
Bukan sekali ini saja Lindsay merasakan sakit hati oleh kelakuan Aloysius. Satu tahun silam juga pernah. Tapi, hubungan tanpa status itu tak bisa membuatnya memiliki hak untuk marah, hanya bisa merasakan kecewa dan dipendam terus, hingga pada akhirnya tidak tahan dan menghilang. Barulah saat semua terasa lebih nyaman ia muncul, tapi justru dihadapkan oleh sebuah kejadian yang tidak terduga sampai kini ada hubungan rumit dengan keluarga mantan partner—cocoknya disebut apa? Ranjang? Kontak darurat? Whatever named it, dia tidak pernah terpikirkan akan berada dalam posisi begitu.
Jika tak memiliki hati, Lindsay sungguh meninggalkan Aloysius sendirian tanpa ada yang menjaga maupun merawat. Tapi, sayangnya, dia memiliki perasaan tak tega membiarkan pria yang sampai detik ini masih dicintai melewati masa sakit sendirian.
“Setidaknya biarkan aku tetap di sini sampai ada seseorang yang menggantikan untuk menjaga, maka aku bisa pergi dengan tenang,” eyel Lindsay. Dia menarik meja yang di atasnya terdapat makanan. “Sekarang aku suapi, ya?”
Meski wajah Aloysius mengeras dan menatap tajam seolah tidak suka, namun Lindsay berusaha mengabaikan. Seburuk-buruknya pria itu, tetaplah orang yang ia cintai, pernah dibuat bahagia juga. Jadi, berusaha menebalkan rasa supaya kebal oleh rasa sakit hati atas segala perilaku tak mengenakkan. Niatnya baik, bahkan tidak mengharapkan balasan apa pun.
Lindsay menyendokkan cream soup dengan kuah kental. “Ayo buka mulut,” pintanya saat sendok berada di depan mulut Aloysius.
“Kau itu tuli atau tidak paham bahasa manusia?!” sentak Aloysius seraya menepis tangan Lindsay hingga sendok pun jatuh ke lantai dan makanan yang hendak disuapkan jadi berceceran juga.
Meski mendapat perlakuan tak baik, Lindsay tetap tersenyum. “Hubungi sekretarismu atau keluarga yang lain jika tidak mau ditunggu oleh aku. Kalau salah satu dari mereka datang, barulah meninggalkanmu.”
Aloysius diam, menengok ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari ponselnya. Ada di atas meja, ia hendak turun untuk mengambil, tapi Lindsay sudah terlebih dahulu membantu.
Merebut tanpa mengucapkan terima kasih, Aloysius kemudian mengecek ponsel. Membaca bahwa mommynya sudah mulai stabil sejak beberapa hari lalu dan telah dipindah ke ruang rawat lagi. Lega rasanya, barulah mengirimkan pesan ke grup keluarga, dan memberikan perintah pada sekretaris supaya ada yang datang.
“Sudah, mereka akan ke sini. Jadi, kau bisa pergi sekarang!” usir Aloysius untuk kesekian kali.
“Iya, makan dulu tapi.” Lindsay tetap berusaha mau menyuapi.
Namun, tangan Aloysius mencekal pergelangan wanita itu, menarik ke arahnya hingga tubuh Lindsay condong padanya. Jarak wajah kini tidak terlalu jauh, pancaran mata tidak suka jelas ada di sorot Aloysius.
“Dengar, Lindsay! Jika kau masih seorang manusia, seharusnya sadar diri dan posisi, paham?! Mommyku sudah mulai membaik. Jadi, ku harap kau masih memiliki hati untuk tidak muncul di hadapannya maupun keluargaku! Kehadiranmu sebagai orang ketiga dalam rumah tangga orang tuaku ... sangat mengganggu!” Suara peringatan Aloysius rendah dan penuh tekanan. Ia melepaskan cekalan tangan bersamaan dengan mendorong tubuh wanita itu.
Lindsay sampai terhuyung dan reflek memegang perut, untung dia tidak sampai terjatuh. Meski begitu, bibir tetap tersenyum sembari tangan mengusap perut.
“Enyah kau dari kehidupan ini, Lindsay! Kalau perlu tidak perlu muncul lagi! Biarkan Mommy dan Daddy hidup berdampingan selamanya, tanpa ada orang ketiga!” Rasa patah hati membutakan segalanya, usaha melupakan dengan cara membenci juga membuatnya tidak mengontrol setiap kalimat yang dikeluarkan.