
Akhirnya pada hari itu Aloysius meminta bantuan orang yang lewat di jalan sekitar tempatnya kehabisan daya baterai mobil. Jadi, kendaraannya diderek sampai ia mendapatkan pom bensin yang menyediakan charge khusus kendaraan listrik.
Benar ramah lingkungan. Tapi Aloysius merasa ribet juga kalau terjadi hal seperti itu lagi, disaat genting dan mendesak pula. Padahal itu adalah kesalahannya karena tidak cek terlebih dahulu sebelum dipakai, tak memerhatikan persentase daya juga. Memang dasar Aloysius, selalu menyalahkan, mana mau dia disalahkan atas ketledorannya.
Aloysius membiarkan mobil terisi sampai sembilan puluh persen. Dia tidak sabar kalau harus menunggu lebih lama. Akhirnya tancap gas menuju ke kantor tim yang menaungi Lindsay balapan.
Mencari siapa pun orang yang kenal Lindsay, Aloysius diminta untuk menunggu sebentar karena sedang dipanggilkan seseorang.
“Cari Lindsay, ya?” tanya pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan, ia langsung duduk di hadapan Aloysius.
“Ya, apa kau tahu di mana dia berada?”
Pria itu menggeleng. “Dia sudah mengundurkan diri, katanya mau pensiun dini dari balapan. Setelah itu menghilang, entah ke mana, tidak pernah aku mendengar kabarnya lagi.”
“Kapan terakhir kali Lindsay datang ke sini?”
“Mungkin sebulan lalu, saat dia mengundurkan diri.”
Aloysius mengeluarkan karbondioksida dengan penuh paksaan. Itu lambang kefrustasiannya. Kepala terasa berat sekali, sampai ia topang kening yang tengah menunduk menggunakan telapak kanan.
“Apa kau baik-baik saja? Lindsay membuat masalah denganmu?”
“Dia pergi membawa kabur anakku yang sedang dikandungan,” ucap Aloysius. Rasanya tak ada tenaga untuk menutupi perihal itu. “Tolong, jika Lindsay ada kabar atau datang ke sini, langsung hubungi aku.”
“Ada kartu nama?”
Aloysius berdecak, dia tak membawa kartu nama pula. “Datang ke kantorku, kau tahu Triple D Manufact?”
“Nah, bilang saja mau mencari Aloysius, memberi tahu tentang Lindsay.”
“Ok, jika pembalap kesayanganku ada kabar, akan ku beri tahu.”
Mata Aloysius mendelik ketika kata kesayangan keluar dari bibir pria lain. “Lindsay milikku, kau jangan pernah berpikir mau mengambilnya!” Mengancam, hanya itu yang bisa dilakukan. “Dilarang menyebut dia kesayanganmu, paham?!”
Pria itu tersenyum sebagai tanggapan ramah. “Oh, baik.” Daripada ribut dengan orang yang terlihat sangat kacau, lebih baik mengalah.
Selepas dari sana, Aloysius pun kembali melakukan pencarian. Dia sampai mengecek apartemen yang dahulu sering dijadikan tempatnya bercinta bersama Lindsay.
“Harapanku terlalu tinggi, ternyata dia tak ada di sini juga,” keluh Aloysius.
Tubuhnya amat lelah, saat melihat jam, ternyata sudah pukul dua dini hari. Telapaknya mengusap kasar wajah. “Ke mana kau sembunyi? Apakah harus ku cari sampai ke lubang semut?”
Perlahan Aloysius merebahkan punggung ke sofa apartemennya. Seharian mencari Lindsay sampai membuat dia lupa kalau belum makan dan baru juga keluar rumah sakit. Lagi-lagi perut tak pernah merasa lapar ketika badan, pikiran, dan hati bekerja ekstra.
“Aku tidak boleh sakit lagi, nanti semakin lama menemukan Lindsay dan anakku.” Aloysius awalnya ingin langsung tidur, tapi diurungkan. Memilih untuk ke dapur, siapa tahu masih ada sisa mie instan di sana.
Mungkin keberuntungan perutnya, ada satu. Sebelum dibuat, Aloysius melihat tanggal kadaluarsa. “Sial! Sudah basi.” Dia lempar ke tempat sampah. “Sudahlah, istirahat saja.”
Aloysius melangkah menuju kamar. Meski jarang ditempati, tapi rutin tiap minggu ada orang yang ditugaskan untuk bersih-bersih agar tak ada debu.
Entah kesalahan atau tidak Aloysius memilih ke apartemen penuh kenangan. Justru sekarang meringkuk di atas ranjang, mengusap sisi samping yang kosong. “Kau di mana Lindsay? Aku ingin melihatmu dan anak kita.”