Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 37



“Karena aku tidak suka siapa pun memiliki Lindsay, paham?!” tegas Aloysius. Selalu ada ganjalan di dada ketika membayangkan wanita itu menjadi hak orang lain, entah kenapa rasanya sesak. Apa lagi sekarang ia mengetahui kalau sedang hamil, anak daddynya. Bertambah pedih sekali jantungnya yang kini tengah naik turun akibat menahan amarah. “Bisa-bisanya kau mau memiliki anak lagi disaat usiamu yang tak muda.”


Delavar menghela napas kasar, demi apa pun rasanya ingin menoyor atau menggeplak kepala anaknya. “Itu bukan anakku, kami tidak jadi menikah dan belum pernah sedikit pun menyentuhnya,” ungkapnya.


“Halah ... omong kosong!” Aloysius tidak langsung percaya begitu saja. “Aku datang ke Badan Kependudukan dan menanyakan apakah ada jadwal pernikahan atas nama kalian atau tidak, dan jawabannya adalah ada. Mau mengelak apa lagi?”


“Terserah kau mau percaya atau tidak, yang pasti Lindsay bukan mengandung anakku, paham?!” Kini suara Delavar berubah tegas. Diperlakukan secara sabar ternyata tidak membuat putranya bisa berpikir jernih, justru kian menjadi.


“Oh ... jadi, menurutmu, dia hamil dengan pria lain, begitu? Selingkuh darimu makanya kau selalu menghabiskan waktu di sini karena istri mudamu tidak sesuai harapan?”


Delavar sudah tak bisa menahan diri, dia lepaskan sandal yang menjadi alas kaki. Memegang dengan erat, lalu lemparkan benda itu ke anaknya yang luar biasa kalau sedang mengeyel. “Kalau bodoh jangan dipelihara, jadinya tolol maksimal seperti dirimu!” Saking geramnya, keluarlah kalimat yang tak kalah pedas dari Aloysius ketika mengatai dirinya.


“Mau duel di sini? Kalau iya, kita keluar, selesaikan secara jantan.” Aloysius justru menantang, tidak terima kepalanya dilempar sandal.


“Aduh ... sudah, jangan berkelahi, Mommy sedang sakit begini malah diberi tontonan dua pria kesayanganku bertengkar hanya karena salah paham,” lerai Amartha. Mengusap lengan putranya supaya berhenti emosi.


“Sorry, anak itu berhasil membuatku yang jarang marah jadi ingin sekali memberikan pelajaran padanya,” ucap Delavar.


“Alo minta maaf sama Daddy, kau tidak boleh kurang ajar begitu, Mommy tidak pernah mengajari hal buruk padamu, bukan? Jangan membuatku sedih, setelah siuman justru menyaksikan ayah dan anak tidak akur.” Amartha menepuk pelan penuh kasih sayang di lengan putranya.


Aloysius masih bungkam. Bibirnya enggan mengatakan maaf karena merasa kalau daddynya juga salah.


“Hm ... aku maafkan.”


Amartha menepuk jidat dengan lemah. “Kau juga harus mengatakan maaf, Alo. Lunakkan keras hatimu itu. Hanya karena salah paham dan satu wanita, membuat hubungan keluarga kita berantakan.”


Aloysius menghirup udara terlebih dahulu, baru dihembuskan pelan. “Maafkan aku, Dad,” ucapnya pelan. Kalau bukan karena mommynya, pasti tidak pernah ada kalimat itu keluar dari bibir. “Tapi aku tak langsung percaya begitu saja dengan ucapanmu.”


“Silahkan, kau cek saja ke Badan Kependudukan, apakah kami melangsungkan pernikahan atau tidak.”


Aloysius pun mengeluarkan ponsel. Dia menghubungi sekretaris supaya mengecekkan ke sana.


“Dakota, kau di mana?” tanya Aloysius.


“Baru sampai kantor.”


“Ke Badan Kependudukan, sekarang juga! Cek apakah benar Delavar Doris Dominique dan Lindsay Novak tidak melangsungkan pernikahan?”


“Baik.”