian menyetir, berbeda dengan si pria yang dijulukui bonsai oleh rivalnya. Bos pembuat onar itu tidak bisa terlelap.


Aloysius sudah mencoba menutup kelopak mata sejak dua jam yang lalu. Tapi, tidak berhasil menuju ke alam mimpi. Posisi tidak nyaman terus. Balik kanan atau ke kiri pun sama saja, tak mendapatkan posisi enak.


Badan Aloysius terasa remuk semua, mungkin akibat ditendang oleh sapi. Badannya tadi terpental dan membentur lantai dengan keras. Bisa jadi seluruh saraf dan otot menjadi kaget dan menegang akibat insiden itu.


“Pijitan memang paling enak,” gumam Aloysius. Dia merasa frustasi dan lelah sendiri karena tak kunjung tidur.


Memutuskan untuk keluar kamar, Aloysius ingin minta bantuan Lindsay. Toh badan remuk juga akibat sapi wanita itu. Harus mau tanggung jawab.


Memang sengaja dikunci karena meminimalisir supaya tidak ada orang yang menyusup ke dalam. Itu kebiasaan karena ia tinggal seorang diri. Bukan pertama kali ini atau karena ada Aloysius.


“Belum,” jawab Lindsay sedikit berteriak agar terdengar. Dia lalu mengurungkan niat untuk terlelap, menyempatkan membukakan pintu. “Kenapa?”


“Aku mau menuntut tanggung jawab,” ucap Aloysius. Mendorong tubuh sang wanita agar masuk lagi dan ia menendang kayu bercat putih hingga tertutup rapat.


Lindsay mengernyit tak paham. “Memangnya aku salah apa?”


“Sapimu yang salah.” Main tidur saja di ranjang Lindsay, tanpa permisi pula. “Tolong pijat badanku, rasanya mau remuk, aku jadi tidak bisa tidur.” Posisi tubuhnya telah tengkurap.


“Ada kursi pijat di luar, kau boleh memakainya,” beri tahu Lindsay. Dia masih berdiri, dengan jarak satu meter dari ranjang.


“Tidak enak memakai alat. Aku maunya pijat plus-plus darimu.” Paling bisa kalau modus, lancar sekali mulut Aloysius dalam hal begitu.


“Aku tak pandai memijat,” elak Lindsay. Tapi memang jujur begitu adanya.


“Tidak masalah, lakukan saja sebisamu.” Aloysius sampai menatap dengan sorot mengiba. “Please ...,” mohonnya.


“Baiklah.” Akhirnya Lindsay mengalah, dia naik ke atas ranjang di bagian yang masih luas. “Kalau pegalnya tak hilang juga, jangan salahkan aku, ya?”


“Iya, bawel.” Aloysius memejamkan mata ketika tangan lembut Lindsay membalurkan minyak. Kali ini ia tidak ada niatan iseng dengan mengeluarkan desah lagi. Tubuhnya sungguh tidak nyaman. Jadi, memilih diam dan menikmati tekanan di pundak yang tidak begitu terasa kuat, tapi anehnya tetap nyaman.


...........


“Hari ini kita tidak perlu ke kandang mengurus sapi. Istirahat dulu sampai kondisimu membaik.” Lindsay membawakan secangkir kopi panas untuk Aloysius. Dia merasa kasian pada pria itu, bangun pagi terlihat kelelahan dan kusut. Mungkin belum terbiasa dengan pekerjaan menggunakan tenaga, biasanya hanya otak terus yang dipakai mencari uang.


“Sungguh?” tanya Aloysius seakan menanti validasi untuk kedua kali.


“Iya, kita di rumah saja.” Lindsay juga ikut duduk di sofa, samping sang pria. “Menonton netflix, mau? Sesekali mencari hiburan agar tidak sapi terus yang dilihat.”


“Boleh.” Aloysius menyeruput kopi yang awalnya panas kini berubah hangat. “Hm ... enak. Ku rasa kalau hidup denganmu, tidak perlu bingung perut akan puas atau tidak.”


Mereka pun dari pagi sampai siang hanya bersantai di depan televisi. Dari posisi duduk, Lindsay bersandar di bahu si pria, hingga kini telah berubah keduanya tiduran pada sofa dan Aloysius memeluk wanitanya dari belakang.


“Aku bosan, kita nonton yang lain saja, ya?” Lindsay memegang remot, siap mengganti.


“Terserah, pilihlah apa yang kau suka.” Sejak tadi pun Aloysius tidak fokus pada apa yang ditayangkan oleh layar. Dia cukup menikmati momen, waktu berdua tanpa ada siapapun mengganggu.


Lindsay bukan mencari daftar film yang bagus. Namun, dia memilih untuk menanyakan rekaman CCTV yang kemarin dilihat. Jadi, televisi besar itu isinya sapi dan ada Aloysius di sana.


“Ini lebih menghibur, sepertinya anak kita senang karena menendang jika aku menonton daddynya sedang dinistakan oleh sapi.” Lindsay terkekeh, sedikit mendongak agar bisa melihat wajah sang pria. “Tak apa, kan? Kau keberatan kalau video ini akan sering ku tonton?”


Menggeleng, lagi pula hanya Lindsay yang menyukai hal-hal konyol tentangnya di peternakan. “Silahkan, asal kau dan anak kita senang.” Aloysius mengecup puncak kepala si rambut pirang yang wangi shampoo.


Berulang kali dua video diputar hingga Aloysius bosan. Pasti Lindsay juga sama. Buktinya sekarang wanita itu tidur.


Aloysius terdiam sebentar untuk mendengar sesuatu. Sepertinya tadi ada suara pintu diketuk. Ternyata memang benar. Pelan dan hati-hati menarik tangan yang digunakan untuk Lindsay bantalan. Dia juga turun dari sofa, nyaris tidak menimbulkan suara agar tidur si ibu hamil tetap lelap.


Seperti rumah sendiri, Aloysius membukakan pintu. Dua bola mata membulat saat ada keluarganya berdiri di depan persis. Ia lalu menengok ke belakang, teringat kalau televisi masih memutarkan video dirinya yang di kandang sapi.


Jangan sampai mereka melihat. Bisa-bisa menjadi bahan tertawaan. Gumam Aloysius sembari mencari cara agar bisa mematikan televisi sebelum keduluan keluarganya masuk.