
Bagaimana bisa melupakan secara mudah kalau setiap apa pun yang dilakukan oleh Lindsay selalu membuat Aloysius terpukau. Selain berbeda profesi dan kegemaran dari kebanyakan wanita pada umumnya, Lindsay adalah sosok yang bisa menyesuaikan situasi. Buktinya, sekarang terlihat baik-baik saja walau baru beberapa saat lalu bertengkar dengannya. Hanya satu hal yang tidak ia sukai dari sosok itu, keputusan menikahi orang tuanya dan kepergian satu tahun silam.
Rupanya proses move on sangatlah membutuhkan waktu lama. Hitungan bulan pun tak cukup. Bahkan sudah menanamkan kebencian pada orang yang bersangkutan juga tidak berhasil.
Obrolan pun terus mengalir. Kini keempat orang itu terlihat saling menimpali pembicaraan. Namun, tangan Aloysius sembari memegang perut yang kian menyiksanya, menekan kuat supaya rasa sakit itu bisa ditahan.
Sampai lupa sejak kapan Aloysius merasakan tusukan yang lebih cocok bagai diremas oleh tangan berjarum. Kondisi itu terjadi bukan sekali ini, sudah sering, tapi ia abaikan. Hanya saja sekarang lebih dahsyat dan rasanya tidak tertahankan lagi.
Jangan lemah, Alo! Ini di depan klien, tetaplah kuat seperti elang. Berusaha menyemangati diri sendiri. Lagi pula dia lelaki dan harga diri juga jika menunjukkan kesakitan di depan orang lain.
Sepandai-pandainya menutupi sesuatu, walau wajah Aloysius menunjukkan sisi antusias berbincang di sana, tapi tatapan penuh selidik dari mata Lindsay tidak pernah bisa lepas dari gerak gerik pria itu yang ada di bawah meja. Lindsay mengamati bagaimana ada tangan kekar tengah memukul perut sendiri.
Mungkin kalau berdua memang ditolak ajakan untuk ke rumah sakit. Tapi, siapa tahu jika di depan orang lain bisa merubah pikiran.
Lindsay memainkan peran sebagai pasangan. Walau sebenarnya memang sangat ingin menjadi pendamping sungguhan. Hanya saja sadar bahwa pria yang diidamkan dan didambakan tidak pernah berniat serius. Jika mengingat hal itu, rasanya ingin menangis karena semua yang dimiliki sudah pernah diserahkan pada Aloysius. Namun, harapannya tidak sejalan dengan kenyataan.
Melihat orang yang masih memenuhi hatinya tengah menahan sakit, tentu hal itu membuat Lindsay tidak tega. Dia mengusap lengan Aloysius, lalu mengajukan pertanyaan. “Perutmu sakit? Kita periksa, ya?” tawarnya.
Mr dan Mrs. Grey menghentikan perbincangan seputar rancangan proyek baru perusahaan mereka. Sekarang memang tengah mencari vendor untuk kerjasama. Salah satunya adalah perusahaan Aloysius yang rencananya akan diterima kalau pertemuan malam ini berjalan baik dan lancar.
“Kalau sakit kita akhiri saja sampai di sini. Bisa dilanjutkan kapan-kapan. Lagi pula aku sangat senang mengobrol dengan Lindsay, kekasihmu. Ku rasa kami sangat cocok menjadi teman berbincang,” ucap Mrs. Grey.
“Tidak, aku baik-baik saja,” elak Aloysius. Matanya kemudian melirik ke arah wanita di sampingnya. “Bisa kita bicara berdua?” pintanya menggunakan suara rendah.
Mengangguk, Lindsay pun melemparkan sebuah senyuman pada sepasang suami istri itu. “Boleh aku permisi sebentar? Mengajak Aloysius juga? Sepertinya dia sangat merindukan sesuatu dariku.” Nadanya bagaikan orang berkelakar, sehingga terlihat seperti sebuah gurauan.
“Oh, tentu, silahkan.”
Aloysius pun berdiri. Perubahan posisi dari duduk menjadi tegak membuatnya terdiam sesaat. Dunia yang ia lihat bagaikan diputar tiga ratus enam puluh derajat. Itu cukup membuatnya pusing berkali-kali lipat. Dia yakin ada seseorang yang mengajak bicara, entah memanggil atau sebagainya, tidak terlalu jelas karena telinga tengah berdenging. Demi apa pun, ia tidak ingin tumbang di tempat umum, apa lagi di depan kliennya. Namun, apalah boleh buat, tubuh yang selama ini sudah berusaha menahan sakit, ternyata tidak mampu lagi berbohong. Tak jadi beranjak pergi dari sana, Aloysius justru terkulai ketika dunianya menjadi gelap.