
Semua usaha yang Aloysius lakukan gagal semua. Entah merebut Lindsay dari daddynya, kabur untuk menenangkan diri. Apa pun rencananya tidak ada yang berhasil. Dia merasa hidup terlalu tak adil.
Akhirnya tak jadi ke luar negeri. Aloysius tetap di Finlandia. Tapi, sementara tinggal di mansion kakeknya. Mungkin menjauh dari keluarganya bisa sedikit memberikan ketenangan hati.
Hari-hari yang dilewati sangat tak ada arti baginya, Aloysius tidak menjiwai dalam bekerja. Bahkan ada beberapa klien yang membatalkan kerjasama karena ia kurang fokus disetiap pertemuan. Rugi sudah pasti. Namun, mau bagaimana lagi? Rasanya tidak ada semangat.
Pulang kerja juga selalu gontai masuk ke dalam mansion. Dia ambruk ke sofa di ruang santai. “Argh ...!” Aloysius hanya berteriak meluapkan segala jalan hidup yang tidak mulus.
Diora, nenek Aloysius pun mendekati sang cucu saat mendengar kefrustasian. Sampai menggelengkan kepala ketika menyaksikan Aloysius nampak buruk. Kurang lebih ia sudah mendengar cerita dari suami tentang permasalahan yang sedang terjadi.
Untuk menenangkan, Diora duduk di satu sofa yang sama. Menepuk pelan lengan cucunya. “Mau peluk?” tawarnya.
Mengangguk, Aloysius merubah posisi duduk dan menghambur ke dalam dekapan neneknya. Lumayan membuat segala gundah di hati lebih terasa nyaman. Selama ini dia merasa pusing sendirian karena tidak ada satu pun yang mampu mengerti jalan pikirannya.
“Aku tahu kau sangat ingin menumpahkan keluh kesah pada mommymu, kan?” Diora sembari menepuk punggung kekar tapi kini sedang rapuh.
“Ya, sayangnya Mommy belum bisa diajak komunikasi.” Aloysius menikmati bagaimana tubuh tua yang menyalurkan kasih sayang padanya. “Kepalaku setiap hari rasanya berat sekali, aku pusing, dan seperti tidak ada jalan keluar untuk segala sakit hati ini. Aku sampai lupa bagaimana rasanya bahagia.”
Perlahan mengurai pelukan, Diora menangkup kedua pipi cucunya. “Pria selalu lemah jika berurusan dengan wanita. Dan wanita pasti menjadi sumber permasalahannya.”
“Grandma sudah tahu kalau daddyku me—” Aloysius tak jadi melanjutkan karena telah dijawab dengan anggukan kepala.
“Aku paham kenapa kau selalu terlihat putus asa, kehilangan gairah untuk melakukan segala sesuatu. Daddymu menikahi wanita yang kau sukai, kan?”
“Mau mendengar nasihatku?”
“Apa?” Namun matanya tidak menatap nenek, melainkan menyaksikan langit-langit ruangan yang amat tinggi.
“Jika kau ingin merasakan bahagia, maka abaikan rasa sakit itu.” Telapaknya sembari mengusap rambut lebat sang cucu. “Kau merasa selalu bersedih karena terus memikirkan luka di hatimu, menyimpan rasa tidak terima hingga hal itu yang membelenggu kebahagiaanmu.”
Aloysius tidak menampik. Semua yang dikatakan adalah benar. Sampai detik ini ia terus memikirkan tentang Lindsay. Dan hal itu selalu berhasil membuatnya teringat kalau wanita itu adalah istri daddynya.
“Lantas, aku harus bagaimana?”
“Maafkan dan terima saja kenyataannya. Carilah wanita lain, masih banyak di luar sana yang menginginkanmu dan memahamimu.” Diora menepuk pundak Aloysius supaya pria itu paham. “Cucuku tampan, kau juga baik, loyal, tidak pelit.”
“Tapi aku brengsek.” Aloysius mendengus saat mengatakan itu.
“Siapa yang mengatakannya?”
“Tidak ada, tapi pria brengsek selalu ditinggalkan, bukan? Itulah sebabnya Lindsay memilih daddyku.” Aloysius mengambil remot, lalu menekan tombol power untuk menghidupkan televisi. Siapa tahu melihat hiburan di benda berukuran besar itu bisa mengurangi sedikit rasa campur aduk di dalam dada.
“Berarti kau harus berubah kalau sadar bahwa sikapmu tidak baik. Jika terus mempertahankan sisi buruk, maka tak akan ada yang mau denganmu. Semua wanita pasti menjauh dan memilih orang lain untuk dijadikan pasangan.”