Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 50



Aloysius masih menatap kepergian mobil itu dengan wajah masam. Dia tidak mau kalah dengan si pria tengik. Bagaimanapun caranya, Lindsay tetap harus menjadi miliknya.


“Cih! Hanya membelikan dua tas belanjaan? Aku akan bawa satu truk seisi supermarket ini,” ucap Aloysius dengan sangat sombong.


Pria itu tak langsung menyusul atau membuntuti Lindsay. Dia sudah tahu di mana lokasi peternakan yang harus dituju. Jadi, masuk ke dalam supermarket.


Aloysius tak perlu memilih mana yang perlu dibeli. Ia menemui salah satu karyawan supermarket itu.


“Ada yang bisa dibantu, Tuan?”


“Aku mau beli semua barang yang ada di sini, dan antarkan ke peternakan Enjoy Life.”


Karyawan itu mengernyitkan kening seolah permintaan yang baru saja didengar hanyalah gurauan belaka. “Yakin, Tuan?”


“Banyak tanya, langsung saja lakukan sesuai perintahku! Aku borong habis semuanya!” Aloysius mengeluarkan dompet, kemudian menarik kartu berwarna hitam. “Kau meragukan apakah aku mampu membayar atau tidak, kan?” Dia lalu memberikan black card tersebut. “Gesek pakai itu, hitung semua totalnya.”


Karyawan itu menerima kartu kredit. “Bagaimana kalau aku ambilkan barang yang ada di gudang saja? Stok masih baru datang,” tawarnya kemudian. Bagi karyawan supermarket, barang di display kosong semua merupakan petaka karena mereka harus mengisi ulang dan menata dari awal. Jadi, lebih baik menawarkan alternatif lain yang lebih mudah.


“Terserah, yang penting semua produk masuk dan aku mau dikirim menggunakan satu truk.”


“Ok, beres, Tuan. Itu bisa diatur, asal jangan mengosongkan semua barang yang ada di display.”


“Ya, kau cepat lakukan pekerjaanmu. Aku mau satu jam lagi harus siap semuanya. Truk berisi seluruh barang. Aku ingin sampai di sana bersamaan dengan belanjaannya.”


“Baik, Anda bisa tunggu sebentar, saya akan kerahkan karyawan yang lain supaya segera membantu.”


“Sudah selesai?” tanya Aloysius pada karyawan yang tadi.


“Sudah, Tuan. Tinggal proses pembayaran saja, butuh pin.” Karyawan itu menjulurkan mesin EDC.


Jemari Aloysius segera menekan enam angka. Menerima kembali black cardnya, dan dimasukkan ke dalam dompet.


“Ini struknya, Tuan.” Karyawan itu memberikan satu kertas yang panjang sekali.


Namun, ditolak oleh Aloysius. “Tidak perlu, untuk apa aku membawa itu? Nanti dikira minta ganti kalau ku berikan struk saat memberikan barang belanjaan pada Lindsay.”


“Baik, untuk truknya sudah siap berangkat.”


“Ok, minta supirnya mengikuti di belakang mobilku.” Aloysius pun segera keluar lagi dan kembali masuk ke kendaraannya.


Pria itu melajukan dengan kecepatan tinggi. Rasanya tidak sabar mau memberikan kejutan pada Lindsay.


“Pria tengik, kau bukan tandinganku,” ucap Aloysius dengan bibir menyeringai sinis. Dia sudah membayangkan kalau pria tadi akan minder melihat betapa loyal dirinya yang membawakan satu truk besar belanjaan.


Mobil Aloysius mulai memasuki jalanan yang tidak ada satupun pengendara lewat. Kanan dan kiri penuh hamparan rumput. “Ku rasa sudah masuk ke wilayah peternakannya.”


Sekarang hanya butuh mencari di mana rumah Lindsay. Ternyata ia melihat ada sebuah bangunan dua lantai yang nampak elegan berwarna putih. “Pasti itu.”


Dengan penuh keyakinan, Aloysius pun memarkirkan mobil di depan rumah itu. Dia langsung turun dan mengetuk pintu.