
Perlahan kesadaran Aloysius mulai kembali. Mengerjapkan kelopak mata pelan dan sedikit demi sedikit bisa melihat cahaya terang lagi. Dunianya tidak gelap seperti saat terakhir kali. Namun, pusing tentu masih melanda, perut juga belum sepenuhnya baik-baik saja.
Aloysius diam sejenak, menatap langit-langit ruangan berwarna putih. Dia tengah mengumpulkan seluruh nyawa yang seperti baru saja berceceran. Kemudian mengangkat tangan kiri karena merasa ada sesuatu di sana, infus.
“Memalukan, pasti aku pingsan saat di depan klien,” gumam Aloysius, lebih ke arah merutuki diri sendiri.
Bukan di sebelah kiri saja ia merasakan sesuatu, bagian kanan juga. Seperti sebuah genggaman dari seseorang. Kini Aloysius berpindah menatap ke arah satunya. Rambut pirang menutupi wajah, tapi jelas tahu siapa itu. Lindsay. Menghembuskan napas kasar, kenapa pula harus wanita itu yang terjaga di sampingnya. Andai belum menikah dengan daddynya, pasti akan senang kalau dirawat oleh orang yang dicintai. Tapi, semua telah berubah, berbeda, tidak seperti dahulu.
Aloysius pun menarik tangan secara kasar hingga terlepas dari genggaman Lindsay. Gerakan itu membuat sosok yang tengah terlelap jadi bangun.
Lindsay mengucek mata. “Kau sudah siuman?” Merapikan rambut supaya tidak menutupi pandangan. “Apa kau merasa lebih baik sekarang? Dua hari tidak sadar, aku sangat khawatir.” Dia memegang kening si pasien, mengecek apakah suhu telah kembali normal atau masih panas.
Buru-buru ditepis, Aloysius hanya berusaha membatasi diri supaya proses melupakan berhasil. “Pergilah, aku tidak ingin melihat wajahmu!” usirnya dengan suara rendah penuh tekanan.
“Oke, aku akan meninggalkanmu sendiri. Tapi, setelah dokter mengecek keadaanmu.” Lindsay menekan tombol untuk memanggil tenaga medis.
“Terserah.” Aloysius memalingkan wajah, enggan menatap wanita itu.
Tak berselang lama, dokter pun masuk ke dalam. Melakukan tugasnya untuk mengecek kondisi pasien. Aloysius hanya diam dan pasrah saja. Setelah itu baru bertanya. “Aku sakit apa?”
“Gastritis akut, Tuan. Anda pasti jarang makan dan ditambah banyak pikiran, benar?”
Mengangguk, memang begitu adanya. Aloysius tak pernah merasa lapar, sehingga entah kapan terakhir kali makan.
“Mulai sekarang harus teratur makannya, ya. Kondisi lambung Anda sangat parah.”
“Harus ingat.” Dokter pun menatap Lindsay. “Tolong kekasihnya jangan dibiarkan tak makan lagi, ya?”
Lindsay mengangguk. “Baik.”
Namun, Aloysius segera meluruskan. “Dia bukan kekasihku, tapi istri daddyku.”
“Oh ... maaf, saya tidak tahu.” Dokter itu mengangguk, lalu pamit keluar.
“Meskipun sedang sibuk, kau seharusnya tetap menjaga kesehatan. Minimal makan, jangan sampai abai,” omel Lindsay.
“Berisik! Keluar sana!” Aloysius menunjuk pintu. “Aku tidak butuh kau di sini!”
Tapi, wanita itu tetap tidak menurut. “Kembaranmu sedang ke luar negeri, aku sudah menghubungi mereka dan belum bisa pulang secepatnya. Daddymu menjaga mommymu sepanjang hari. Siapa lagi yang akan merawat?”
Perdebatan itu berhenti saat pintu terbuka dan seorang perawat masuk membawakan makanan karena mendapatkan informasi dari dokter bahwa pasien VVIP satu telah siuman. Setelah kembali hanya berdua, barulah perbincangan berlanjut.
“Apa kita tidak bisa berdamai saja? Anggaplah aku teman yang sedang merawatmu, setidaknya sampai kau sembuh,” pinta Lindsay.
Bibir Aloysius tersenyum miring. “Tidak, bahkan aku tak akan menganggapmu pernah ada dalam hidupku!”
Cukup menyakitkan, tapi Lindsay hanya menanggapi dengan sebuah senyuman. Sejak dahulu sampai sekarang, ia tidak pernah memiliki hak untuk marah atas segala yang dilakukan oleh Aloysius. Bahkan termasuk saat kejadian satu tahun lalu yang membuatnya memutuskan untuk pergi menenangkan diri.