
Lindsay terharu melihat sosok pria itu mau menurunkan ego yang setinggi langit. Namun, entah kenapa dia selalu ingat bahwa Aloysius menyukai hubungan tanpa status, sementara dirinya ingin yang jelas-jelas saja. Benar di kehidupan sekitar banyak yang berdampingan tanpa ada status pernikahan. Tapi, dia tidak bisa melakukan hal tersebut dalam kurun waktu lama.
Dahulu, ketika ia memilih untuk pergi meninggalkan kehidupan Aloysius, Lindsay pernah merasakan sakit hati, cemburu karena melihat sesuatu yang berhasil membuat matanya panas. Tapi, berhubung hubungan mereka tidak memiliki ikatakan apa pun, sehingga tak ada hak untuk marah. Kepergiaannya saat itu supaya menjaga kewarasan diri agar tetap baik-baik saja setelah matanya menangkap Aloysius berciuman dengan wanita lain.
Lalu, sekarang pria itu sedang bersimpuh di hadapannya, meminta supaya ia tetap hidup bersama Aloysius. “Kenapa aku harus mau bersamamu?” tanyanya.
Meski Lindsay memang menginginkan pria itu. Tapi, dia tidak mudah langsung menerima. Butuh memastikan apakah hanya akan berakhir oleh rasa kecewa atau tidak.
Sakit juga dengkul kalau lama-lama bersimpuh dan menjadi tumpuan seluruh berat badan. Aloysius pun bangkit, yang penting tadi sudah menunjukkan kalau ia sangat bersalah.
Pria itu menangkup kedua pipi Lindsay, menatap lekat dan sangat dalam supaya melihat keseriusan yang saat ini dipancarkan Alosysius. “Hiduplah bersamaku, merawat anak kita bersama-sama, tertawa dan menangis bersama. Ayo lewati segala kehidupan berdua.” Dia menggeleng untuk meralat. “Bukan, tapi bertiga dengan anak ini.” Satu tangannya mengusap perut wanita itu.
Bibir Lindsay tersenyum. Jika ajakan itu diucapkan beberapa tahun lalu, mungkin akan langsung diterima. Tapi, kini kondisinya berbeda. Dia tidak ingin Aloysius hanya bertanggung jawab karena janin yang dikandung. Maunya memang tulus dari hati dan keinginan pribadi.
“Kau memintaku untuk tinggal bersamamu tanpa ikatan lagi?” Lindsay mencoba memperjelas.
“Tidak, aku akan menikahimu, mendedikasikan seluruh hidup untuk keluarga kecil kita.” Aloysius mengecup punggung tangan wanita yang selalu membuatnya dihantui rasa bersalah.
“Atas dasar apa kau mau menikahi aku?” Sejak tadi Lindsay memang membiarkan Aloysius memegang tangannya dan mengecup sesuka hati. Tapi, dia selalu berbicara dengan ketegasan.
“Hanya itu?” Alis Lindsay terangkat satu.
“Tentu tidak.” Jemari Aloysius menyingkirkan helaian rambut sang wanita yang tersapu angin. “Selama kau pergi, aku merenungkan semuanya. Ternyata bukan sebatas aku tidak bisa hidup tanpamu, tapi juga selalu memikirkanmu, kapanpun dan dimanapun.” Dia kembali menangkup pipi. “Aku mencintaimu, Lindsay Novak.” Jempolnya bergerak mengusap kulit wajah yang masih terasa sama. “Mau, ya, menikah denganku?”
“Tidak semudah itu kau bisa menikahi Lindsay.” Tiba-tiba suara Andrew yang sejak tadi menguping di dalam pun mulai menimbrung. Dia keluar dan muncul dari balik punggung Lindsay.
Aloysius langsung berdecak dan menatap sengit pria itu. “Mengganggu suasana saja kau,” gerutunya. Sekarang bisa mengumpat di depan orangnya.
Andrew berdiri di samping Lindsay. Dia merangkul wanita itu dengan sedikit menekan pundak agar tidak ditepis. Sementara tangan satunya terulur ke depan. “Kau harus bersaing denganku jika mau mendapatkannya.” Ada satu sudut bibir tersungging. “Andrew.”
Dia tidak menjabat tangan tangan itu. “Aloysius.” Namun sembari menggeplak telapak Andrew.
“Kau yakin mau bersaing denganku?” sinis Aloysius.
“Ya, kenapa? Kau takut?”
“Cih! Aku? Takut denganmu?” Aloysius tertawa meremehkan. “Bahkan kau bukan tandinganku.” Lalu, ia menunjuk sebuah truk yang sejak tadi terparkir di depan rumah Lindsay. “Kau hanya bisa membawakan dua tas belanjaan untuk dia, tapi aku mampu membelikan satu truk penuh.”