
Selesai mencoba, hanya gaun yang dibawa turun. Sementara setelan jas tetap dibiarkan disimpan.
Aloysius yang membawakan, lumayan berat juga karena kain yang dipakai adalah sutra bagus.
Ketika kaki sampai di anak tangga paling bawah, keduanya menengok ke kanan dan kiri. Mendengar sesuatu, bunyi dering berkali-kali.
“Oh ... itu suara ponselku.” Sejak tinggal bersama Lindsay, Aloysius jadi jarang bermain itu karena sang wanita juga tak pernah mengutak-atik alat komunikasi.
“Carilah, mungkin ada yang menghubungi penting.” Lindsay mengambil alih gaun dari tangan calon suami. “Aku cuci dulu.”
Sementara Lindsay menuju dapur, Aloysius ke kamar. Layar berukuran enam koma tujuh inch menyala. Dia segera menekan logo bulat berwarna hijau.
“Apa?”
“Aku sudah menemukan dokumennya, coba dicek foto yang ku kirim, benar itu atau tidak?” Ternyata Dakota yang menghubungi.
“Sebentar.” Aloysius membuka pesan, lalu kembali menempelkan ponsel ke telinga. “Iya, itu.”
“Oke, besok aku ke peternakan. Ada yang harus dibawa lagi atau tidak? Aku tidak mau bolak-balik dalam waktu dekat.”
“Oh, setelan jas, warna putih tulang.”
“Oke, ada lagi?”
“Tidak.”
“Sip.”
Panggilan usai. Enak sekali jadi Aloysius, tinggal perintah, semua beres. Mau menikah pun tidak perlu repot-repot menempuh perjalanan jauh mengambil dokumen persyaratan pernikahan, dan busana formal untuk prosesi.
...........
“Kau tidak perlu ikut ke kandung. Di rumah saja siapkan makan siang.” Aloysius menahan gerakan tubuh Lindsay yang hendak berjalan keluar bersamanya.
“Kenapa? Aku ingin melihat juga kegiatan di kandang.”
“Sudah mau menikah denganku, maka kau harus percaya pada kinerja calon suamimu. Sekarang mengelola sapi juga bisa.” Padahal, Aloysius hanya tak mau Lindsay bertemu Andrew. Posisi tidak aman kalau janji pernikahan belum terucap.
Setelah memberikan kecupan, Aloysius pergi seorang diri. Dia seperti sudah menyatu dengan kehidupan di peternakan.
Waktu mulai bergerak maju. Lindsay menyiapkan untuk makan siang sesuai permintaan calon suami. Ketika berkutat di dapur, telinga mendengar ada suara ketukan dari pintu. Ia menjeda sejenak, lalu membukakan pada tamu yang baru saja datang.
Si ibu hamil membeku ketika melihat ada wanita di depan mata. Siapa lagi dia?
“Selamat siang, Nona Lindsay Novak?”
“Benar, kau?”
“Dakota, sekretaris Tuan Aloysius Finlay Dominique.”
“Oh ... iya. Mari masuk.” Lindsay mempersilahkan, membuka lebar pintu agar tamunya ke dalam.
Meski sudah pernah dihubungi oleh sekretaris Aloysius saat meminta tolong untuk menjadi teman kencan, tapi ini adalah pertemuan pertama bertatap muka secara langsung.
“Bosku apakah ada?” tanya Dakota sembari duduk di sofa.
“Sedang di kandang.” Lindsay menuju dapur untuk mengambil minuman kemasan di kulkas supaya lebih cepat.
“Masih lama kembali ke sini?”
“Sepertinya.” Lindsay meletakkan susu kemasan ke atas meja. “Diminum.”
Memang sejak tadi haus. Dakota langsung mencoblos sedotan dan meneguk sampai habis. “Boleh aku menyusul ke sana? Ada dokumen penting yang tidak bisa ditunda.”
“Sebentar. Aku hubungi salah satu karyawan supaya menjemputmu ke sini. Perjalanan ke sana butuh menggunakan kendaraan yang bisa offroad.” Lindsay pun beranjak pergi, lalu menelepon asrama. Biasanya tidak semua bertugas di jam yang sama.
Kembali lagi dan menemani tamunya, Lindsay tidak banyak berbincang karena sekretaris Aloysius mengotak atik ponsel. Jadi, dia cukup diam dan menanti jemputan datang.
“Itu sepertinya, diantar oleh karyawanku, ya?” Lindsay menunjuk pintu agar tamunya lekas mengikuti.
Dakota meninggalkan papperbag besar di ruang tamu. Cukup membawa dokumen yang harus ditanda tangan segera. Berjalan di depan Lindsay, ia mengikuti seorang pria yang berpakaian lusuh.
Semakin di lihat dari postur tubuh, model rambut dan warnanya jika dari belakang, Lindsay seketika membulatkan mata saat teringat kejadian di club malam yang membuatnya ragu dengan Aloysius. “Wanita itu, sepertinya orang yang dicium calon suamiku.” Tidak terlalu yakin, dia bergumam dengan sedikit keraguan.