Snatch My Daddy’S Wife

Snatch My Daddy’S Wife
Part 104



Aloysius melambaikan tangan saat rombongan mobil keluarganya mulai bergerak menajuhi rumah Lindsay. Itu memang hari yang ia tunggu. Mendapatkan waktu berdua untuk menikmati suasana pengantin baru. Walau sudah telat empat hari dari selesai pengucapan janji. Tapi, sudahlah, daripada tidak sama sekali.


“Ayo kita ke kamar,” ajak Aloysius. Menggendong tubuh istrinya dengan tangan kiri berada di belakang leher sang wanita, dan kanan di lipatan lutut.


Lindsay otomatis melingkarkan tangan di leher kokoh suaminya supaya tak jatuh. “Kau pasti menahan diri selama ini, ya?” Terlihat dari pancaran mata yang sangat menginginkan adanya penyatuan, gairah mencuat jelas dari sorot mata gelap itu.


“Oh jelas. Aku tersiksa saat menahan diri.” Terang-terangan saja. Aloysius memang hampir frustasi beberapa hari terakhir. Ketika hasrat yang lama sudah dipendam tak bisa tersalurkan juga. “Tapi, tenang, hari ini bisa dipuaskan.”


Aloysius mendorong pintu kamar Lindsay dengan menggunakan punggung. Keduanya kini berada di dalam, dan ia merebahkan si ibu hamil secara pelan di atas ranjang. Duduk sebentar di tepian untuk membelai setiap helai rambut pirang. “Apa kau juga sama? Merindukan kita tanpa busana?”


Memang dasar Daddy Bonsai. Mentang-mentang sudah resmi menjadi suami istri, pertanyaan yang dikeluarkan frontal sekali.


Lihatlah pipi Lindsay sampai bersemu malu saat kepala mengangguk membenarkan dugaan. “Aku menahan untuk tidak menurunkan harga diri sebelum ada kejelasan hubungan.”


“Kalau begitu, mari kita tuntaskan hari ini dan seterusnya. Balas segala rasa rindu yang selalu didambakan untuk bersama.” Aloysius tidak sabar. Dia mengangkat bagian bawah sweater Lindsay hingga kini perut buncit terekspose di depan mata. Meloloskan kain tebal itu dari tubuh sang wanita supaya tidak menghalangi pandangannya untuk menyusuri seluruh lekukan yang begitu memanjakan mata.


Lindsay merubah posisi menjadi duduk. Berganti dirinya yang melakukan hal sama. Ia melepaskan setiap kancing kemeja yang dipakai oleh suami. “Sengaja pakai baju yang ada kancingnya, ya?”


Aloysius meringis. “Tahu saja kau.”


Terkekeh, kepala Aloysius menunduk untuk mencium perut istrinya. “Daddy jenguk, Sayang. Kita bertemu perdana di dalam, ya,” bisiknya.


Setelah itu tangan kekar melepas pelan kain yang menutup dari bagian pinggul ke bawah. Aloysius melakukan pada dirinya juga. Jadi, sekarang keduanya sama-sama polos.


Tidak ada yang terlihat malu-malu dengan menutupi bagian-bagian tertentu. Terlalu biasa bagi Lindsay dan Aloysius untuk melihat lekuk tubuh satu sama lain. Hanya saja kali ini pandangan mata sang pria nampak berbeda.


Aloysius tidak buru-buru melakukan aksi menghentak wanitanya. Tapi, membiarkan Lindsay terbaring sejenak. Ia ingin menelusuri seluruh bagian dari ujung kepala sampai kaki. Mencari letak perubahan.


Puas, barulah Aloysius mulai mengungkung istrinya. Dia merendahkan posisi badan, menahan supaya tidak menindih bagian perut. Kepalanya berhenti tepat di samping telinga istri. “Dadamu, semakin besar. Apakah ini pertanda kalau aku boleh menikmatinya?”


Mengangguk. “Lakukan saja semaumu, asal penuh kelembutan.” Lindsay merentangkan kedua tangan dan melebarkan paha kanan kiri. Mempersilahkan suaminya menjalankan aksi yang memang mereka inginkan sejak lama.


Mendapatkan lampu hijau, Aloysius segera melancarkan pemanasan supaya lebih relax. Walau sejak tadi dirinya yang sudah menegang di bagian bawah sana. Tahu, lah ... tandanya mengeras.


“Baby Bonsai, Daddy datang.”