
“Iya, ayo, kita cari cincin pernikahan di sini saja. Murah dan bagus-bagus modelnya.” Lindsay melepas seatbelt.
Sementara Aloysius masih nampak kurang yakin. “Ya ampun ... seorang anak keturunan pebisnis kaya di Eropa, menikahi wanita, tapi cincin pernikahannya dibelikan yang biasa.”
“Jadi mau menikah, tidak? Kalau jadi, ayo turun. Jika tidak, maka pulang lagi saja.” Biasanya Aloysius yang mengancam orang, sekarang pria itu mendapatkan ancaman dari Lindsay.
“Iya, Sayang.” Meski egonya sedikit kurang terpuaskan oleh pilihan Lindsay. Tapi, Aloysius memilih mengalah. “Sebenarnya dia tahu atau tidak? Jika calon suaminya seorang pria yang kekayaan tak akan habis sampai keturunan berapapun,” gumamnya sangat pelan.
Masuk ke dalam, keduanya disambut hangat oleh sapaan karyawan toko. Lindsay berjalan paling depan, sementara Aloysius menjaga di belakang.
“Mau cari cincin couple untuk pernikahan,” ucap Lindsay sembari mata melihat perhiasan di dalam etalase.
“Mari, sebelah sini.” Karyawan itu mengajak calon pembeli menuju etalase di tengah. Dia mengeluarkan beberapa cincin pasangan. “Ini model paling baru.” Mendorong ke depan yang dimaksud.
Lindsay masih melihat model yang simple dan masuk ke seleranya. Berbeda dengan Aloysius. Pria itu langsung menanyakan pada karyawan toko.
“Coba tunjukkan yang paling mahal,” pinta Aloysius.
“Ini, Tuan.” Karyawan memberikan barang yang dimaksud. Cincin dengan berlian besar di tengah dan samping kanan kiri ditaburi berlian kecil-kecil untuk wanita, sementara model pria hanya biasa polos dan menggunakan satu berlian saja di tengah.
“Oke, aku pilih itu saja.” Padahal Lindsay belum menentukan. Aloysius justru mendahului. Meski saat tahu harganya juga tetap terjangkau, jauh dari harga cincin pernikahan di keluarganya. Tapi, sudahlah, bagaimana lagi, calon istri terlalu sederhana orangnya.
“Jadi, apa gunanya aku ikut jika akhirnya kau memilih sendiri?” Pertanyaan Lindsay sangat lembut. Dia menunjuk cincin yang diinginkan. Sangat simple sekali. “Aku maunya ini.”
Calon mempelai dengan dua pilihan cincin berbeda. Entah siapa yang mau mengalah.
Kening Aloysius langsung berkerut. Bisa-bisanya mau menikah dengan manusia beruang banyak, tapi pilihan perhiasan justru paling murah.
Menghembuskan napas. “Oke, bungkus pilihan calon istriku,” putus Aloysius. Mendapatkan senyuman dari Lindsay.
“Baik, saya proses pembayarannya, ya.”
“Kau duduk saja dulu, tunggu di kursi,” pinta Aloysius.
Lindsay mengangguk menurut, membiarkan calon suami membayar.
Tapi, Aloysius memiliki tujuan lain. “Tolong cincin couple yang paling mahal tadi juga dihitung sekalian. Aku masih mampu membayar itu.” Suaranya berbisik, nyaris tidak terdengar kalau ia tak mendekatkan kepala.
Pria memang haus oleh ego yang ingin selalu terpenuhi. Karena Aloysius mau memenuhi dua keinginan yang berbeda. Jadi, ambil saja dua-duanya, daripada bingung. Urusan juga beres, tak akan ada baku hantam atau adu mulut. Hanya berlaku bagi orang-orang berdompet tebal dengan isi kartu debit melimpah, apa lagi credit card yang tanpa limit.
Selesai, Aloysius menenteng satu papperbag berisi dua kotak cincin couple. Lindsay tidak tahu karena ia tidak memberikan pada sang wanita.
“Kita beli gaun sekalian?” tanya Aloysius.
“Em ... pakai milik mendiang Mommyku saja, ya? Supaya bisa merasakan kehadiran orang tuaku saat pernikahan,” pinta Lindsay.
Tangan menahan pintu mobil. Tatapan mata Aloysius terpatri oleh sosok wanita yang selalu mencuri perhatiannya. Dia sampai lupa jika Lindsay adalah yatim piatu. “Oke, setuju.” Kali ini tidak ada penolakan sedikit pun karena menyangkut mendiang calon mertua yang bahkan belum pernah dilihat.