
“Katanya tidak suka baunya, tapi kenapa jendela tidak dibuka?” Aloysius mengungkit lagi penolakan Lindsay yang tadi di kandang sapi. Sekarang mereka berada di dalam mobil, mau kembali ke rumah.
“Terlanjur ikutan bau, kau tadi sudah menempel di badanku,” kilah Lindsay. Dia menunjuk bagian kaos yang ada bekas basah.
“Uh ... itu tanda cinta dariku.” Aloysius mengusap baju Lindsay. Dia melakukan hal tersebut karena tepat di bagian dada. Sambil menyelam minum air, tak apalah kembung, yang penting bisa mencuri kesempatan. Kapan lagi merasakan dada sang wanita yang sudah lama tidak ia jamah.
Lindsay menepuk punggung Aloysius saat pria itu bukan lagi menapak pada luar kaos, tapi mulai menyusup ke dalam. “Alo ... singkirkan tanganmu!”
Meringis bagai manusia tak berdosa. “Aku hanya ingin tahu, bentuknya masih sama atau tidak seperti dahulu.” Ada saja alasan yang diberikan Aloysius. Tangan pun ditarik dan mencengkeram stir kemudi lagi.
“Tentu saja sama, sejak kapan bisa berubah.” Lindsay sedikit galak untuk hal itu. Bukankah dia sudah mengatakan kalau tekadnya tidak mau terlihat murahan lagi? Ya begitulah caranya membentengi diri walau sebenarnya tingkat gairahnya juga cukup tinggi dan mudah terpantik kalau titik sensitif dipegang.
Seperti saat tangan Aloysius tadi yang main pegang dada. Hanya begitu pun mampu membuat Lindsay berdesir. Tapi, dia adalah wanita yang bisa menutupi meski hasrat begitu besar.
“Siapa tahu volume berubah. Kan sedang hamil anakku.”
Lindsay menggeleng dan tidak mampu memberikan tanggapan apa pun. Sebab, apa yang dikatakan memang benar. Sejak mengandung, bagian dada sedikit lebih besar dan sering merasakan sakit.
“Sudahlah, fokus ke jalan.” Lindsay mendorong pipi Aloysius yang sedang menatapnya dengan wajah menyebalkan. Apa lagi alis yang naik turun ditambah mata menyorot ke dada. Dia sangat kenal mimik tersebut.
“Apa? Aku tak ingin mendengar kalau hal-hal mesum.” Belum juga diberi tahu, sudah memberikan peringatan saja.
“Pikiranmu padaku seburuk itu, kah?” Telapak kekar dan lebar milik Aloysius mendarat di puncak kepala sang wanita. Ia mengacak-acak si rambut pirang hingga kuncir kuda yang tadinya rapi pun berantakan.
“Ish ... cepat katakan.” Aloysius itu selalu berhasil membuat hidup Lindsay berwarna. Tidak memiliki orang tua bukanlah hal yang berat kalau setiap hari berinteraksi dengan pria itu.
Alasan Lindsay menyukai Aloysius juga karena bisa membuatnya tertawa, senang, manja. Dibalik semua sifat buruk sosok itu, ada hal yang tak pernah bisa ia dapat dari orang lain. Bahkan termasuk Andrew yang terang-terangan mendekatinya. Bersama Andrew itu terlalu datar, memang perhatian, tapi entah kenapa hati kurang cocok.
“Tiap kali di dekatmu, aku selalu bahagia. Adrenalin jantung dan darah juga saling berkejaran.” Aloysius menghentikan mobil saat sudah sampai di depan rumah berlantai dua.
Menengok ke kiri, apa mungkin ada yang namanya ikatakan batin? Padahal Lindsay baru saja selesai memikirkan tentang hal yang sama. Lalu Aloysius mengatakan padanya secara langsung. Mungkinkah memang sehati? Atau kebetulan?
Sementara Aloysius menangkap hal lain dari keterkejutan sang wanita. Meraih kedua tangan dan mengecupnya sedikit lebih lama. “Aku tidak membual, semua adalah murni apa yang dirasakan selama ini.”
Lindsay lekas menarik diri dari dalam mobil. Dia keluar mendahului. Aloysius yang dihadapi mulai berbahaya. Kalau terlalu lama bisa-bisa ia akan luluh dan menyodorkan diri secara cuma-cuma seperti dahulu.
Napas Aloysius dihembuskan berat, mendorong badan ke sandaran jok, menikmati punggung wanita yang kini mulai masuk ke dalam rumah. “Apa aku terlalu cepat mendekatinya? Dia terlihat ketakutan. Atau mungkin sekarang wajahku jelek dan ada jerawatnya? Bisa jadi tidak menarik lagi seperti dahulu, padahal Lindsay tak pernah menghindariku seperti ini kecuali aku yang mengusir.”