
Aloysius pun terus menatap daddynya, waspada kalau pria itu akan menghubungi seseorang untuk manipulasi data di Badan Kependudukan. Namun, sepanjang dua puluh menit ia mengamati dan menanti informasi dari sekretarisnya, tidak ada pergerakan sedikit pun.
Barulah getaran telepon membuat Aloysius mengangkat ponsel. “Bagaimana?”
“Hanya mendaftarkan, tapi saat jadwal pernikahan, mereka tidak datang.”
Aloysius pun mengakhiri panggilan tersebut dan meletakkan ponsel ke ranjang pasien. “Kalau kalian tidak jadi menikah, lalu Lindsay hamil anak siapa?”
“Anakmu, lah ... emosi juga lama-lama memiliki anak bodoh dan tak berperasaan.” Delavar melempar satu sandalnya lagi.
Ada benda yang mendarat di kepalanya, membuat Aloysius tidak merasakan sakit. Sebab, saat ini ia tengah terkejut. “Benarkah itu anakku? Tapi, bagaimana bisa?”
“Sayang, maafkan aku. Kali ini benar-benar tidak bisa menahan gejolak amarah.” Delavar pun berdiri setelah meminta maaf pada sang istri. “Izinkan aku menghajar Aloysius, agar dia sadar dari kebodohan selama ini.”
“Jangan keras-keras, nanti dia kesakitan. Kasian baru sembuh dari sakit juga,” pinta Amartha.
“Aku hanya ingin menamparnya.” Tepat saat di samping sang putra, Delavar merubah posisi kursi hingga wajah Aloysius menghadapnya. Tanpa basa-basi, telapak mendarat di pipi hingga menimbulkan bunyi.
Aloysius tidak membalas karena saat ini otaknya sedang berpikir juga masih kaget.
“Tentu saja akibat kau meniduri dia ketika malam itu, apa tak ingat?!” Delavar meraih kerah kaos polo putranya, sedikit ditarik. Demi apa pun, Aloysius tidak bisa diperlakukan halus karena tak kunjung sadar juga. “Saat pagi hari aku pulang dan kau terang-terangan mengatakan bahwa baru saja meniduri Lindsay, ingat?”
Kejadian yang sudah berlalu mulai berdatangan memenuhi otak. Akibat dahulu sering bercinta tapi tak pernah hamil, sekarang baru sekali langsung jadi pun membuatnya tak percaya.
“Benarkah wanita bisa hamil walau cuma sekali buat?” tanya Aloysius pada mommynya.
Aloysius terasa lemas, entah kenapa mendengar berita kehamilan itu membuatnya menjadi campur aduk. Mau senang tapi terasa seperti ada yang menahan, ingin sedih namun itu berita bahagia.
“Jadi, apakah aku akan menjadi seorang ayah?” gumam Aloysius.
“Iya, ini adalah anakmu di dalam perut Lindsay, masih tujuh minggu.” Amartha memberikan hasil USG ke tangan sang putra, supaya Aloysius bisa merasakan bahagianya mau memiliki keturunan.
Namun, Aloysius hanya memandangi cetakan kecil berwarna hitam putih. Ada sebuah bulatan kecil yang belum membentuk bayi. Jemarinya mengusap itu, merasakan menggunakan hati. “Anakku?”
“Sekali lagi kau meragukan itu, ku jadikan gelandangan!” Delavar tingkat gemasnya sudah amat tinggi, sampai menoyor kepala Aloysius.
“Dan aku mengusir wanita yang sedang mengandung anakku? Memintanya pergi jauh agar tidak bisa melihatnya lagi.” Kini setelah tersadar, Aloysius mulai berkaca-kaca.
“Maka, carilah Lindsay, sesali perbuatanmu, tanggung jawab dengan apa yang kau lakukan padanya.” Amartha menepuk permukaan tangan sang putra. “Sebelum terlambat dan mungkin kau akan menyesal nantinya.”
Aloysius mengangguk, dia lekas berdiri, dan sebelum pergi, mencium kening mommynya. “Aku pergi dulu, akan ku temui Lindsay dan minta maaf padanya.”
“Ya memang harus begitu!” sahut Delavar.
Aloysius pun lekas keluar dengan tergesa-gesa, namun ia kembali masuk lagi karena melupakan sesuatu. “USG anakku, lupa.” Ia mengambil selembar kertas yang tertinggal di ranjang pasien.
Sebelum keluar untuk kedua kali, Aloysius menatap daddynya. “Dad, bolehkah aku merebut istri mudamu?” pintanya.
“Dia bukan istriku! Kau ambillah asal jangan dipermainkan.”