Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 23



“Em ... sangat sulit mencari wanita yang menyukai race car, jarang ditemukan. Tapi, akan ku usahakan.” Dakota pamit undur diri. Untunglah perbuatan spontannya tadi tidak membuat karirnya harus berakhir. Pesona bosnya memang membuatnya gemetar, wajar saja kalau mampu membuat ia menyerahkan diri. Mungkin wanita lain juga akan melakukan hal yang sama seandainya diajak tidur seorang Aloysius Finlay Dominique.”


Setelah kepergian sekretarisnya, Aloysius bergumam sendiri. “Populasi wanita memang banyak, tapi yang menyukai race car bisa dihitung jari.”


Pria itu jadi mengulas kembali, ingatan akan masa lalu datang tanpa permisi. Mungkin akibat tubuhnya lelah dan sedang tidak sehat. Aloysius memejamkan mata, wajah Lindsay hadir dalam mimpinya.


Empat tahun lalu, mungkin bukan sekadar sudah pernah melakukan hubungan badan saja yang membuat Aloysius menyukai Lindsay. Dia merasa ada hal yang berbeda hingga akhirnya memutuskan untuk mengenal lebih dekat.


Menjalani setiap hari bersama membuat Aloysius tahu bahwa Lindsay yang cantik dan cocok kalau menjadi model, ternyata memiliki hobi sangat lain daripada wanita pada umumnya. Lindsay adalah seorang pembalab, race car.


Biasanya memiliki wajah cantik dengan tubuh sempurna pasti memilih untuk bekerja dibidang yang sangat identik oleh wanita. Tapi, Lindsay tidak. Justru apa yang digeluti adalah hal sangat berbahaya. Balapan mobil bisa mengakibatkan kecelakaan fatal, cidera, dan sebagainya. Namun, sudah tahu risiko besar, tetap saja diambil.


Aloysius pernah menemani Lindsay ketika mengikuti sebuah kejuaraan. Aura ketika di luar arena dan di dalam sangatlah berbeda. Wanita itu terlihat lebih seksi dan menantang saat berada di balik wearpack safety khusus untuk pembalap.


Lindsay dan arena balap sangat menawan. Dari situ Aloysius merasa bahwa hatinya mulai terpikat. Sehingga memilih tidak pernah mencari sosok lain jika membutuhkan sesuatu. Dia sangat senang dan nyaman bersama satu wanita, walau tanpa ikatan.


Tapi, nyatanya, Aloysius tidak merasakan hal seperti itu. Memiliki ikatan justru membuatnya bagaikan seorang tawanan. Kekasihnya terlalu mengekang, sehingga membuatnya yang masih muda jadi kurang berekspresi. Menuntut selalu ditemani, sementara ia juga butuh kehidupan pribadi. Sering marah hanya karena cemburu karena berbicara dengan sepupu wanitanya atau lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga. Bertengkar saat ia malas memberikan kabar. Masih banyak lagi hal-hal yang membuatnya enggan serius dan terikat. Setelah berhasil putus, dia tidak pernah coba-coba menjalin kasih dengan siapa pun.


Bagi Aloysius yang memiliki pengalaman buruk akan suatu hubungan, dirumitkan untuk hal-hal cinta sangatlah dihindari. Begitulah sebabnya dia tidak pernah memberikan kejelasan pada Lindsay.


Tapi, jujur kalau bersama Lindsay terasa nyaman. Tidak pernah ada kata cemburu, bertengkar, dan sebagainya. Setelah dipikir-pikir, ternyata justru dirinya yang jealous pada wanita itu. Anggaplah kalau dia memang egois.


Aloysius terperanjat saat merasakan ada tangan yang menggoyangkan lengannya. Mata terbuka lebar dan mendapati sekretarisnya.


“Maaf mengganggu, tapi ini sudah malam. Kau memiliki jadwal dinner bersama klien,” beri tahu Dakota.


Aloysius hanya mengangguk, melihat jam digital di meja kerja. Pukul tujuh, mimpi tentang Lindsay membuatnya terbuai dan nyenyak. “Sudah menemukan pasangan untukku?”